Kakak!... aku sedih, ibu bapakku gak pernah solat,

Kakak!...aku sedih keluargaku gak pernah mau belajar islam

Kakak!...aku sedih temenku yang dulunya soleh, sekarang gak pernah solat lagi bahkan main sama cewek

Begitulah ujian keimanan pada seorang hamba di dunia, sungguh kita gak bisa istirahat dari gangguan setan hingga kita mati...dan sungguh baik jika diri kita masih peduli dengan orang2 yang kita sayangi, yaitu kita terus menerus mendakwahi mereka dengan baik, dan doa...karena hanya Allaah yang bisa membuka hati yang telah terkunci mati.
Dan ingat! Jangan pernah menyerah, walau pada akhirnya orang orang yang kita sayangi tidak dapat hidayah juga, namun tetap, pahala insyaa Allaah akan kita dapatkan.


Suatu ketika paman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Tholib, menjumpai detik-detik menjelang kematiannya. Bersamanya adalah pembesar kafir Quraisy bernama Abu Jahal dan Abdullah Ibnu Abi Umayyah. Kemudian, datang keponakannya yang sangat menginginkannya bisa masuk ke dalam agama Islam , yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.



Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada pamannya,

“Wahai pamanku, Katakanlah “Laa ilaha illallahu”, sebuah kalimat yang akan aku jadikan pembelaan bagimu kelak dihadapan Allah”

(lihatlah sedemikian besar keinginan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan keislaman pamannya ini…)
.
Kemudian mendengar hal tersebut, Abu Jahal dan Abdullah Ibnu Abi Umayyah berusaha mempengaruhi Abu Tholib, mereka berkata :

“Wahai Abu Tholib,(di akhir hidupmu ini), apakah engkau akan meninggalkan agama nenek moyang kita, yaitu agama Abdul Muthalib (agama kemusyrikan)??!!”

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terus mengulang-ulang kalimat tadi, karena keinginan yang begitu besar akan keislaman pamannya ini. Namun Abu Jahal dan Abdullah Ibnu Abi Umayyah pun juga terus mempengaruhi dengan mengulang-ulang kalimat yang sama, berebut pengaruh dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Pada akhirnya, atas taqdir dan ketetapan Allah ta’ala, Abu Tholib mati di atas kemusyrikan dan dia enggan untuk mengatakan kalimat tauhid, laa ilaha illallahu (tidak ada sesembahan yang berhaq disembah melainkan Allah).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian mengatakan :

“Sungguh aku akan memohonkan ampun bagimu wahai pamanku, selama aku tidak dilarang oleh Allah”

Oleh karenanya Allah ta’ala menegur Nabi-Nya dengan menurunkan ayatnya :

“Tidak pantas bagi seorang Nabi dan bagi orang-orang yang beriman, mereka memintakan ampun bagi orang-orang yang musyrik, meskipun mereka memiliki hubungan kekerabatan, setelah jelas bagi mereka, bahwa orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka Jahanam” (QS : At Taubah 113).

Allah ta’ala pun menurunkan ayat :

“Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak bisa memberikan hidayah (ilham dan taufiq) kepada orang-orang yang engkau cintai. Akan tetapi Allah memberikan hidayah tersebut kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya. Dan Allah lebih mengetahui siapa yang berhak untuk mendapatkan hidayah” (QS : Al Qashash 56).


Kisah ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim rahimahumallahu ta’ala di dalam kitab shahihnya.




via official Line account Paradisean Youth