Demi Malam yang selalu menemani setiap rembulan dan bintang gemintang, meski tak jarang meriuhkan kedatangannya yang menghentikan sebagian aktivitas dan menepis segenap cahaya yang menerangkkan bumi tanpa lelah, tak sadarkah kita bahwa malam itu punya rasa iba yang begitu istimewa, ia hadir untuk membuat kita lebih tenang sejenak dari kesibukan, ia melukiskan panorama yang tak kalah takjub dengan mentari dihiasisang rembulan yang memancarkan sosok wanita mulia tengah menggendong hangat anaknya dengan deretan senyum rasi bintang melengkapi setiap awan yang berlalu-lalang membentuk pola bersekat- misterius namun terdefinisi.Apalah jadinya jika dunia tanpa malam,? bisakah kita menikmati indahnya siang, dan merasakan hangatnya sang mentari serta memanjakan mata dengan ribuan cahaya alami bintang juga cahaya buatan.
Senja itu perlahan mengabaikan suasana dengan pamit tanpa suara, malam ini di temani dengan cahaya rembulan sukmaku kembali tergerak oleh bait-bait dalam surat cinta dari Robbul’alamin tatkala aku tengah asyik membacanya, yang berbunyi :
“Wahai nabi, katakanlah kepada istri-istri, anak-anak perempuan dan istri-istri orang-orang mukmin ‘hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka’ yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Al-Ahzab: 59)
Masih mekar dalam ingatan, awal mengenakan jilbab saat kelas dua MTs. Waktu itu, pagi di madrasah pak Muksin guru Akidah Akhlak menyampaikan materi tentang akhlak berpakaian “semua wanita tanpa terkecuali harus mengenakan jilbab, karena jilbab adalah identitas umat muslimah. Kalau tidak berjilbab berarti masih meragukan agama islam” pinta pak guru tegas. Kata-kata itu seakan hidup dan menggempar jiwaku, mempertanyakan setiap fikiranku? Aku tidak berjilbab, lantas aku meragukan islam?? Astagfirulloh, selepas shalat isya aku meraih jilbab paris hitam yang diberikan bibi dua minggu lalu bekas jilbab menantunya yang sudah meninggal, dengan tangan dingin ditemani bulir air mata yang membasahi sedikit kain itu aku mulai memasangnya untuk tidur, untuk pertama kalinya malamku bersinar bukan dari cahaya rembulan, melainkan dari kain yang membaluti auratku.Semuanya tak berjalan mulus sesuai hasrat, siang sepulang sekolah “Ra, ada yang aneh darimu hari ini?” tanya kakak sambil memperhatikanku, tanpa menghiraukannya aku mengambil sapu dan membersihkan teras depan rumah “kamu mau ke mana pake jilbab segala? Baru aja pulang sekolah udah mau sekolah lagi” ungkap ibu dengan nada sedikit kesal “aku tidak akan ke sekolah kok bu?” jawabku lembut “lantas kenapa kamu memakai kain itu, buat pemandangan risih aja, udah cuacanya panas, gak gerah kamu?” tukas ibu menggerutu, “Astagfirulloh bu, Ra cuman ingin mentaati perintah agama bu” jawabku semakin lembut.
Hari demi hari ibu mulai terbiasa dengan penampilanku, meski tak jarang beliau menggerutu setiap melihatku. Namun, berbeda dengan tetanggaku yang omongannya kian menjadi-jadi “Alaaa, anaknya pake jilbab kok ibu dan kakaknya malah asyik jual miras” ucap ibu-ibu yang sedang duduk melingkar sambil menemani anak-anaknya bermain “ingin menutupi kebusukannya” sahut yang lain. Jujur, memang benar apa yang dikatakan ibu-ibu dan teman sebayaku tadi. Aku sudah berkali-kali berusaha mengingatkan beliau, dan responnya tidak mendamaikan justru memperkeruh keadaan “kamu mengerti apa tentang kerasnya dunia? Kamu paham apa bagaimana sulitnya mendapatkan uang?” ucap ibu dengan melototiku, mau tidak mau aku harus diam dan tak berani membantah apalagi sampai nadaku lebih tinggi darinya, aku paham semenjak ibu pisah dengan ayah 17 tahun silam bertepatan dengan kelahiranku. Ibu berjuang sendirian menghidupi kami sekeluarga, ayahku asyik menikah lagi menghabiskan uang yang seharusnya untuk menafkahi aku dan dua kakak perempuanku. Ayah tak pernah mau melirik kehidupanku bersama ibu, dia mungkin sudah tak menganggapku anaknya lagi sehingga menghiraukan tanggung jawabnya terhadap aku dan dua kakak perempuanku.
Di zaman menjelang 2000-andulu, memang masa terpuruknya ekonomi indonesia, krisis moneter yang mencengkram beberapa bagian indonesia membuat lapangan kerja menjadi tak berdaya, di samping melawan kondisi ekonomi yang kritis, ibuku juga harus berjuang menutupi luka tersayat dalam jiwa akibat tingkah laku ayah yang menduakan ibu dan tak kunjung memberikan nafkah selama 6 bulan terakhir waktu itu, ibu juga tak dihiraukan oleh kakek dan nenek sebab menikah terlalu muda. Aku tak heran jika waktu itu jalan tercepat untuk mendapatkan uang adalah dari menjual miras. Begitu jua kondisi di sekolah, aku sering sekali di bully karena tidak mau menanggapi rayuan teman lelakiku “ah, sok suci kamu, padahal ibu kamu jual yang diharamkan, kamu makan dari uang haram” ledek teman-teman kelasku. Aku hanya bisa menunduk, meneteskan air mata malu bercampur salah. Apalagi ketika guru Fiqih masuk teman-teman selalu bertanya “pak, hukum orang yang menjual miras bagaimana?” sambil tertawa melirikku, sedari itu Aku tidak pernah keluar kelas sampai bel pulang berbunyi, tak jarang pula aku melangkahkan kaki dengan mata lebam dan sesugukan yang menemani perjalanan pulangku. Seringkali, ibu melihatku murung mengalirkan air mata sepulang sekolah, ibu tak ingin menghampiriku karena ia sudah tau alasannya.
Sampai ketika, pada malam jum’at selesai membaca surah yasin aku berdoa agar keluargaku tidak lagi menjual barang haram itu, masih ada jalan lain untuk meraih rizki yang halal, dan ternyata di balik pintu kamarku yang sedikit terbuka ibu berdiri mendengarkan setiap keluh kesah yang tak pernah ia dengar dariku, suaraku semakin lirih ketika aku menyebut “biarkan aku yang masuk neraka menebus dosa-dosanya, sesungguhnya demi akulah beliau melakukan hal ini” dengan hentakan kaki yang halus ibu memelukku dari samping kanan. “Aku sayang kamu nak, Ampunilah aku ya Robb” suara ibu membuatku semakin haru, semenjak kejadian malam itu ibu berhenti menjual barang haram tersebut, dari sanalah aku berfikir lebih jauh bahwa jilbab ini membantuku lebih tenang dalam menghadapi masalah, untuk pertama kalinya jilbab ini melapis lembut nurani ibuku.
...
Semenjak aku mulai mengkaji ayat tersebut aku bertekad lagi untuk mengenakan hijab yang lebih besar, yang menutupi dadaku, tidak lagi transparan. Aku menyisihkan uang dari hasil lomba pidato dan MTQ yang ku ikuti untuk membeli jilbab besar, mungkin karena niatku yang tulus, iktiar yang maksimal dan doa yang tak pernah pupus aku selalu menjadi juara, uang terkumpul sekitar dua ratus ribu karena aku juga menyerahkan pada ibu. Tanpa sepengetahuan ibu dan kakak aku membeli jilbab besar tiga buah, malamnya aku langsung memakai jilbab warna biru untuk mengawali proses hijrahku, aku merasa lebih anggun lebih nyaman lebih terjaga dan lebih adem. Di tengah bunga tidurku, tiba-tiba “tidur kok pakai mukenah anak ini” suara ibu melepaskan jilbabku, “ini bukan mukenah bu, ini jillbab” jawabku sedikit tersenyum “sudahlah, lepaskan saja jilbabmu, liat rambutmu sekarang udah berkurang kepanasan gara-gara kain itu” pinta ibu memandangiku tajam. Memang dari anggota keluargaku, hanya aku yang sedikit aneh aku sering dijuluki gadis pembeda oleh sahabat-sahabatku karena hanya aku yang bertingkah laku lebih islami dari endemik familiku, tetapi inilah tugasku bagaimana membuat keluargaku paham terhadap kewajiban.Malah ketika aku keluar bersama ibuku aku sering diejek lebih tua dan kumuh, karena fashion ibuku mengikuti zaman sedangkan aku cukup tertutup dengan jilbab besarku yang membuat orang memandangku sebelah mata. Teman-temanku selalu mengatakan bahwa jilbabku itu kuper, tidak gaul, dan tidak modis. Padahal jika mereka kaji lebih dalam, justru mereka yang mengikuti fashion masa kini, merupakan budak mode!!!Mereka terjebak dalam permainan orang-orang yang ingin menghancurkan generasi muslim, fikirku tajam.
Suatu hari, ada seorang lelaki tua paruh baya mendekati kami yang tengah berjalan menuju sekolah, lelaki itu sering menggoda gadis-gadis yang ia temui, bukan karena sikap melainkan lelaki itu sudah tak waras. Aku berjalan sejajar dengan tiga temanku yang lain, posisiku paling rentan untuk diganggu, namun terkejutnya lelaki gila itu malah mengganggu teman sebelahku yang memang penampilannya sedikit terbuka, ia berjilbab tetapi seakan telanjang. Bagaiamana tidak? Ia memakai pakaian yang super ketat, sampai lekukan bodinya terlihat jelas, jilbabnya pun transparan dan tak menutupi dada, yang ia prioritaskan adalah keserasian jilbab pada wajahnya. Terlihat cantik atau tidak??? Dan beginilah yang banyak kita temukan sekarang, ia berjilbab bukan sesuai syar’i namun sesuai perkembangan zaman, aku miris melihat mereka yang menyesuaikan jilbab sesuai kondisi. Tatkala aku menyuruh lelaki tua itu pergi, ia memandangiku haru dan pergi sambil melepas salam, aku langsung tersenyum memandangi jilbab besarku yang selalu di bully oleh orang-orang di sekitarku namun bisa dipahami oleh orang tak waras “orang gila aja menghargai wanita yang menutup auratnya, masa orang waras tidak?” celotehku kepada teman-teman. Sampai di kelas, hatiku kembali teriris akibat teguran dari guruku “Ra, mau nyaingin style guru-gurunya ya?” tukasnya meremehkan, tanpa menanggapinya aku pamit ke toilet dengan merunduk ditemani tetesan air mata batinku “Apa yang salah pada jilbab besarku ini?? Apa aku tidak pantas memakainya?” ucapku tersendak-sendak. Meski banyak orang yang melirik aneh yang bilang kayak ustadzah, mereka menganggap bahwa hanya orang-orang yang tinggi ilmunya, yang sudah bisa ceramah saja yang boleh mengenakan jilbab besarku ini. Namun, aku selalu menguatkan hati untuk terus memantapkan hijrahku ini, aku berusaha menebalkan telinga ketika harus mendengar ejekan yang tak membangun, aku berjuang meski keluargaku tak mendukung, sekalipun dunia menjatuhkanku, dan angin meluluhlantahkanku, aku tetap pada garis ini menemani setiap resiko yang membuatku semakin percaya pada Robbul’alaamiin karenasemenjak bersama jilbab besarku ini, aku lebih banyak berteman dengan orang-orang yang sholeh, alim, dan cerdas akhlak maupun akalnya.
Dua tahun kemudian, bertepatan dengan awal masuk kuliah. Aku mengidap penyakit bells palsy, saya jelaskan sedikit ya, bells palsy adalah salah satu penyakit yang menyerang saraf tepi bagian ke tujuh, penyakit ini merupakan kelumpuhan saraf bagian otot sebelah wajah akibat pembengkakan saraf tersebut. Penyebabnya beragam dan salah satu yang terjadi padaku karena terlalu sering tepar angin malam, aku sering sekali bolak-balik mataram-loteng tanpa menggunakan helm. Penyakit ini mengakibatkan wajahku asimetris, ketika bicara mencong ke arah sebagian wajah yang normal, mataku sebelah tidak bisa menutup sempurna, telingaku sebelah berdenging terus, dan pengecapanku tidak berfungsi sama sekali, semua makanan terasa hambar. Akibatnya, aku harus off- kuliah untuk sementara memulihkan kondisi. Di balik kondisiku itu, aku membaca sebuah artikel “hukum memakai niqob” di sana tertera bahwa hukumnya sunnah dan dianjurkan karena dikhawatirkan menimbulkan fitnah/mudharat lain.
Madzhab syafi’i berpendapat, aurat wanita di depan lelaki ajnabi(bukan mahram) adalah seluruh tubuh. Sehingga mereka mewajibkan wanita memakai cadar di hadapan lelaki ajnabi. Inilah pendapat mu’tamad madzhab syafi;i.
Asy Syarwani berkata: “wanita memiliki tiga jenis aurat, (1) aurat dalam shalat-sebagaimana telah dijelaskan-yaitu seluruh badan kecuali wajah dan telapak tangan, (2) aurat terhadap pandangan lelaki ajnabi, yaitu seluruh tubuh termasuk wajah dan telapak tangan, menurut pendapat yang mu’tamad, (3) aurat ketika berdua bersama yang mahram, sama seperti laki-laki, yaitu antara pusar dan paha” (Hasyiah Asy Syarwani ‘Ala Tuhfatul Muhtaaj, 2/112)
Syaikh Muhammad bin Qaasim Al-Ghazzi, penulis Fathul Qaarib, berkata:
“seluruh badan wanita selain wajah dan telapak tangan adalah aurat. Ini aurat dalam shalat. Adapun di luar shalat, aurat wanita adalah seluruh badan” (Fathul Qaarib, 19. Dikutip dari www.islam.com



 Dari sanalah, aku tergerak untuk memantapkan hati memakai niqob(cadar), hidayah Allah selalu bertebaran tergantung bagaimana kita menyikapi hidayah tersebut. Esoknya, aku mulai mengenakan niqob, tiba-tiba “kamu ikut aliran wahabi ya?” ungkap kakak iparku, aku hanya tersenyum renyah, “ntar sesak kamu” sambung kakak perempuanku, “bik, mana mulutnya?” tanya ponakanku lugu. Aku hanya menundukkan wajah sambil tersenyum.lagi-lagi aku harus mendengar banyak pertanyaan aneh yang tak bertuan. “waaa, ada ninja” ledek pamanku, “orang timur tengah aja kali yang begitu, yang di sana karena dominan padang pasir agar terjaga dari debu” sambungnya, “teroris, pengikut Abu Sayyaf” ungkap bibiku, duri-kerikil itu sepenuhnya datang dari keluargaku, adapun ketika keluar rumah aku sering dikatain salah aliran, imitasi budaya timur tengah, dan hanya menutupi penyakitnya saja. Hingga hampir aku ingin melepasnya, tetapi sahabat dan guru yang mendukung menguatkanku, “jika itu yang menurutmu benar, ada anjurannya. Untuk apa kamu mendengarkan orang lain yang belum tentu semua perkataannya benar, yang terpenting adalah bagaimana terlihat indah di hadapan Allah swt.” Ucap buk guruku menenangkan.
 Dengan perubahan ini, aku dipecat dari tempat kerja, dan bahkan sangat sulit untuk diterima kerja di tempat lain, padahal negara dengan mayoritas islam, tetapi mengapa ketika kita berpenampilan layaknya muslimah semua melirik sebelah mata, semua memandang lebih buruk dari orang yang memamerkan auratnya. Tetapi aku yakin, orang-orang yang di sayang Allah selalu dibuntuti dengan ujian yang akan menguji tingkat ketegaran dan kekuatan imannya. Maka, janganlah malu, dan lemah dalam hal kebaikan, meski dunia dan isinya memporak-porandakan hidup kita, dan tak harus menjadi baik untuk hijrah, tak harus cerdas, tak harus kaya, tak harus mendapat dukungan dari lingkungan sekitar, tak harus menunggu kapan siap untuk memulai berhirah? Cukup kita tau, itulah modal terbesar untuk hijrah sebagai buah aplikasi dari ilmu yang kita dapatkan. Karena hijrah juga pilihan untuk memanfaatkkan waktu yang masih kita punya. Jikalau, menunggu untuk waktu yang tepat? Maka sekarang adalah waktunya, sebab jangan sampai waktu yang kita tunggu adalah kematian. Wallahua’alam
“MALAM itu,Masih tentang kegalauan yang berkepanjangan, Aku merunduk melihat butiran-pasir yang tak henti menatapku, tiba-tiba pasir itu pun berbicara, kenapa kau hijrah? Apakah hanya untuk fashion, mengikuti mode, atau sensasi saja? Atau karena menutupi penyakit yang sedang kau derita? Tertegun aku mendengarnya hingga ku mengangkat pandangan bukan meremehkannya tetapi agar bulir air mataku tak sampai pada pasir tersebut. “bukankah penyakit ini adalah ujian, dalam menghadapinya kita dihimbau untuk tetap bahkan semakin dekat dengan-Nya??? Agar penyakit sebagai ujian ini menyadarkan kita bahwa hanya Allah azza wajala lah yang Maha Kuasa dan Maha Meninggikan/Merendahkan. Jadi, apakah aku salah memakai niqob ini yang sudah ada anjurannya untuk lebih taqarrub?? Dan bukankah segala yang disunnahkan itu memiliki maslahat yang besar” jawabku tegas, pasir itupun berlari tertiup angin sambil berkata “Istiqomahlah, jangan seperti diriku yang terombang-ambing, tak mampu mengendalikan angin. Hingga aku seringkali menjadi debu yang tak berguna, padahal jika aku konsisten maka aku bisa menjadi unsur alam yang berguna sebagai bahan bangunan dan lain sebagainya” aku tersenyum haru mendengar pesan singkatnya”.