Dulu, tidak pernah terbayang  dalam benakku untuk menutup aurat dengan syar,i seperti saat ini, dangkalnya ilmu agama yang aku punya membuatku tidak banyak tau tentang hukum menutup aurat itu. Di mataku menutup aurat hanya untuk kalangan wanita yang pernah mondok di pesantren, dan sebuah pilihan untuk seorang wanita yang ingin menjadi lebih tampil muslimah. Di dalam keluarga ku sendiri, Ibu dan Bapak tidak pernah mengajarkanku untuk menutup aurat, yang mereka wajibkan adalah sholat , puasa Ramadhan, dan mengaji. Namun aku memiliki seorang paman yang menjadi pendakwah dikampungku, beliau sangat ingin aku memperbaiki diri dengan berhijab, setiap kali bertemu dengan ku yang beliau nasehati adalah bagaimana aku harus menjadi wanita muslimah dengan menutup auratku. Namun setiap kali yang beliau sampaikan  tidak pernah aku patuhi, sama seperti kata pepatah masuk kuping kanan keluar kuping kiri. Apalagi waktu itu aku merupakan seorang wanita yang sangat hobi dalam bidang sastra baik itu  membaca puisi, menari dan drama.  Bahkan aku pernah beberapa kali mewakili sekolah untuk mengikuti lomba-lomba tersebut baik ditingkat kecematan maupun ditingkat kabupaten, dan aku selalu mengharumkan nama sekolah dengan prestasi yang aku dapatkan. Karena banyaknya prestasi yang aku dapatkan aku menjadi cukup terkenal di sekolah ku maupun di sekolah yang lain, dan tidak heran namaku juga banyak di kenal oleh para remaja pria di sekolah ku. Atas tuntunan karirku dalam bidang sastra itulah yang membuatku berpikir kalau aku berhijab akan berpengaruh terhadap kecintaan ku kepada dunia sastra, mengingat setiap kali lomba yang aku ikuti seperti lomba tari daerah serta drama jarang pesertanya diwajibkan untuk memakai jilbab.
            Hari berganti hari, minggu berganti minggu tidak terasa aku sudah duduk dibangku SMA kelas 3 dan sebentar lagi aku akan meninggalkan sekolah ku tercinta ini, sekolah yang menjadi pijakannku untuk menuntut ilmu dan sekolah yang memberikan kesempatan bagiku untuk berkarya dalam bidang sastra, dan menghasilkan prestasi  yang ku persembahkan untuk guru-guruku serta  kedua orang tua yang aku cintai. Masih teringat dibenakku, setelah pengumuman kelulusan keluargaku berkumpul dan senyuman yang membahagiakan dari kedua orang tuaku karena aku berhasil masuk 10 besar dan meraih tingkat kedelapan dalam ujian nasional tahun itu. Mereka sangat bangga dengan prestasi yang aku dapatkan terlebih lagi aku juga lulus seleksi masuk perguruan tinggi negri (SMPTN) di Universitas Mataram dengan program studi Bahasa dan Sastra Indonesia. Jurusan yang memang aku inginkan sejak dari SMA, rupanya bidang sastra sudah sangat menyatu dengan diriku, sampai aku bertekad untuk mempelajarinya lebih dalam lagi diperkuliahan. Beberapa hari sebelum ke berangkatanku di Mataram paman datang ke rumahku untuk silaturahmi dan memberikan beberapa nasihat untukku selama nanti aku merantau di kota. Dan tanpa ada rasa bosan beliau menasehatiku lagi untuk menutup aurat, ya... mungkin nasehat tersebut merupakan nasehat yang belasan bahkan puluhan kali yang aku dapatkan darinya. Sampai akhirnya hari itu Allah menganugerahkan hidayah-NYA padaku dari  sebuah hadist yang dibacakan oleh paman. “Ada dua golongan ahli neraka yang belum pernah aku lihat, yaitu suatu kaum yang memiliki cambuk, seperti ekor sapi untuk memukul manusia, dan para wanita yang berpakaian tetapi telanjang, berlenggak lenggok (jalannya), kepala mereka seperti punuk unta yang miring, wanita seperti ini tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium wanginya, walaupun wanginya tercium dari perjalanan ini dan ini (jauhnya)” (HR Muslim).   
            Astaghfirullaah, betapa ngerinya jika aku termasuk kedalam cirri-ciri wanita yang Rasulullah sebutkan dalam hadistnya tersebut. Jangankan berharap mampu menjadi penghuni Surga, wanginya pun aku tidak akan kebagian, lalu masih kah aku harus tetap seperti ini tanpa perubahan?? Sejak itu, aku menangis memikirkan hadist tersebut, hatiku sudah mulai terbuka dan ingin memakainya, tapi ada satu hal yang mengganjal dalam pikiranku, Bagaimana nantinya tanggapan tetangga, teman-teman dekatku ketika melihat aku tiba-tiba memakai kerudung, tentunya mereka akan meledekku dan mengatakan aku sok alim. Dan benar dugaanku ketika aku berkumpul untuk perpisahan SMA  aku mengenakan jilbab mereka meledekku, ada yang mengatakan sok alim, kesambet, dan yang paling membuat hatiku teriris salah seorang teman, yang merupakan teman dekatku sendiri mengatakan”Biasanya orang  yang tiba-tiba berjilbab, ingin menutupi aibnya” MasyaAllah aku benar-benar kaget atas apa yang dilontarkannya, malam itu aku menangis ternyata keinginanku untuk berhijrah tidak disambut baik oleh meraka. Bahkan mereka malah mencaciku, sejak kejadian itu aku selalu berdoa disetiap sujudku untuk dipertemukan dengan orang-orang yang menyemangatiku untuk terus memperbaiki dari dan bertakwa kepada Allah, teman yang akan mengingatkanku ketika ku salah, dan teman yang ketika ku bersamanya aku selalu ingin mendekatkan diri kepada Allah. Karna kejadian waktu perpisahan SMA tadi, niatku untuk berhijrah semaikin surut. Namun malam itu rupanya Allah menggetarkan hatiku untuk bertekat memakai jilbab karna takut akan Azabnya dan  Bismillaah…ku putuskan untuk mulai berhijab seadanya, karena saat itu masih banyak yang belum aku tahu tentang apa saja hakikat berhijab yang sesungguhnya , dan bagimana cara berhijab yang benar sesuai syariat. Celana jeans masih sering ku padukan dengan kerudung dan baju lengan panjang, Saat itu, aku sudah merasa cukup dengan perubahan penampilanku, bukankah sekarang aku sudah lebih baik dengan kepala terbungkus kerudung? Aku sempat berbangga diri karena mampu berhijab dengan trendy dan modis dengan celana jeans, tidak seperti kebanyakan akhwat-akhwat yang sering aku temui dengan baju longgar dan kerudung lebarnya yang terkesan tidak tahu mode dan lebih mirip penampilan ibu-ibu, padahal nyatanya cara berhijabku yang masih jauh dari benar.
            Ketika aku sudah berada di kota Mataram, tempatku untuk menuntut ilmu, aku sangat bahagia dan berjanji akan belajar sungguh-sungguh untuk membanggakan kedua orang tua ku. Di samping itu aku juga bertekat untuk memperbaiki diri menjadi wanita sholeha, dan alhamdulillah jilbab yang aku kenakan dari sebelum ke mataram masih tetap ku pakai walaupun belum syar,i. Sehingga pada akhirnya Allah mentakdirkanku untuk bertemu dengan orang-orang yang hebat, pada saat ospek terakhir fakultas, ada kegiatan perkenalan Unit Kegiatan Mahasiswa Fakultas ( UKMF ) dan salah satunya ada lembaga dakwah Fakultas (LDF) dan subhanallah hatiku bergetar  dan aku merasa tentram melihat para akhwat yang berjilbab panjang dan lebar sembari membagikan bunga kepada kami Mahasiswa baru. Ya Allah... Apakah ini jawaban dari doa-doaku selama ini untuk mempertemukan aku dengan orang-orang yang membuatku lebih dekat dengan-Mu, Ya Allah aku ingin seperti mereka yang terlihat anggun dengan kain yang menutupi tubuh mereka. Ya Allah jika memang engkau mentakdirkanku bersama mereka permudahkanlah jalanku. Dan keesokan harinya dengan penuh semangat aku melangkahkan kakiku menuju sekret LDF tersebut, dan ketika sampai di tempat itu aku disambut dengan penuh hangat oleh para akhwat. Sejak saat itu aku bergabung dengan mereka, kajian demi kajian aku ikuti dan alhamdulillah berkat markas yang ku namakan rumah kedua, yang bersedia mengulurkan tangannya dengan senyuman yang tulus  Perlahan aku mulai merubah penampilanku menjadi lebih syar’i, aku mulai mencintai baju longgar dan kerudung lebarku, aku mulai menjadi penggemar gamis yang dulu ku pandang sebagai pakaian khusus ibu-ibu, Subhanallah... jika aku mengingat kembali cara pandangku dulu, ada satu pelajaran yang aku ambil,bahwa “ Jika kita sudah benar-benar mencintai Allah, kita akan mencintai sesuatu yang dulunya kita benci namun Allah sukai dan meninggalkan sesuatu yang dulunya amat kita cintai namun tak Allah Sukai sebagai bentuk ketaatan kita untuk meraih Rahmat dan Ridha-Nya. Aku mulai gemar membaca buku-buku motivasi islami, mengikuti majelis-majelis ilmu, terus dan terus belajar memperbaiki diri, memperbanyak pengetahuan agama, agar aku tidak lagi mendzalimi ragaku dengan sebuah kesalahan karena keawaman.
            Berhijab adalah langkah termudah untuk mengawali sebuah perubahan besar sebagai seorang muslimah yang bertaqwa, maka saya sungguh tidak mengerti jika masih ada muslimah yang berpendapat untuk menghijabi hati terlebih dahulu sebagai alasan keengganannya menutup aurat, bahkan kesalahan saudarinya yang sudah berhijab namun banyak melakukan hal-hal negative pun ikut di kambing hitamkan.Betapa sulitnya memperbaiki akhlak, bahkan prosesnya seumur hidup, lalu sampai kapan kita menunggu memperbaiki hati terlebih dulu dalam ketidak pastian? Sedang kematian selalu mengincar, akhlak tak kian baik, berhijab pun tidak dilaksanakan, lalu mana hasil pencapaian ketaatan kita? Menjadi shaliha membutuhkan step by step, dan menutup aurat adalah first step untuk menjadi shalihah. Maka jika kita punya cita-cita menjadi shalihah namun enggan memulai langkah awal, kapan kita akan memulai langkah lainnya? Sedang tugas ketaatan yang lain masih menumpuk. Dan Alhamdulillah kini aku semakin istiqomah untuk berhijab dan terus memperbaiki diri karna sesungguhnya “Walaupun aku sudah berjilbab syar’i, bukan berarti aku puas. Sebab dengan berjilbab syar’i, ini adalah langkah awal memperbaiki diri. Dan lebih upgrade lagi sama amal ibadah dan ilmu agama. :’)dan yang paling penting adalah Hidayah. Hidayah itu dijemput, bukan ditunggu. Allah punya segala macam cara dan segala macam perantara untuk menyadarkanku. Allah Maha Besar :’)