Akhwat muslimah” begitu tenang rasanya jiwa ini ketika membaca kata itu di salah satu majalah islam beberapa tahun yang lalu. Ratusan kata-kata mutiara juga dikemas dengan sangat indah sehingga hati ini tergugah untuk terus dan terus membaca dan memahami makna dari kata itu. Masih saya ingat ketika surat Al-ahzab: , diikutsertakan untuk menguatkan opini dari serangkaian tulisan dimajalah tersebut. Saya mengakui bahwa surat Al-ahzab tersebut sudah sering sekali saya dengar dari guru Madrasah aliyah saya atau diseminar yang sering saya hadiri bahkan ayat dan artinya pun sudah lancar saya hafal tapi jujur tidak pernah sedikitpun saya tahu apa maksud dari ayat di surah tersebut. Malu rasanya diri ini ketika lanjutan dari artikel itu membahas tentang fenomena remaja saat ini yang sangat marak dengan pakaian jaman jahiliyah modern juga pergaulan yang tidak terkontrol dan yang lebih miris lagi mereka sudah dijauhkan dari Al-Qur’an. Diri ini merasa tersinggung ada sedikit rasa iri kepada setiap akhwat yang hari ini sudah berhijrah, ingin rasanya diri ini seperti mereka yang benar-benar menjaga kesucian diri, jiwa dan hati mereka dan selalu ber-taqorub kepada Allah Swt, seakan waktunya hanya untuk bermunajat kepada Allah SWT.
Hidayah memang datang tanpa terduga. Tepat dimalam setelah saya baca majalah itu, seorang akhwat (kebetulan satu kampung) menginap di kamar kos saya. Melalui akhwat tersebut banyak sekali yang saya tanyakan. Masih saya ingat ketika rintik hujan dimalam itu pertanyaan pertama yang saya lontarkan adalah ”kenapa kakak senang dengan berpakaian sepanjang itu?” dia tersenyum sekilas lalu menjawab singkat “karena perintah Allah”. Sungguh jawaban yang saya singkat, jawaban yang tidak diharapkan. Tetapi tidak berakhir disitu rasa ingintahu saya, setelah berfikir sejenak, kembali saya pancing dirinya untuk berbicara dengan melontarkan pertanyaan-pertanyaan lain. Detik menjadi menit dan menit pun menjadi jam, semakin tertarik diri ini tentang berhijab syar’i. Malam itu, Beliau banyak sekali bercerita pengalamannya setelah berhijrah. Ada rasa ingin sekali untuk seperti dirinya, menghabiskan waktu siang dan malam untuk bermunajat kepada Allah sang maha pencipta. Masih saya ingat nasehat dari beliau “setiap orang punya masa lalu dek, se-suram apapun masa lalu mereka tapi Allah selalu bahagia melihat hambanya yang mau berubah. Semoga Allah memberimu hidayah.” Berbagai macam pertanyaan yang secara spontan muncul dibenak saya “ haruskah saya sepert itu?” atau “bagaimana respon orang-orang nanti?”. Hingga akhirnya pelan-pelan saya menabung uang untuk membeli pakaian syar’i.
Singkat cerita, setelah UAMBN saya memberanikan diri tampil dengan gaya pakaian saya yang baru. Walaupun belum sekaligus percaya diri. Menurut pengalaman para akhwat yang sering sekali saya dengar pengalaman berhijrahnya, hal pertama yang paling membuat mereka risih adalah sindiran dari masyarakat di lingkungannya, masyarakat yang selalu menghina mereka. Berbekal kata “sesungguhnya Allah bersama hamba-hambanya yang sabar” maka saya bertekad apapun yang terjadi, apapun kata orang,  innallahama’ashobirin.
Alhamdulillah sampai saat ini pakaian syar’i masih tetap dengan bangga saya gunakan meskipun pandangan-pandangan aneh dari banyak mata dimana-mana tetap tertuju pada saya tapi sekali lagi innallahama’ashoobirin. Semoga diri ini tetap diberi kekuatan untuk tetap istiqomah dengan berhijab syar’i dan selalu bertaqorub kepada Allah SWT serta diberikan hidayah untuk bercadar. Amiiiiin.