Assalamualaikum ukhti Isna cantik, semoga selalu berada dalam lindungan Allah SWT. Aamiin, aku ingin sedikit berbagi cerita hijrahku khusus ke ukhti saja .ini terjadi masih beberapa bulan yg lalu, ketika hati dipatahkan sepatah-sepatahnya oleh sidia kaum Adam. Ya.. Aku pernah terserang virus itu, virus merah jambu yg membuatku terjerat pada suatu ikatan , ikatan yg tak halal "PACARAN" , ketika itu aku masih kelas X SMA, seperti remaja pada umumnya akupun masih haus perhatian, ingin memiliki teman hati yg selalu menyemangati. Sampai akhirnya aku bertemu dia, salah satu dari keenam sahabat baruku. Berawal dari sebuah persahabatan, meskipun begitu aku tidak terlalu mengenalnya, bahkan akrabpun tidak mungkin karena dia satu*nya laki* di antara keenam sahabatku. Sampai suatu ketika, adaa tugas yg harus dikerjakan secara berpasangan. Ketika itu karena kita berenam, dan keempat sahabatku sudah berpasangan mengharuskanku berpasangan dengan dia. Bermula dari itulah, entah kenapa setiap adaa tugas aku selalu berkelompok dgnya. Akupun tidak keberatan karena dia sahabatku Pasti lebih mudah mengatur waktu mengerjakannya pikirku. Bermula dari itulah kedekatan kita, dari yg gak pernah akrab jadi lebih akrab, dari yg dibahas hanya tugas lebih sering curhat tentang perasaan, kebetulan waktu itu aku dan dia sama* baru putus cinta . Karena merasa senasib, curhatan itu menjadi nyaman, nyambung, bahkan dia yg awalnya nggak pernah SMS pun setiap malam tidak pernah absen meskipun hanya sekedar menanyakan "lagi apa?" .
Hari demi hari kedekatan itu benar* terasa , rasa nyaman itu muncul, cemas kerap menghampiriku ketika tak adaa satupun kabar darinya. Ah.. Perasaan apa ini? Berdegup tak terkontrol setiap dekat dengannya, terbang tak karuan sebab perhatiannya. Memang, ketika itu bukan pertama kalinya aku jatuh cinta, tapi waktu itu aku merasa baru pertama kali dibuat terbang seperti itu. Jangan tanya lagi perasaanku, bohong Sekali jika aku tak ingin hubungan ini lebih sahabat. Sampai akhirnya apa yg aku harapkan benar* nyata, dia mengungkapkan perasaannya dan saat itulah aku terjebak dalam rasa yg benar* salah. Dalam ikatan yg Allah sangat membencinya. Tapi ketika itu, sebagai wanita biasa yg hanya mengandalkan perasaan aku bisa apa? Selain membuka pintu hatiku lebar* untuk tamu yg sudah aku harapkan sejak lama. Betapa bahagianya aku waktu itu, dia meminjamiku sayap untuk terbang setinggi-tingginya. Setiap waktu, kapanpun itu dia selalu menemaniku. Bagaimana tidak? Ketika itu aku sudah sangat yakin bahwa dia memang yg Allah kirimkan untukku, bahkan diapun sudah begitu akrab dengan orang tuaku begitupun juga aku. Dan hubungan terlarang inipun hampir berjalan dua tahun lamanya. Menjelang UN memang kita sempat break, dg alasan lebih fokus belajar. Sampai akhirnya pengumuman snmptn tiba, aku dan dia tidak lolos snmptn. Dia terus menyemangatiku untuk tetap bisa ikut sbmptn, tapi apa dayaku musibah datang dikeluargaku. Iyaa.. Ayahku kecelakaan yg mengharuskanku menunda kuliahku. Ketika itu aku sangat terpukul, karena tak adaa satupun yg mendukung impianku , iyaa.. mungkin karena pikiran mereka masih terlalu kacau. Aku menerima, mungkin memang sudah bukan jalanku. Disisi lain, aku tetap menyemangatinya untuk terus berjuang disbmptn, menemaninya membeli buku, belajar , sampai akhirnya ternyata dia tidak diterima. Aku tetap menyemangatinya , dan akhirnya dia ketrima di salah satu politeknik negeri. Bersyukur rasanya dia meraih apa yg dia impikan, apalagi ketika dia berjanji akan tetap menjaga hubungan ini meskipun jarak kita yg jauh. Memang, sangat jarang masalah dalam hubungan bahkan tidak pernah. Ah.. Tapi nyatanya hubungan ini hanya bertahan dua tahun, iya .. Dua tahun. Bagaimana aku sangat tidak terpukul? Ketika itu aku dan sahabat*Ku begitupun juga dia silaturahmi kerumah sahabatku yg kebetulan orang tuanya sangat kejawen *adat jawanya kental. Waktu itu membahas tentang pasangan yg tidak dapat disatukan karena perbedaan arah rumah yg aku pun tidak mengerti apa maksudnya. Iya.. Aku dan dia termasuk dalam kategori itu. Yang apabila sampai menikah akan mendatangkan musibah besar. Aku tidak mengerti , apa harus percaya? Bukankah tidak masuk akal? Apa kita tau tentang takdir Allah? Tapi nyatanya dia percaya, bahkan dia sudah mengerti sejak setahun yg lalu. Iya.. itu penyebab perpisahan kita, ah .. Tidak masuk akal memang. Sudah mengerti satu tahun yg lalu, tapi kenapa aku masih dibawanya terbang tinggi, sampai pada akhirnya aku dijatuhkan sejatuh*nya. Bayangkan betapa pilunya aku waktu itu. Kuliahku gagal dan dia pergi. Apa arti dua tahun ini? Hanya karena alasan itu dia segitu mudahnya pergi? Atau memang adaa alasan lain? Begitu banyak pertanyaan dipikiranku, iya.. Dia pergi bahkan tidak adaa kata* terakhir yg dia ucapkan . Hanya sekedar "kita kembali bersahabat". Sungguh, ketika itu seakan hidupku berakhir, bagaimana aku bisa tanpa dia? Aku belum terbiasa tanpa dia. Bagaimana tidak? Dua tahun itu tidak adaa waktu yg kita lewatkan berdua. Berhari* aku sangat terpuruk , sampai akhirnya banyak Hal* yang menamparku keras. Bahwa hidup bukan hanya masalah tentang cinta. Umurku Berapa? Iya.. Masih sangat belia memikirkan tentang itu. Kembali aku meraba , sudah Berapa lama aku melupakan Allahku yg bahkan sedetikpun tak pernah melupakanku. Sholat hanya sekedar penggugur kewajiban, waktuku lebih banyak kuhabiskan dengannya daripada memikirkan dosa yg sudah banyak kutumpuk. Pacaran sehat? Ah tidak adaa istilah pacaran sehat, meskipun hari*nya diwarnai dg saling mengingatkan sholat. Tapi nyatanya tetap menjerumus kepada kemaksiatan. Aku semakin sadar, bahwa cinta yg tak pernah meninggalkan adalah cinta Rabbku :'). Pengharapan yang tak mengecewakan hanya berharap kepada Rabbku. Aku mulai menata hatiku, memantaskan diri untuk mengejar cita-citaku . Karena aku percaya tulang rusuk itu tidak akan salah kemana dia harus kembali. Sekian