Semuanya berawal dari pertama kali aku menginjak bangku SMA. Saat itu begitu banyak ekstrakulikuler yang aku ikuti, salah satunya adalah bela diri (Taekwondo).
Yaahh.. disanalah pertama kali aku bertemu dengan dia, sosok yang tak aku kenal. Anggap saja namanya Ahmad.
Sore itu ketika latihan telah usai, dia pun menyapaku dan meminta nomor Hp aku. Aku berfikirnya sih Cuma buat nambah teman aja, jadi aku berikan nomor Hpku.
            Dddrrrttt,,, malam itu dering sms dari hpku berbunyi, dan ternyata pengirim sms itu adalah dia. Akupun merespon sms darinya.
Hari-haripun berganti, dan aku semakin sering saling berhubungan melalui hp, kalau malam ini chat dengannya, ya besok malam telponan dengannya. Begitu seterusnya.
Sampai pada suatu malam, diapun mengutarakan isi hatinya. Yaa kalau anak remaja sih bilangnya  ditembak gitu :D
Karena aku merasa nyaman setelah chat dan telponan dengannya, akupun menerimanya. Dan kami resmi berpacaran.
Hari-hari ku habiskan bersamanya, kadang setiap minggu kami keluar untuk jalan-jalan layaknya anak remaja sekarang dan itupun tanpa sepengetahuan dari orangtua ku. (Jika mengingat semua itu betapa derasnya air mata ini mengalir karena berapa ribu dosa yang telah ku buat).
Bahkan bukan hanya sekedar jalan-jalan saja, kamipun bergandengan tangan, dan sesekali tangannya berada di pinggangku.
Sampai akhirnya aku memasuki masa kuliah disalah satu universitas suasta. Akupun masih berpacaran dengannya. Bahkan hubungan pacaran kami semakin parah dalam hal dosa.
Karena aku tinggalnya di kos, dia sering mencariku ke kos. Duduk berdua saling berpegangan tangan dan berpelukan, dan bahkan sesekali menciumku. (Ya Allah pantaskah hamba-Mu ini mencium bau surga).
Dan pada suatu hari aku dipertemukan dengan empat orang teman wanita dikelas yang perlahan-lahan mengubah kepribadianku. Awalnya kami hanya teman bermain saja, berlanjut menjadi teman kelompok diskusi dan akhirnya kami menjadi sahabat.
Makan bareng dan tidur bareng adalah salah satu kebiasaan kami. Ketika kami menginap disalah satu rumah dari kami, entah hati ini merasa teriris dengan rasa iri. Bagaimana tidak iri? Mereka sholat tepat waktu, setelah sholat mereka melantunkan ayat-ayat suci al-qur’an dan bahkan sholat-sholat sunnah mereka selalu kerjakan. Mereka pacaran? Ia mereka semuanya pacaran. Tapi perlahan-lahan mereka mulai berhenti pacaran dan istiqomah untuk berhijrah.
Lantas bagaimana denganku? Yaa waktu itu hanya aku sendiri yang masih bertahan bersama lelaki yang belum tentu jodohku dan bahkan lelaki yang belum halal bagiku. Karena rasa sayang yang begitu besar, dan rasa ingin mempertahankan hubungan yang begitu tinggi.
Namun hati ini berkata “sampai kapan diri ini akan terus begini? Untuk apa sholat jika aku masih berbuat maksiat? Untuk apa aku melakukan ibadah jika ada larangan terbesar-Nya yang aku langgar”. Kalimat-kalimat itu selalu terpikirkan oleh diri ini. Disisi lain aku sangat mencintainya dan disisi lain aku tau cinta ini salah.
Pada akhirnya hubunganku dengannya genap berjalan selama 4 tahun. Waktu yang tidaklah singkat. Namun hati ini semakin hari semakin menarikku untuk berhijrah.
Ketika itu, aku berkelahi melalui sms di hp. Berkelahi tanpa sebab selama tiga hari berturut-turut, dan aku mencoba bertanya “ maumu apa sebenarnya? Kamu mau putus? Dan diapun menjawab iya”.
Sejak hari itu hubungan kami berakhir. Sedih memang, tapi sahabat-sahabatku selalu ada memberikan nasehat dan semangat..
Seminggu berlalu, dia kembali lagi menghubungiku, untuk meminta maaf dan meminta kembali lagi bersamaku. Namun kuberikan alasan, kalau aku ingin hijrah. Ingin membuang jauh perbuatan maksiat tersebut. Setelah menjelaskannya dengan baik akhirnya dia pun menerima alasannku dengan satu syarat yaitu tetap berteman dengannya dan tanpa ada rasa dendam. Alhamdulllah aku bersyukur dia bias menerima alasanku, dan bahkan syaratnya aku terima karena aku juga tidak ingin memutuskan jalan silaturrahmi sesama muslim.
Semenjak itu aku mantapkan hati ini untuk berhijrah, aku mulai menghapus semua kenanganku bersamanya. Aku mulai menggunakan baju-baju longgar yang selama ini tersimpan di lemari kamarku. Aku mulai selalu menggunakan hijab-hijab nontransparan.
Begitu banyak cibiran-cibiran diluar sana tentang perubahanku. Bahkan sesekali ketika aku berkumpul dengan teman-teman SMA ku mereka berbicara didepanku sendiri dengan berkata “ah palingan itu sampai seminggu atau tidak sebulan”.
“tidak mungkin dia putus sama pacarnya, palingan besok balikan”.
Seperti itu kira-kira perkataan yang masuk dari pendengaran ini, lain lagi dengan orang yang dengan sengaja menyindir-menyindirku.
Sedih memang, ketika suatu usaha untuk berubah tak dihargai, namun lain halnya dengan sahabat-sahabatku. Mereka selalu mengajakku untuk mendekatkan diri pada-Nya. Baik itu seperti mengerjakan sholat-sholat malam dan sholat sunnah yang lain, berpuasa setiap hari senin dan kamis, dan bahkan seminar-seminar muslimah termasuk juga seminar insrpiratif “Hijab True Story”.
Begitu bersyukurnya memiliki sahabat seperti mereka. Selain itu keluarga yang mendukung akan perubahanku, terutama Ayah yang selalu memberikan nasehat-nasehat menjadi wanita yang baik sesuai islam.
Dan Alhamdulillah semuanya sudah berjalan selama 5 bulan. Mungkin bukan waktu yang lama, tapi setidaknya aku bisa sedikit demi sedikit merubah diri ini dan bisa lebih mendekatkan diri pada-Nya bukan mendekatkan diri pada leaki-laki yang belum halal bagiku. Dan  meski jilbabku tidaklah besar dan terurai panjang kebawah, tetapi setidaknya jilbab dan pakainku bias menutupi bentuk lekukan tubuhku (read: aurat). Dan akupun yakin dengan keputusan perubahanku saat ini.