Memang dasar mata-mata bang Jul berkeliaran dimana-mana. Selalu saja bisa mencium bau-bau apek kami. Tak di terminal, kini di TPA Jurah tempat kami berbisik-bisik, mereka ada pula. Lihat saja itu Bang Nuki dengan tampang sok sangarnya tertawa melebihi kuda mendekati kami dari arah belahan tumpukan sampah di sebelah kirinya.
Dan kami, meski keringat dingin tengah merayap di bawah ketiak tetap berdiam diri memaku satu sama lain.
“Tak ada gunanya kita berlari” bisik samsul padaku.
Ya memang tak ada gunanya berlari jika Bang Nuki sudah muncul sejauh tiga meter dari kami. Toh sepuluh meter saja dia tetap berhasil menangkap kami. Ini dari pengalaman yang sudah-sudah. Aku dan Samsul gemetar, menebak-nebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Mungkinkah sulutan rokok kembali menghiasi setiap sudut tubuh kami? Atau ngilu yang menyayat-nyayat seperti babi dikuliti? Dan…
Sedetik kemudian, leherku mengeras. Sekuat tenaga aku berusah melepas jerat tangan Bang Nuki yang melingkari leherku.
“Ohk…hk…hk…” aku meronta, napasku tak bisa keluar.
Bang Nuki medengus. Matanya seolah akan melompat dari tempatnya. Dasar mata gila!
“Apa Heh? Mau minta ampun lu? Emang lu tahu apa kesalahan lu kampret? Kalo emang lu tahu, lu kagak bakalan berani ngelanggar peraturan Bang Jul.”
Bongkahan Kristal menggenang di mataku, aku tak tahan. Tak kuat.
“Am…pun B…ng?”
“Kempro!” Samsul megap-megap di sebelah kiriku. Kondisinya sama sepertiku. Betapa terlihat tak berdayanya ia. Tatapan matanya melahirakan rasa ibaku. Ia dua tahun lebih muda dariku tak pantas mendapat perlakuan seperti itu. Suaraku tak bisa keluar. Mata sahabatku mulai meredup.
“Ccc…c…” benar-benar aku tak bisa berucap. Cukup maksudku. Cukup Bang. Kami sudah cukup menderita. Semoga ia bisa menangkap sinyal batin ini. Air mukaku menampakkan belas kasihan dengan sendirinya.
Namun cengkeraman itu semakin menjadi. Sambil menumpahkan makian yang sudah tak kupahami lagi apa maksudnya. Aku tak bisa mendengar. Aliran darahku berhenti mengalir. Menyetop panca indera berfungsi. Ku harap ini hanya sementara. Aku masih ingin hidup. Tapi ia semakin menggila.
“ini belum setimpal anak bebek! Masih mau lagi heh?”
Aku lemas, napasku tercekat. Samsul, sudah tak bergerak lagi. Tak ada suara. Brengsek. Ia tak jua melepas jerat tangannya. Padahal Samsul sudah dalam keadaan seperti itu.
Melihat mataku meremang ke arah Samsul. Bang Nuki pun mengalihkan pelototannya pada Samsul. Sedetik kemudian ia melepasakan kami.
Samsul tergeletak di bawahku. Kugoyangkan kedua bahunya. Tak ada reaksi. Air kian menggenang di mataku. Tak percaya dengan dugaan yang kini menekan batok kepalaku.
“Samsul, bangun. Kamu jangan mati”
Bang Nuki terkekeh.
“kalo lu kagak mau kayak dia nih… jangan coba lu jajan kaya gini lagi.”
“kami kagak jajan bang”
“Alah… lu kira gua kagak tau tu permen apaan tuh yang ada di mulut lu anak bebek?” dia mengangkat kerah bajuku lagi. “bangsat!” di dorongnya tubuhku dan pergi setelah merebut sekantong receh dalam genggamanku.
Melihat Samsul di pangkuanku, membuatku tak bisa berdiri mengejar tubuh penuh tattoo itu. Sebenarnya ingin sekali aku mengejar dan menancapkan paku kecekanku di kepalanya yang bau kutu itu. Tapi… biarlah ia berlalu, melihatnya pun tak ingin lagi.
***
Matahari Jakarta di bulan Mei ini membuat darah kepalaku mendidih. Entah sudah mencapai berapa derajat celcius sekarang. Keringat pun melumuri sekujur tubuh. Mengkilap dan bau.
Aku berhenti sejenak, di bawah jembatan layang. Tetap menatap lurus ke arah padatnya jalan raya. Sudah sejak pagi aku berjalan tak tentu arah. Jangan dipikir aku mengejar bus lagi. Apalagi bola. Aku hanya berjalan meyusuri pinggiran jalan raya.
Aku lelah… dengan hidup ini. Sudah tak adakah pelindung bagiku? Lalu dimanakah Tuhan yanag katanya Maha Penolong? Tak ada harapan pada manusia. Mereka sudah seperti binatang liar yang tak menampakkan keramahan sedikit pun. Bahkan orang-tuaku pun tidak. Aku tak tahu siapa orang tuaku. Ketika ku mulai mengenal lingkunganku dulu, aku hanya tahu kalau aku harus selalu menyetor uang tiap harinya pada Bang Jul.
Ah…
Hari ini aku tak bersemangat sekali pergi mengamen. Biarlah aku kelaparan. Aku hanya ingin menatap langit. Sambil mencari sesuatu di sana. Entah apa itu, tak peduli saat terik. Mungkin sampai malam pun.
***
Kali ini, dengan langkah yang sangat berat sekali, aku mencoba menaikkan kaki di bus tempat biasa aku menjalankan misiku. Dengan lagu yang sama. Cukup bosan juga. Sebenarnya aku sudah malas sekali melakukan ini. Tapi mata pisau yang Bang Jul perlihatkan padaku tadi malam membuatku terpaksa melakukan ini lagi. Aku tak mau mati sia-sia. Bahkan telah ku temukan jawaban itu di tengah langit tadi malam. Oh… ya Tuhan Kau memang pintar menyembunyikan hikmah. Semoga Aku termasuk orang cerdas yang telah berhasil menguak hikmah itu.
Bus sudah berjalan. Kulihat kakak itu lagi. Yang dulu. Yang selalu memberiku permen tiap kali aku bernyanyi. Masih dengan jilbab birunya. Tapi kini bermotif kotak-kotak. Apa yang tak dia tahu tentang pikiranku adalah mungkin dia memang suka warna biru.
Aku belum mulai bernyayi. Tiba-tiba saja, ada ide yang bersinar melintas di kepalaku. Segera ku tangkap. Dan…
Tuhan memang baik !
***
“Apa-apaan ini?” Bang Jul membentakku dengan dentaman kaki yang membuat rumah kardusku bagai baru ditimpa gempa Aceh.
Aku masih dengan mata yang mengikuti arah gerak tubuh si Brewok ini. Sambil menunduk, dan mulut yang mengatup. Tapi sebenarnya dalam hatiku sungguh mengutuk. Segala sumpah serapah tak berani keluar dari mulut.
“saya Cuma dapat itu bang. Mau bagaimana lagi. Saya nggak bisa maksain itu penumpang bus.” Akhirnya hanya kata ini yang bisa dirajut pita suaraku. Aku sedikit takut. Terbayang-bayang pisau seperti kemarin malam.
“cuih! Buat apa ini? Masa’ hasil mengamen seharian Cuma dapat setumpuk permen kayak beginian? Hahhhh… bangsat!” kerah bajuku kini bersarang lagi di tangan bau darahnya. “lu kira bisa dipake beli nasi buat makan lu, cecunguk?” tambahnya lagi.
Cuih. Buat makanku? Sejak kapan? Selama ini juga aku Cuma makan nasi dari sisa sesajenmu. Aku membatin. Bisa dibayangkan kalau kata-kata itu terlempar melampaui  mulutku. Bisa habis aku.
“Makan tu permen!” ujarnya sambil melempar puluhan permen itu ke mukaku dengan keras sekali dan berlalu. Sebelumnya dengan kata penutup. “Besok gua kagak mau tau lu harus setor dua kali lipat dari biasa. Gak peduli lu dapet darimana, setaaan!”
Ukh… tulang-tulang mukaku lumayan bergoyang. Permen-permen ini seperti kerikil yang baru saja ditumpahkan padaku. Tapi semenit kemudian aku terkikik… bersambung
By: Fevy Math ’09

Woro-woro…!
Sahabat At tafakkur yang budiman, Nantikan kelanjutan cerpen ini Minggu depan ya. Sayonara… ^_^