Malam yang sunyi hanya berteman dengan Akoor dari kelompok sang Jangkrik, cukup membuat raga ini enggan untuk masuk dalam peristirahatan di alam mimpi. Jari-jari ini terus menari dengan ayunan ingatan di masa kecilku yang kelam. Mengingat semua itu membuat hujan dalam pengapnya kamar ini. Aku tidak menangisi tentang nasibku, tidak juga menangis karena aku bisa hidup sampai saat ini. Namun aku menangis karena Bapak. Yah! Karena Bapak!. Tiada lain yang dapat membuatku meneteskan air mata hanya mengingat perjuangan Bapak. Yang tak kenal pagi buta dan malam buta kerja keras banting tulang demi kehidupanku, keluargaku dan yang utama demi penyakitku.
            Ketika detik-detik dimana penyakit yang tak di duga menjangkitiku, Bapak terbangun dari mimpi indahnya mendengar batukku yang tak henti-henti. Aku masih menyimpan memori kelam itu. Yah! ketika usiaku tiga tahun setengah. Aku merasakan sakit di dada dan tiba-tiba mengeluarkan darah dari mulut. Aku yang tak tau apa-apa terus menangis dengan rasa sakit itu. Ditengah isak tangisku yang nyaring sampai terdengar di rumah tetangga, aku dengan lugunya berucap.
“ Bapak.. ape ine? Sakiit[1] “ tak hentinya ucapanku hanya sakit, sakit, dan sakit. Ibuku hanya menangis menatapku dan segera mencari bantuan.
            Hingga akhirnya dokter mengatakan bahwa aku terkena penyakit TBC yang bisa jadi membuat nyawaku terancam. Namun segala cara dilakukan oleh Bapak demi kesembuhanku. Diterik panasnya matahari beliau kerja untuk menyabit rumput dan ditengah dinginnya malam, Bapak kerja di sawah untuk menjaga aliran air. Terkadang Bapak meminjam uang di keluarga yang lain. Itu semua demi kesembuhanku. Yah! Tiada lain hanya demi kesembuhanku Bapak rela melakukan apa saja selama itu halal. Mengingat Bapak seperti itu, hingga sekarang Aku masih meneteskan air mata.
            Dan kini enam bulan berlalu. Aku mulai berhenti minum obat TBC. Akan tetapi ujian Allah tak berhernti sampai di situ. Setiap hari ada saja penyakit yang menghampiri tubuhku. Namun yang paling parah ialah penyakit Kurek. Orang-orang di desaku menyebutnya seperti itu. penyakit yang ada bintik-bintik besar dan bernanah di dalam. Seluruh tanganku penuh dengan Kurek dan kakikupun tak lepas jadi santapannya. Namun anehnya selama sakit seperti itu, raga ini masih tetap bisa berjalan dan menulis walau penuh dengan Kurek. Aku masih bisa sekolah seperti teman-teman yang lain walau banyak yang enggan bermain denganku. Yah! Bersyukurlah kalian yang masih memiliki masa kecil yang penuh dengan kebahagiaan.
            Kini ayunan ingatanku menimbrung pada detik-detik bersejarah perubahan yang kualami saat itu. Tanpa ada sebab aku membuka mata dan melihat, ternyata mataku merah. Kedua orang tuaku tidak panik karena anggapan mereka itu hanya penyakit mata biasa. Yah! Allah membenarkan prasangka kedua orang tuaku. Karena sudah jelas dalam firmannya “ aku tergantung prasangka hambaku. “ jadi dalam hidup ini kita harus berhusnudzhan agar apa yang kita dapatkan baik. Buktinya seperti yang dilakukan kedua orang tuaku.
            Namun terkadang yang namanya manusia seringkali panik atas kejadian yang tak biasa. Dan sering kali akal pikirannya mulai berkeliling dengan hal yang aneh-aneh. Itulah manusia. Dan ternyata penyakit mata ini sembuh setelah satu bulan. Dan anehnya selang dua bulan sakit mata itu menjangkitiku selama tiga kali dengan kurun waktu satu bulan.  Berawal dari situlah pikiranku mulai seperti orang dewasa.
“ mungkin Allah membenciku karena Aku selalu berbuat dosa pada kedua orang tuaku “ ujarku di saat kesendirian menemaniku.
            Aku berkata seperti itu karena sering mendengar Ibu yang selalu memarahiku. Walau sakit yang tak hentinya, kenakalanku juga tak kalah hentinya. Terkadang aku juga suka membentak kedua orang tua. Tapi bagi kalian mungkin itu wajar hal yang dilakukan anak kecil. Belum tau apa-apa. akan tetapi bagi jiwa ini tak menerima dan terpikirlah jiwa ini pada Sang Pencipta.
            Saat mata ini terus menerus terasa perih, kupaksakan langkah kakiku ke masjid. Mulai saat itu aku berfikir Allah pasti Maha menolong. Yah! Dengan tekad kuat berbekal Allah Pasti Maha Menolong kulangkahkan kaki setiap waktu sholat tiba. Semua orang melihatku berjalan menuju masjid. Ku tangkap suara yang selalu menghiburku untuk terus dekat dengan Sang Pencipta ialah.
“ iii sang ke pacu ne le lina ino becik-becik lalo sembayang tipak mesjid[2]
Anak kecil siapa yang tidak senang di puji? Dan memang sifat anak kecil adalah senang untuk di puji. Yah! Awalnya memang aku rajin karena ingin mendengar pujian. akan tetapi seiring waktu berjalan, kebiasaan itu membuahkan hasil saat umurku yang masih sebelas tahun pergi ke masjid. Ada hal yang beda kurasakan saat itu. jiwaku terasa sejuk walau mata ini terasa perih dan menakuti orang lain. terasa seperti angin terus menerpa hati ini yang tengah kepanasan dengan rasa sakit yang tak pernah lepas.
Alhamdulillah berkat keyakinan bahwa Allah pasti Maha Menolong, kini penyakit Mataku berangsur-angsur sembuh setelah tiga bulan berselang mata ini tersiksa. Senyum merekah dari bibir kecilku dan tawa riang teman-teman mulai kurasakan dan dapat bergabung lagi bermain dengan mereka. Namun aku tak habis fikir setelah beberapa hari merasakan kebahagiaan. Penyakit TBC itu kumat lagi. Rasa yang begitu sakit di dada dan darah keluar dari mulut membuat isak tangisku pecah.
Namun disaat air mata itu berlinang, dalam hati kuingat tekadku yang percaya Allah pasti Maha Menolong. Tangisku pecah memikirkan Bapak yang kembali ku repotkan. Beliau kesana kemari membaawaku ke puskesmas dan Rumah Sakit Soedjono Selong. Dan akhirnya hasil menunjukkan bahwa TBCku kambuh lagi. Wajar saja beratku saat itu hanya 26 kg ketika usiaku 12 tahun, karena memang seluruh nutrisiku di makan oleh virus Tubercolusis.
Aku kembali meminum obat yang begitu besar dan banyak selama enam bulan berturut-turut. Jika lupa satu hari maka harus mengulang dari awal. Perjuangan yang tidak main-main. Dan segala apa yang ku pakai seperti sabun mandi, piring, gelas bahkan bantal tempat tidur tidak boleh di pakai orang. karena TBC ini sangat menular dan tidak pandang bulu, baik bayi maupun orang dewasa.
Akan tetapi tekad itu masih ku pegang teguh bahwa Allah Pasti Maha Menolong. Hingga akhirnya terpikir olehku untuk mengenakan jilbab di saat umurku dua belas tahun. Saat itu aku masih semester dua kelas 6 SD dan akan menghadapi Ujian Nasional. Dengan penyakit TBC yang masih melekat di tubuhku, teman-teman kembali menjauhiku dan keluargaku kecuali Ibu dan Bapak. Aku tidak tahan dengan semua ini. Aku berfikir dengan memakai jilbab pujian akan menghampiriku lagi. Yah! Masa-masa itu memang semua kulakukan demi pujian agar aku sedikit terhibur dengan lontaran sajak mereka.
Saat itu masih ku ingat pada hari senin ketika nenek mengadakan dzikiran atas meninggalnya kakek tiriku. Disanalah aku memakai kerudung saat-saat ramainya orang. Mulai timbul satu persatu komentar melayang dengan penampilanku. Saat itu kerudung Ibu ku pakai karena Ibu juga sering memakai kerudung saat keluar rumah. Berharap mereka akan memujiku seperti yang kurencanakan semula, namun sebaliknya yang ku dapatkan.
“ semantak ke te bejilbab ite masi becik..![3] “ ujar salah satu bibikku.
            Aku hanya membalas dengan senyuman saja dan terus membantu-bantu apa yang aku bisa. Kemudian Ibu melihatku memakai kerudungnya.
“ kenoak ne po ngadu jilbab te, yee semantak ke ne bejilbab masi becik[4] “ ujar ibu marah-marah. Sempat diri ini meneteskan air mata dengan bentakan Ibu, dan pulang dengan rasa kecewa.
            Akan tetapi semangat untuk terus berjilbab itu terus membara di hati ini. jilbab yang kupakai hanya sisa dari pemberian bibik kepada ibu. Ketika kesawah, ibu menyuruh memakai topi. Namun entah mengapa jilbab itu terasa nyaman saat kupakai dari pada topi yang memang membuat kita keren. Namun alangkah kerennya kita saat jilbab terpakai dan topi menempel di kepala. Jilbab ini sangat membantuku ketika di sawah.
            Memang ketika sekolah aku tak memakai jilbab dari kelas 1 SD sampai kelas 6 SD. Karena memang berjilbab mulai di berlakukan saat aku sudah memasuki kelas 4 SD. Jadi bagi kedua orang tuaku, untuk membeli seragam baru membutuhkan banyak biaya. Pekerjaan Bapak yang hanya sebagai petani hanya bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Apa boleh buat, Aku hanya memakai jilbab ketika pulang sekolah saja. Dan sedikit demi sedikit arah pikiranku sudah seperti layaknya orang dewasa yang mengatakan wajib berjilbab bagi para wanita muslim.
            Yah! Tidak ada yang tidak mungkin. Berkat aku dilihat berjilbab, kini pujian yang ku haarapkan semakin banyak.
“ ii kejeneng ne le lina ngadu jilbab[5] “ ujar ibu-ibu yang duduk di dekat warung.
Serasa hujan membasahi hati ini yang kering-kerontang. Saat itu juga aku bersama Ibu, mungkin Ibu mendengar perkataan mereka. Ku lihat ternyata Ibu tersenyum simpul. 
Setelah terbiasa berjilbab, pujian itu tak lagi kuharapkan dengan memakai jilbab ini. Terasa seperti nyaman memakai kerudung yang melindungi kepala dan menutup dada ini.
Mungkin itulah fungsinya mengapa Allah menganjurkan kita berjilbab hingga menutup dada. Karena dalam dada ini terdapat hati yang sering mendapatkan ujian kesabaran, keimanan dan ketaqwaan. Sungguh Allah Maha Kuasa dengan berjilbab hingga menutup dada hati ini akan tertunduk pada Sang Kuasa. Dan secara logika wajar yang memakai jilbab tidak sampai menutup dada sering kali bersifat angkuh dan rentan untuk cepat marah. Karena tidak ada yang menutupi hati mereka. Syeitan bebas masuk kapan saja untuk merasuk hatinya. Namun dengan berjilbab menutup dada, tidak ada celah bagi syeitan untuk mengganggu hati ini yang tengah bertasbih di dalam.
Berkat jilbab yang kupakai, temanku mengajak untuk ikut lomba cerdas cermat dalam rangka menyambut Maulid Nabi Muhammad SAW. Ibu memberiku jilbab warna putih. Saat itu aku semakin semangat untuk ikut lomba. Kami bertiga dalam satu tim dan lawan kami memang bukan main. Mereka sudah SMA semua dan kami hanya anak SD masih anak ingusan. Namun kami tidak patah semangat. Kami pasti bisa.
Berkat semangat dan tekad untuk bisa kini membuahkan hasil. Walau kami mendapat peringkat ke-2, namun kami merasa bersyukur dan bangga bisa mengalahkan kakak-kakak kelas yang lain yang sudah SMA.
Itulah sepenggal kisah jalan hijrahku yang berawal dari mengharap pujian dan berdalih untuk kenyamanan dalam menempuh hidup yang penuh dengan fatamorgana ini. Memang mengharap pujian tidak di bolehkan. Niatlah harus tetap hanya karena Ridha Allah. Namun selama itu merujuk kepada suatu kebaikan yang akan mengantar kita menjadi muslimah sejati apa salahnya?.
“ Allah tidak membebani suatu kaum dengan batas kemampuannya”
Mungkin saja jiwa ini tak memakai jilbab hanya karena paksaan untuk harus karena Allah. Namun dengan lugunya, karena jiwa ini terlalu dini dan sudah tak kuasa dengan kesendirian, sindiran, dan amarah. Jiwa ini hanya meminta untuk berjilbab agar di puji. Yah! Simpel agar di puji orang. Namun dengan demikian seiring waktu dan seraya dada ini terus tertutupi jilbab. Pikiran yang masih ingin maen-maen saat umur dua belas tahun berubah menjadi lebih dewasa. Jiwa ini ingin seperti ‘aisyah yang cerdas dan sejak usia dini mungkin sudah menjadi muslimah sejati. Sering ke masjid menghadiri ceramah yang kebanyakan seumuranku saat itu masih ingin bermain-main. Itu berkat Allah, berkat Jilbab yang menutupi dadaku agar hati ini terus mengingat Allah.
Sejak saat itu hidup yang kualami mulai berubah drastis. TBC ku sembuh padahal aku lupa minum obat satu hari. Dan sempat dianggap kambuh namun hati ini terus tertunduk percaya bahwa Allah Maha Menolong. Yah! Tekad kelas Lima SD masih kupegang bahwa Allah pasti Maha Menolong. Alhamdulillah hasil tidak membuat TBC ku kambuh lagi.
Selalu ada harapan bagi yang berdo’a
&
 selalu ada jalan bagi yang berusaha


[1] Ayah.. ini apa? sakiit
[2] Iii rajin sekali lina itu, kecil-kecil sudah pergi sholat ke masjid
[3] Haruskah kita pakai jilbab kita masih kecil…!
[4] Tidak sopan sekali memakai kerudung ibu, haruskah ke  pakai jilbab masih kecil..!
[5] Ii cantik sekali lina pakai jilbab