Assalaamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh
Namaku Huriah aku biasa dipanggil rere sama temen temen ,saat ini aku sedang menjalani kuliah di fakultas peternakan Universitas Mataram. Ini kisahku dengan khimar yang dalam kehidupan sehari-hari biasa kita sebut hijab.
Saudariku sadarkah kita bagaimana cemburunya bidadari disurga karna mereka tidak bisa merasakan bagaimana kita menahan gerah karna berhijab ?
Mengertikah kita ketika Allah Ta’ala dan Rasul-Nya lansung yang memerintahkan kita menutup aurat kita?
Gembirakah kita melihat saudari sesama muslim menutup auratnya?
Sedihkah kita melihat saudari kita tidak menutup aurat?
Pernahkah kita memperjuagkan hijab dalam diri kita?
Tahukah engkau bagaimana perjalananku bersatu dengan hijabku?
Saudariku aku bukanlah hijabers saat masih sekolah dasar tetapi dari sekolah dasarlah pandangan pertama antara hatiku dengan hijab bermula.
Fajar mulai meyinsing saatnya sholat megrib kulaksanakan, setelah sholat magrib biasanya aku berkumpul bersama teman-teman kampungku dirumah salah satu dari kami. Saat itu aku belumlah mengerti kenapa orang-orang ada yang menggunakan hijab saat pergi yasinan saja, ada yang pakai hijab saat kesekolah saja, ada yang menggunakan saat ke sawah saja, dan ada juga yang saat diluar rumah pakai hijab tetpi saat dirumah dia tidak pakai hijabnya, aku hanyalah anak yang bingung dengan problematika hijab saat itu. Namun dengan semua problematika yang kulihat pada saat itu aku tidak mencari tahu penyababnya, tidak ada yang menjelaskannya padaku dan bahkan tak pernah kumendengar disekitarku yang membicarakan apa itu hijab.
Ketika aku selesai dengan sholat magribku, terlintas dalam benakku, untuk menggunakan daleman mukena yang kugunakan saat sholat ketempat biasa aku dan teman temanku berkumpul, yang saat itu hijab yang kugunakan sebagai daleman sangat kecil hanya mampu menutupi kepala sampai pundakku saja. Alias tidak gede-gede banget hijab yang kugunakan, namun tetap saja itu namanya hijab. Perlahan kumelangkahkan kaki menuju teman-teman dengan bulatan hijab dikepalaku, belum lama dari saat aku sampai ditempat teman-temanku, aku disambut dengan celetukan teman-temanku mereka berkata,,”khem,,khem sok alim”,,”khem,, khem tumben alim”,,”khem,,khem ape sin kesambet tie ah, tumben lalokn mintie”,,”khem..khem paling karing seberak nkahn mentie”,, dengan berbagai celetukan mereka itu aku tidak tahan karna aku tidak suka mendengar orang ”ngurumun” didekatku. Akhirnya dengan hati yang tak tenang dan bimbang, apakah aku harus berdiam disana atau pulang. Aku akhirnya memutuskan lari sekencang munkin untuk melepas hijabku kerumah dan kembali lagi ke teman-temanku tanpa hijab mungilku. Untuk keesokan harinya sampai lulus SD aku tidak berhijab, aku hanya menggunakannya saat sekolah hari jumat dengan sabtu dan juga saat sholat.
Sampai aku berada di bangku SMP, aku masih seperti biasa belum mengerti kenapa orang-orang ada yang menggunakan hijab saat pergi yasinan saja, ada yang pakai hijab saat kesekolah saja, ada yang menggunakan saat ke sawah saja, dan ada juga yang saat diluar rumah pakai hijab tetapi saat dirumah dia tidak pakai hijab dengan kata lain “demen lek luah jek kawikhn jilbab munlek bale jek ndekn ngaweh” Waktu terus berlalu begitu juga masa SMPku . Aku melalui waktu dengan hijabku saat disekolah saja tapi tidak saat diluar sekolah.
Tibalah dimana aku sedang berada di dunia SMAku. Aku di SMA dengan diriku diwaktu SMP berbeda, karena diSMA aku sangat senag dan berani mencoba sesuatu yang baru sampai semua X-school yang ada aku ikuti. Dengan beberapa teman rumah yang menjadi teman sekolahku saat berada dikelas 2 SMA entah darimana kami mendapati kesepakatan kami untuk sama-sama kita mengunakan hijab diluar sekolah bahkan dirumah kami mengenakannya. Saat kali pertama aku dengan teman-teman rumah mengenakan hijab secara berengan kali ini kami mendapat pujian dan dukungan penuh untuk berhijab tetapi disamping itu juga kritikan dari orang-orang rumah baik itu tetangga maupun dari keluarga sendiri. Ketika itu kami sedang melewati rumah salah seorang warga di kampung kami disitu ada pemilik rumah ia saat melihat kami berkata,,”aet kanak, mbe wahn laik begerenokan tie ah , tumben lalokm pade alim selapukm, ndekm jek wahm pade ketemuan tie?” itu perkataan yang kami dapat saat kami berusaha mengerjakan kebaikan.
Setelah itu, beberapa dari kami ada yang goyah tidak tahan dengan cemoohan warga dan tinggal beberapa dari kami saja yang masih mengenakan hijab saat bepergian, sampai beberapa bulan hanya tingal aku seorang saja yang masih mengenakan hijab dan akhirnya keulepas juga hijab yang kugunakan setiap saat karena teman-temanku sudah melepaskan hijab mereka jadi aku ikut-ikutan lepas. Sampai akhir masa SMA ku aku tidak ditemani hijab saat berpergian/diluar sekolah.
Dunia SMA ku berakhir tetapi dari sana mulailah dunia baruku, dunia kampus. Aku saat pertama masih bingung sendiri dikampus karna baru kali ini aku menemukan orang-orang yang tidak biasa ku temukan dikampungku, tidak seperti SD,SMP dan SMA aku sekelas dengan teman sekampung atau paling mentok beda kecamatan. Dikampus aku bertemu dengan teman-teman yang sangat baru menurutku, dan dikmpus aku mulai terbiasa berbicara menggunakan bahasa Indonesia saja, karena dalam satu kelas walaupun kami sama-sama anak Lombok tetapi istilah bahasa yang kami gunakan berbeda. Sampai aku didunia kampusku aku mulai mencari organisasi yang kira-kira bisa kuikuti. Sampai saat itu tiba aku harus mengikuti mentoring yang kata dosen harus kita ikuti karna itu sebagai praktiknya kita di mata kuliah agama. Beberapa bulan setelah itu diantara puluhan organisasi di fakultas peternakanku aku hanya mengikuti MT AN-NAHL.
Aku tidak terlalu bertanya apa itu MT karena pada saat itu kakakku(mas gagah) juga masuk organisasi yang sejenisanya yaitu MT AL-KAHFI FKIP, hanya sesekali kumenanyakan pada mas gagah, apa itu MT? ia hanya bilang padaku,,” pokokm milu bye juluk lemak taonm sikn”,,

Waktu yang kumiliki semaksimal munkin aku gunakan untuk bisa mengikuti setiap agenda MT , dari situ fikirku bertambahlah tempatku belajar agama selain di mentoring aku juga mendapatkannya di MT, setelah itu,kondisiku lebih baik dari sebelumnya dimana aku sudah memakai kaos kaki kalau kekampus walau pakai celana, merasa aneh sendiri. Suatu ketika aku pulang kekampungku dengan kaos kakiku, disana ketika aku berjalan mengunakan kaos kaki namun pakai celana ditambah hijab yang kalau sekarang namanya belum syar’i. Saat aku mengunjungi rumah bibiku, adik dari ayah, pas setelah aku bersalaman dengan bibiku beliau berkata,,”kamu isis ya?” tanpa basa-basi beliau megatakannya dan aku hanya tersenyum dan berkata,,”segerahn kek aku milu isis, lamungk betedong mene”,, dan berakhir ketika aku harus kembali ke mataram.
Dimataram setiap hari aku bertemu dengan orang-orang baru terus dan dalam proses itu aku semakin hari entah pengaruh orang-orang disekitarku atau sadar sendiri aku yang tadinya hanya menggunakan hijab paris tipis  kini menggunakan 2 paris dilipat 2 jadilah lipatannya 4 sehingga tertutuplah bagian yang harusnya tertutup dari dulu,tidak hanya hijab akupun beralih dari celana ke rok,sampai gamis yang tidak longgar-longgar amat. Namun ketika awal-awal kugunakan gamis aku hanya menggunakan celana didalamnya tanpa rok, dan suatu ketika aku ditemukan oleh salah seorang kakak yang hijabnya besar, rok dalamnya lebih panjang dari gamis yang ia pakai,ia berkata padaku,,”dek boleh ndak lain kali kalau adek pakai gamis yang modelnya kayak gini (tipis) adek pakai rok didalamnya ya”,, mendengar itu aku hanya membalas “ya kak” dan hari-hari berikutnya saat aku menggunakan gamis kekampus tidak lupa aku juga menggunakan rok didalamnya.
Bicara soal kampus dengan hijab yang sudah mulai berlapis kugunakan, teman-temanku mulai memanggilku dengan,,”Assalamu’laikum, ustadzah mbe jakm laik pengajian tye?”,,dengan rasa agak kesel ditambah malu karna dalam Suasana keramaian hanya bisa terdiam diri,  dan semakin keseninya setelah aku kalau ada orang yang berkata baik kekita kita hanya perlu mengaminkannya saja dan balik mendoakannya yang baik, aku semakin terbiasa dengan itu semua dan hanya berkata “amiin” minimal dalam hati saja kumengatakannya. Setelah itu karena mereka kebiasaan memanggilku dengan ustadzah, mereka terbiasa dengan diriku yang berhijab berlapis-lapis dan pelahan berhenti menggunakan paris, menjadi hijab yang ukurannya mulai 130 sampai 150 cm dan terkadang hijab jadi yang ukurannya tidak biasa teman-teman gunakan setiap harinyapun kugunakan.
Beberapa minggu aku tidak pulang kerumah dan kali ini aku pulang dengan menggunakan hijab ukuran baruku(besar) dengan kaos kaki lengkap dengan rok yang kukenakan, aku mulai berjalan mengunjungi satu persatu rumah keluargaku dan berakhir dirumah bu de ku, ketika beliau memandangku dengan tanpa basa basi beliau berkata,,”kamu jek demenm bye dengah raos dengan”,, dari saat itu kekebalan diriku menahan celetukan orang tentangku mulai teruji kembali tetapi dengan Ridha ALLAH Ta’ala, dukungan mas gagah, dan orang-orang yang mengerti tentang keputusanku berhijrah, ditambah lagi dengan aktifitas organisasiku tidak terlepas dari hal-hal untuk mendekatkan diri pada ALLAH Ta’ala, ALHAMDULILLAH aku mampu melewati masa-masa  saat aku tidak harus goyah dengan omongan orang, aku tidak harus mengikuti mereka, aku tidak harus sama dengan temn-teman rumahku, aku tidak harus sama hanya saja, cara kami berbeda-beda, yang penting semoga  kita semua menggapai ridha ALLAH Ta’ala, dan masuk surga-Nya AMIIN. Semoga teman-teman yang belum berhijab segera berhijab AMIIN.
Arti kalimat
”khem,,khem ape sin kesambet tie ah, tumben lalokn mintie”
(khem,,khem kesambet apa tuh, tumben banget kayak gitu)
,,”khem..khem paling karing seberak nkahn mentie”
(khem,,khem paling bentar lagi berhenti kayak gitu)
,,”aet kanak, mbe wahn laik begerenokan tie ah , tumben lalokm pade alim selapukm, ndekm jek wahm pade ketemuan tie?”
(cie ,muka datar, habis dariman tuh  bergerombol kayak gitu, tumben banget kalian alim semua, jangan-jangan kalian dru pulang ketemuan)
” pokokm milu bye juluk lemak taonm sikn”
(yang penting ikut aja dulu nanti negrti sendiri kok)
”segerahn kek aku milu isis, lamungk betedong mene”
(masa saya ikut isis kalau pakai hijab kayak gini)
”Assalamu’laikum, ustadzah mbe jakm laik pengajian tye?”
(Assalamu’alaikum, ustadzah mau pengajain kemana tuh)
”kamu jek demenm bye dengah raos dengan”
(kamu tu suka sekali denger omongin dirimu)
”ngurumun”
(Ngoceh)