Segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala, Semoga sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita, Nabi akhir zaman, Muhammad  Shollallahu ‘alaihi wa Sallam.

Masa muda adalah masa ketika anggota tubuh seseorang masih berfungsi sebagaimana mestinya, di saat badan belum bungkuk, semangat masih membara, dan keinginan masih kuat. Akan tetapi, ke manakah masa mudamu ‘kan kau habiskan? Apakah untuk bermaksiat, perkara yang tidak berguna, atau yang lainnya?

Islam adalah agama yang sempurna sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَدِينًا

"Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku sempurnakan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhoi Islam sebagai agama bagimu”. (QS : Al Maidah [5] : 3).

Kesempurnaan ini mencakup sendi aqidah, syari’at (yang berupa hukum-hukum), sumbernya, dan 
apa yang ditunjukkan oleh Al Kitab dan As Sunnah . Nah, salah satu kesempurnaan Islam adalah diaturnya bagaimana seharusnya masa muda kita habiskan agar kita mendapatkan kenikmatan yang tiada taranya yaitu surganya Allah ‘Azza wa Jalla. Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :


« سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ الإِمَامُ الْعَادِلُ وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ……. »

“Ada tujuh golongan orang yang Allah berikan naungan pada hari yang tidak ada naungan kecuali naunganNya, [pertama] penguasa yang adil , [kedua] pemuda yang tumbuh berkembang dalam peribadatan kepada Robbnya….” .

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin Rohimahullahmengatakan bahwa “tujuh golongan yang dimaksudkan dalam hadits inibukanlah merupakan pembatasan, melainkan masih ada golongan lain yang Allah berikan pada mereka naungan (pada hari kiamat,pen.). Ibnu Hajar Al Asqolani Asy Syafi’i Rohimahullah telah mengumpulkan kelompok lain yang juga mendapatkan naungan Allah (pada hari kiamat, pen.) dan Beliau Rohimahullah menambahkan sehingga menjadi sebanyak 20 kelompok orang”.

An Nawawi Rohimahullah menjelaskan bahwa yang dimaksud dengannaungan Allah dalam hadits ini adalah naungan Arsy Allah, dan yang dimaksud dengan hari kiamat adalah hari di saat seluruh manusia akan berdiri menghadap Robbul ‘Alamin, ketika didekatkan matahari sehingga keadaan pada saat itu sangat panas namun mereka diberikan naungan Arsy yang pada saat itu tidak ada lagi naungan kecuali dengannya. Pendapat lain mengatakan bahwa yang dimaksud dengan naungan Allah pada hadits ini adalah naungan surga yang berupa kenikmatan dan keadaan di dalamnya, sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla :

وَنُدْخِلُهُمْ ظِلاًّ ظَلِيلاً

“Kami masukkan mereka ke tempat yang teduh (naungan) lagi nyaman”.
(QS : An Nisaa’ [4] :57).

\Yang jelas kedua penjelasan di atas* menunjukkan betapa besar balasan bagi pemuda yang menghabiskan masa muda dalam rangka beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
Demikian juga, lihatlah saudaraku, bagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala kisahkan kepada kita tentang ashabul kahfi. Allah kabarkan kepada kita bahwa mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Robb mereka, sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla :

نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُمْ بِالْحَقِّ إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آَمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى.وَرَبَطْنَا عَلَى قُلُوبِهِمْ إِذْ قَامُوا فَقَالُوا رَبُّنَا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَنْنَدْعُوَ مِنْ دُونِهِ إِلَهًا

“Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka , dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk. Dan Kami meneguhkan hati mereka diwaktu mereka berdiri, lalu mereka pun berkata, “Tuhan kami adalah Tuhan seluruh langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia”. (QS : Al Kahfi [18] :13-14).

Ibnu ‘Abbas Rodhiyallahu ‘anhuma mengatakan, “Mereka adalah pemuda (ghulam) yang ada pada diri mereka iman yang kuat danAllah tambahkan pada mereka petunjuk berupa bashiroh (ilmu) tentang agama. Allah menetapkan hati dan diri mereka dalam perkara agama mereka, yaitu iman dan kesabaran sehingga ketika mereka tampil di depan Raja Difyanus yang kafir, mereka mengatakan, “Robb kami adalah Robb pemilik langit dan bumi kami tidak akan beribadah kepada selainNya”.

Maka, lihatlah wahai para pemuda Islam! Apa yang mereka dapatkan dari waktu muda yang mereka habiskan dalam ketaatan kepada Allah? Renungkanlah! Dari mana mereka bisa mendapatkan keberanian untuk mengatakan bahwa ”Robb kami adalah Robb yang memiliki langit dan bumi, kami tidak akan beribadah kepada selainNya” di depan raja yang memerintahkan mereka untuk menyembah/sujud kepada berhala. Sungguh, ini adalah suatu keberanian yang luar biasa yang tidak akan didapatkan cuma-cuma tanpa usaha, melainkan balasan dari Allah ‘Azza wa Jalla terhadap apa yang ada pada diri dan hati mereka, Aljaza’u min Jinsil ‘Amal(balasan suatu perbuatan semisal dengan ‘amal). Maka, marilah kita wahai pemuda Islam, bersemangatlah menghabiskan masa muda kita dalam keta’atan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.



Penutup
Sebagai penutup, kami sampaikan ucapan salah seorang ahli tafsir yang karyanya tersebar luas, Ibnu Katsir Asy Syafi’i Rohimahullahketika Beliau menafsirkan ayat Allah ‘Azza wa Jalla :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam”.
(QS : Ali ‘Imron [3] :102).
Beliau mengatakan,
أَنَّهُ مَنْ عَاشَ عَلَى شَيْءٍ مَاتَ عَلَيْهِ، وَمَنْ مَاتَ عَلَى شَيْءٍ بُعِثَعَلَيْهِ
“Sesungguhnya barangsiapa menyibukkan diri/hidup bersama sesuatu, ia akan diwafatkan dalam melakukan hal tersebut. Barangsiapa diwafatkan pada sesuatu, ia akan dibangkitkan atasnya”.
Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat bagi penulis sebagai tambahan amal dan bermanfaat bagi pembaca sebagai tambahan ilmu sehingga dengannya bisa menambah amal. Amiin.

sumber: Alhijroh