Ikhwah fillah, Hadits merupakan sumber hukum islam setelah Al-Qur'anul karim. Maka sudah barang tentu keberadaan hadits sangatlah penting, namun karena banyaknya orang yang tidak suka terhadap islam sehingga mereka terkadang membuat-buat hadits palsu. Atau banyak juga hadits dha'if (hadits lemah) yang banyak beredar dikalangan masyarakat kita, terlebih lagi ada di antaranya para khatib yang menyampaikannya tanpa melihat referensi hadits tersebut. Tidak jarang juga mereka asal menyampaikan hadits tanpa peduli yang disampaikannya berupa hadits shahih, hasan, dha'if (lemah) atau bahkan hadits maudu' (palsu).
          Pada artikel kali ini kami akan menyampaikan beberapa hadits lemah yang sering disampaikan oleh para khatib yang di ambil dari majalah Qiblati dengan beberapa editan. Semoga bermanfaat.

Hadits Pertama

مَنْ حَجَّ، فَزَارَ قَبْرِيْ بَعْدَ مَوْتِيْ، كَانَ كَمَنْ زَارَنِيْ فِيْ حَيَاتِيْ

"Siapa yang melaksanakan haji kemudian berziarah ke makamku sepeninggalku, maka sama dengan mengunjungiku pada masa hidupku."

Ibn Taimiyah rohimahulloh mengatakan: "Hadis ini dha'if." Lihat kitab Qa'idah Jalilah (57). Al-Albani rohimahulloh mengatakan: "Hadis palsu.", al-Dha'ifah (no. 47), lihat juga kitab Dzakhirat al-Huffadz, karya Ibn al-Qaisarani (4/5250)

Hadits Kedua


 
اخْتِلاَفُ أُمَّتِيْ رَحْمَةٌ
"Perselisihan umatku adalah rahmat"
 Hadis maudhu' (palsu), lihat kitab al-Asrar al-Marfu'ah (no. 506), Tanzih al-Syari'ah (2/402). Al-Albani rohimahulloh mengatakan: "Tidak memiliki sumber sama sekali", Al-Dha'ifah (no. 11)

Hadits Ketiga

 أَصْحَابِيْ كَالنُّجُوْمِ بِأَيِّهِمْ اقْتَدَيْتُمْ اهْتَدَيْتُمْ

"Sahabat-sahabatku ibarat bintang, dengan siapa saja kamu mengambil petunjuk maka kamu telah mendapatkan petunjuk."
Dalam redaksi lain disebutkan:

 إِنَّمَا أَصْحَابِيْ مِثْلُ النُّجُوْمِ فَأَيُّهُمْ أَخَذْتُمْ بِقَوْلِهِ اهْتَدَيْتُمْ

"Sesungguhnya para sahabatku ibarat bintang, siapa saja yang kalian ambil perkataannya, maka kalian telah mendapatkan petunjuk."

Ibn Hazm rohimahulloh mengatakan: "Hadis palsu dan bathil, sama sekali tidak benar!" lihat kitab al-Ihkam fi Ushul al-Ahkam (5/64 dan 6/82). Al-Albani berkata: "Hadis palsu" al-Dha'ifah (no. 66), lihat pula kitab Jami'u Bayani al-Ilmi wa Fadhlihi, karya Ibn Abdilbarr (2/91)

Hadits Keempat

 مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّهُ
"Siapa yang mengenal dirinya, maka ia telah mengenal Rabbnya"
Hadis maudhu', lihat kitab al-Asrar al-Marfu'ah (no. 506), Tanzih al-Syari'ah (2/402), dan Tadzkirat al-Maudhu'at (no. 11)

Hadits Kelima

 أَدَّبَنِيْ رَبِّيْ، فَأَحْسَنَ تَأْدِيْبِيْ
"Allah mendidikku maka Dia mendidikku dengan sebaik-baik pendidikan"

Ibn Taimiyah rohimahulloh mengatakan: "Hadis ini tidak dikenal memiliki sanad yang valid". Lihat kitab Ahaditsu al-Qashshash (no. 78). Disebutkan oleh al-Syaukani dalam al-Fawa`idu al-Majmu'ah (no. 1020), juga al-Fatani dalam Tadzkirat al-Maudhu'at (no. 87)

Hadits Keenam


 النَّاسُ كُلُّهُمْ مَوْتَى إِلاَّ الْعَالِمُوْنَ، وَالْعَالِمُوْنَ كُلُّهُمْ هَلْكَى إِلاَّ الْعَامِلُوْنَ،وَالْعَامِلُوْنَ كُلُّهُمْ غَرْقىَ إِلاَّ الْمُخْلِصُوْنَ، وَالْمُخْلِصُوْنَ عَلىَ خَطَرٍ عَظِيْمٍ

"Manusia itu semuanya mati kecuali orang yang alim, orang alim (ulama') semuanya binasa kecuali orang yang mengamalkan ilmunya, dan orang yang mengamalkan ilmunya semuanya akan tenggelam kecuali orang-orang yang ikhlas, dan orang-orang yang ikhlas itu berada dalam bahaya yang besar."

Al-Shaghani rohimahulloh mengatakan: "Hadis ini palsu dan banyak cacat, yang benar dalam tata bahasa adalah al-alimin (orang-orang alim). Lihat kitab al-Maudhu'at (no. 200), al-Syaukani menyebutkan hadis ini dalam kitab al-fawa`id al-Majmu'ah (no. 771), al-Fitani dalam Tadzkirat al-Maudhu'at (no. 200)

Hadits Ketujuh

 سُؤُرُ الْمُؤْمِنِ شِفَاءٌ
"Sisa (bekas) minum orang mukmin itu mengandung obat."
Hadis ini tidak berdasar. Lihat kitab al-Asraru al-Marfu'ah (no. 217), Kasyf al-Khafa` (1/1500), dan al-Dha'ifah (no. 78)


Hadits Kedelapan

 إِذَا رَأَيْتُمُ الرَّايَاتِ السُّوْدَ خَرَجَتْمِنْ قِبَلِ خُرَاسَانِ، فَأْتُوْهَا وَلَوْ حَبْواً فَإِنَّ فِيْهَا خَلِيْفَةَ اللهِ الْمَهْدِيَّ

"Jika kalian melihat bendera-bendera hitam keluar dari arah Khurasan, maka datangilah sekalipun dengan merangkak, karena di sana terdapat khalifatullah al-Mahdi!"
Hadis dha'if. Lihat kitab al-Manar al-Munif, karya Ibnul Qayyim (no. 340), dan al-Maudhu'at karya Ibnul Jauzi (2/39), serta Tadzkirat al-Maudhu'at (no. 233)


(Sumber: Qiblati.com)