Assalamu’alaykum.Wr.Wb.
Allhamdulillahilladzi arsala rasulahu bilhuda wadinil haq,
liyuzhirahu ‘aladdini kullih Wakafaa billahi syahida..
Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan alam semesta, manusia dan kehidupan. Segala puji bagi Allah yang telah memasukkan siang ke dalam malam, dan telah memasukkan malam ke dalam siang. Segala puji bagi Allah yang telah memberi petunjuk, yang jika ditunjuki jalan yang lurus oleh-Nya, maka tidak ada yang dapat menyesatkan. Dan orang yang apabila telah dikehendaki kesesatan oleh-Nya maka tidak ada yang dapat memberikan petunjuk. Shalawat dan salam semoga senatiasa tercurah kepada pemimpin para Nabi, hamba kebanggaan Tuhan pemilik Arsy, Muhammad SAW Nabi yang ummi namun mampu menyebarkan cahaya islam ke seluruh penjuru bumi.
Dengan asma Allah aku menulis kisah ini. dengan mengharap keberkahan dari-Nya agar setiap kata yang tertulis mampu menyentuh relung hati orang yang membacanya. Semoga tulisan ini diliputi kebaikan dari awal hingga akhir. Semoga setiap huruf yang terjalin, setiap aksara yang teruntai dapat menjadi amal dakwah yang menginspirasi dan menggugah, sehingga setiap jiwa yang mendamba bahagia dapat kembali kejalan Allah yang Maha Pemurah. Aamiin.
Perkenalkan, aku Nurhayati. Ya, aku adalah Cahaya Kehidupan. Nama yang diwariskan kakek kepada cucu perempuannya yang kelak menjadi salah satu korban limbah sampah peradaban barat.
Aku terlahir dari keluarga yang cukup agamis. Agamis yang aku maksudkan disini adalah bahwasanya keluarga ku memahami islam hanya sebatas ibadah mahdlah (spiritual) belaka. Ya..ini memang wajah islam yang ditampilkan oleh sistem kapitalisme barat. Sehingga membuat ummat merasa agama mereka hanya mengatur masalah spiritualitas belaka. Demikianlah keluarga ku. Walaupun mereka rajin shalat, puasa, zakat, dzikiran dan aktivitas ibadah yang bersifat spiritualitas lainnya mereka belum terikat dengan hukum syara’ dalam beraktivitas jual beli, interaksi, termasuk juga dalam berpakaian. Mereka belum memahami bahwa agama ini juga adalah sebuah ideology. Ya..sebuah jalan hidup yang mengatur semua hal dalam kehidupan, termasuk didalamnya adalah masalah pakaian.

Hidup ditengah keluarga yang agamis, akhirnya membuat ku juga cukup suka belajar ilmu agama. Aku suka pelajaran agama sejak SD hingga menduduki bangku SMP. Namun perubahan drastis dalam diriku terjadi saat aku duduk dibangku SMP. Aku yang dahulunya polos saat SD, entah mengapa menjadi sangat centil dan care pada penampiln ku saat SMP. Entahlah apakah itu karena aku sudah baligh jadi wajar terjadi fluktuasi hormon sehingga menjadi hal yang wajar saat dia memperhatikan penampilan ? ataukah karena pergaulan ku? Entahlah, aku tidak tahu dan tidak mau tahu. Yang pasti aku harus berdandan secantik, sebersih, serapi dan sewangi mungkin agar aku memiliki pacar. Sebab teman-teman ku satu geng rata-rata sudah punya gebetan ! Aku tidak menutup aurat saat aku sekolah dulu. Karena memang tidak ada peraturan yang memerintahkan bahwa murid muslimah harus menutup aurat sebagaimana halnya anak-anak sekolah sekarang yang rata-rata sudah menggunakan jilbab.
Aku benar-benar sangat care pada penampilan ku saat SMP dulu. Setiap aksesoris ku selalu ku upayakan agar matching. Jika aku memakai ikat rambut warna ungu, maka anting-anting yang ku gunakan juga harus berwarna ungu. Jika aku memakai bandana berwarna kuning, maka anting-anting yang ku gunakan juga harus berwarna kuning. Hingga aku mengoleksi sekitar dua puluh pasang anting-anting dan dua kotak penuh aksesoris seperti ikat rambut, bandana, dan kawan-kawannya. Tak lupa pula, aku memakai pakaian yang sedan in kala itu. Yap, harus ikut mode. Tak lupa ku poles wajah ku dengan bedak dan lipglos. Sebab didalam fikiran ku aku harus menjadi objek perhatian teman-teman laki-laki. Yah..aku harus tampil cantik dan menarik.!
Benar saja, usaha ku itu akhirnya berbuah. Aku masih ingat dahulu ada lima orang teman laki-laki yang menyukai ku. Yang berbeda kelas termasuk juga kakak tingkat ku. Dan dua diantara lima orang itu adalah pacar ku ! Astagfirullah..
Walaupun begitu, aku tetap menyukai pelajaran agama. Aku bahkan tidak malu pergi ke toko buku dengan menggunakan baju kaos super ketat dan rok selutut atas untuk membeli buku tentang hari kiamat ? lucu bukan ? cewek dengan penampilan yang seharusnya bergenre bacaan novel atau komik.
Disekolah aku menghabiskan waktu ku untuk bermain dengan geng ku dan pacaran. Karena tidak ada waktu untuk bertemu dengan si doi selain disekolah. Orang tua ku melarang aku keluar rumah selain untuk sekolah dan belajar. Ah, aku benar-benar menyia-nyiakan masa itu dengan kegiatan-kegiatan sampah yang miskin manfaat seperti itu. Hingga akhirnya pacar ku memutuskan hubungannya dengan ku karena aku susah diajak hang out alasannya begitu. Padahal aku pernah mencoba untuk keluar bersamanya dengan menipu habis-habisan orang tua ku dulu dan aku pun berhasil melakukannya. Astagfirullah..jika aku ingat-ingat, aku benar-benar sangat parah saat itu. Tapi syukurnya aku tidak bertemu dengannya di tempat kami janjian, karena ada rasa khawatir dan tidak tenang didalam hati ku. Aku khawatir, jangan-jangan nanti ada orang yang mengenalku melihat ku. Atau jangan-jangan ibu menyuruh kakak perempuan ku yang garang untuk mencari ku. Ah, fikiran ku benar-benar kacau waktu itu. Jadi aku putuskan untuk pulang saja. Dan dia marah besar karena aku tidak datang dan pendek cerita akhirnya kami pun putus . Allhamdulillah, sesuatu hal yang kini ku syukuri.
Saat aku menginjak kelas dua SMP, aku putuskan untuk tidak lagi pacaran. Aku putuskan untuk menghabiskan waktu ku untuk bermain bersama sahabat-sahabat ku saja. Jadi aku bisa menikmati masa jomblo ku dengan tenang.
Namun sejujurnya didalam lubuk hati ku yang terdalam, entah mengapa aku merasa masih ada yang kurang. Aku merasa masih tidak tenang dan sering sedih tanpa alasan. Entahlah apa penyebabnya. Aku tidak tahu. Yang pasti aku harus tetap semangat dan menjalani hidup ku. Aku juga mulai focus untuk memperbaiki prestasi belajar ku yang ‘terjun bebas’ gara-gara kelalaian ku yang sebelumnya sibuk pacaran.
Tapi aku terus gelisah, tidak tenang. Akhirnya aku mulai memperbaiki diri. Aku mulai shalat dengan serius setalah sebelumnya shalat ku bolong-bolong gara-gara sibuk pacaran. Aku juga mulai melirik buku-buku bacaan agama yang ku koleksi. Aku mulai membaca lembar demi lembar halamannya. Aku menikmati membacanya seperti aku menikmati membaca buku-buku IPA. Tidak berpengaruh  terhadap perubahan kepribadian ku selain hanya menambah intelektualitas belaka awalnya.
Suatu ketika, saat aku melihat di jalan ada wanita-wanita yang menggunakan jilbab gede dan berjubah lengkap dengan kaos kaki, aku memandang mereka lekat-lekat. Entah kenapa aku suka melihat mereka. Aku suka melihat jilbab gede mereka yang menjuntai menutup dada. Aku suka melihat jubah besar mereka menutup seluruh lekuk tubuh mereka. Entahlah, memandang mereka sangat menyenangkan dan meneduhkan. Wajah mereka seolah bercahaya padahal tidak ada lampion terpasang diwajah itu. Mereka terlihat begitu cantik dan anggun walaupun tanpa bedak dan lipstick. Walaupun kerudung dan jubah mereka modelnya polos-polos saja. Tapi kok Adem sekali ya. J Hingga di dalam lubuk hati, aku berbisik, bahwa aku ingin agar kelak aku bisa menjadi seperti mereka.
Hingga tiba saatnya suatu hari, Ibu Guru IPS disekolah yang terkenal galak dan killer membuat sebuah agenda renungan di kelas kami. Beliau dengan lembut mengajak kami berfikir tentang nikmat-nikmat Allah yang telah diberikan-Nya kepada kami. Tak lupa juga mengajak kami berfikir tentang bagaimana jerih payah orang tua dalam mendidik dan membesarkan kami. Dan yang paling menohok adalah, beliau mengajak kami berfikir tentang kontribusi apa yang telah kami lakukan untuk mensyukuri nikmat Allah dan pemberian orang tua tersebut ? Dengan bahasa beliau yang lembut namun tajam menusuk-nusuk kesadaran ku yang tertutupi oleh hawa nafsu, aku pun sontak, menagis keras seketika itu. Barulah aku sadar ternyata aku adalah manusia durjana fasik yang tidak tahu bersyukur. Apa jadinya jika Allah mencabut nyawa ku padahal aku masih dalam kubangan kemaksiatan seperti itu ? oh.. neraka dan siksaannya telah terbayang-bayang dalam fikiran ku.
Setelah pertemuan pada agenda renungan itu. Aku terus berfikir. Aku kembali membuka buku-buku bacaan agama koleksi ku. Hingga akhirnya sekitar satu minggu setelah agenda renungan itu, aku berkomitken serius bahwa aku harus menutup aurat. Aku masih ingat, hari pertama ku ke sekolah menggunakan baju lengan panjang, rok panjang lengkap dengan jilbab yang menjuntai menutupi dada sebagaimana yang ku idam kan, adalah hari sabtu, jadi aku memakai baju pramuka saat itu. Sontak, seluruh mata di sekolah tertuju pada ku. Tapi entahlah, apa itu benar-benar tertuju pada ku atau pada pakaian ku yang kusam yang ku dapatkan dari bibi yang pernah dipakainya saat nyantren beberapa puluh tahun yang lalu. Itu karena orang tua tidak punya uang untuk membelikan ku seragam baru waktu itu.
Sindiran, cibiran, cacian dari teman, bahkan dari keluarga ku yang menyakitkan hati telah terbiasa ku telan sejak awal aku memutuskan untuk menutup aurat. Sahabat-sahabat ku di sekolah yang masih istiqomah pacaran, tidak menutup aurat mulai ‘berjarak’ dengan ku. Yah.. kita sudah tidak sependapat lagi. Kita sudah tidak sepemahaman lagi. Namun demikian aku tetap menjalin pertemanan dengan mereka. Sedih rasanya hati ku saat itu..
Tapi sungguh Maha Besar Allah dan Maha Luas Kasih Sayang-Nya. Dia mengganti teman-teman ku yang menjauhi ku karena ketaatan itu, dengan teman yang lebih baik. Saat aku duduk di bangku kelas tiga SMP aku dipertemukan-Nya dengan seorang akhwat. Beliau biasa ku sapa mbak Eva. Beliau kebetulan satu kontrakan dengan bibi ku. Jadi saat aku ingin bertemu dengan bibi, terkadang aku bertemu dengan beliau. Sehingga semakin besarlah kerinduan ku untuk mendalami islam semenjak bertemu dengan beliau.
Setelah aku lulus SMP dan duduk dibangku SMA, mbak Eva sering menawarkan ku untuk mengikuti kajian. Aku pun dengan senang hati mengiyakan. Dan Masyaa Allah, kajian yang ku hadiri bersama beliau itu berisi para akhwat yang semuanya menggunakan jilbab gede dan jubah. Ah, tipikal wanita yang suka aku lihat. Betapa senangnya. Seolah ketiban durian runtuh. Forum ilmu itu rata-rata diikuti oleh mahasiswa dan betapa mindernya saat aku mengetahui bahwa hanya aku yang masih SMA !
Namun demikian, aku tetap berupaya hadir dengan didampingi mbak Eva. Karena aku mau taat. Karena aku mau berubah. Karena aku mau berhijrah. Hingga tibalah suatu kajian yang membahas masalah pakaian muslimah. Alangkah anehnya aku mendengar pematerinya menyebutkan bahwa pakaian syar’i untuk menutup aurat muslimah jika ia ingin keluar rumah itu adalah dengan jilbab dan kerudung. Oalah, bukannya sama ya ? fikir ku. Tapi mengapa kemudian menyebutkan dan menggandeng hal yang sama dengan kata ‘dan’ bukan kata ‘atau’ ??
Ternyata apa yang ku fahami selama ini sebagai jilbab adalah SALTO, alias salah total! Ternyata jilbab itu menurut kamus al-Muhith adalah pakaian yang berbentuk sidrab (terowongan). Artinya pakaian itu tidak terpisah antara bagian atas dan bawah. Adapun menurut kamus al-Jawhari, jilbab adalah milhafah (mantel/jubah) dan disebut juga sebagai mula’ah (baju kurung) yang dalilnya terdapat dalam QS.Al-Ahzab ayat 59. Jadi sederhananya jilbab itu adalah gamis. Sementara kerudung dalam bahasa Arab disebut sebagai khimar yang artinya adalah pakaian yang menutupi kepala, leher, dan dada. Yang dalilnya ada di dalam QS.An-Nuur ayat 31. Jadi khimar adalah kerudung. Aku terdiam sejenak mendengar penjelasan itu. Ternyata selama ini aku salah memahami makna jilbab. Jilbab yang ku fahami ternyata ku standarkan dengan standar pemahaman masyarakat Indonesia yang memahaminya sebagai kerudung. Aku tidak tahu bahwasanya jika ada makna atau istilah-istilah yang tidak difahami dalam Al-Qur’an maka harus di kembalikan kepada bahasa asal Al-Qur’an yakni bahasa Arab dan juga penafsiran dari para mufassirin. Astagfirullah.. berarti selama ini aku hanya memakai kerudung saja ? fikir ku.
Setelah ku dapatkan terang benderang kebenaran itu, aku berusaha untuk mengumpulkan uang ku untuk membeli jilbab (gamis). Hingga pada akhirnya dengan rizki dari Allah, aku dapat membeli jilbab. Yah, jilbab pertama ku berwarna biru muda penuh dengan bordiran bunga yang manis. Ternyata memang lebih mudah membeli gamis langsung dari pada harus membeli baju lalu membeli rok fikir ku. Lalu bagaimana caranya agar aku dapat mengganti jilbab ku jika kotor ? Aku tidak kehilangan akal. Aku mengobok-obok lemari ibu sehingga aku menemukan daster ibu yang dapat ku pakai sebagai jilbab ganti jika jilbab pertama ku kotor.
Ibu heran saat melihat ku memakai daster beliau. Beliau berfikir bahwa aku hanya sekedar beramain-main saja memakainya. Saat ku jelaskan bahwasanya jilbab dan kerudung itu berbeda, aku mendapat gesekan cukup keras dari beliau.
“sudahlah nak, tidak usah berlebihan..sekedarnya saja lah tutup aurat..” kata beliau memelas
“tapi ini perintah Allah bu..” jawab ku membela diri.
Namun Allhamdulillah, setelah beberapa lamanya clash dengan beliau. Akhirnya beliau mau mengerti dan memahami keputusan ku. Dengan izin Allah, setelah aku coba untuk mendakwahi beliau secara soft, akhirnya beliau yang sebelumnya tidak menutup aurat pun sekarang sudah menutup aurat. Allhamdulillah.. yang ku alami  terkadang komentar dan persepsi seseorang itu akan lebur dengan sendirinya karena menyaksikan keistiqomahan kita.
Demikianlah, dengan rahmat dan karunia-Nya akhirnya aku benar-benar menutup aurat sesuai tuntunan syara’ menggunakan jilbab dan kerudung sejak aku duduk dibangku kelas dua SMA. Berkat bantuan dari teman-teman mbak Eva, aku juga bisa menyambung semua seragam sekolah ku yang berbentuk potongan (baju dan rok) menjadi gamis dengan sedikit kreasi dan kreatifitas. Allhamdulillah aku juga memakai jilbab (gamis) saat olah raga dulu. Aku memakai jilbab yang warnanya sama dengan warna baju olah raga ku. Baju olah raganya kupakai diluar jilbab seperti memakai jaket, dan celana training olah raganya ku pakai di dalam jilbab. Aku lari estafet, bermain voli, bermain basket disekolah dengan jilbab. Allhamdulillah bi ni’matillah..
Suatu hari didepan teman sekelas, pak guru olah raga memanggilku dengan nada tinggi.
“Nurhayati…??” suara beliau lantang sambil mencari dimana tempat duduk ku.
“hm.. iya pak ?” jawab ku gugup. Aku kaget dan juga takut. Ada apa ? apa aku tidak diberikan izin memakai jilbab saat oleh raga lagi ? apa aku akan dilarang ? bisik ku dalam hati.
“Nih.. contoh Nurhayati nih, tugas olah raganya bagus dan lengkap sekali..” kata beliau memuji ku di hadapan teman-teman sekelas.
Masyaa Allah, aku benar-benar gugup sekaligus terkejut. Aku fikir tadi ada masalah apa. Maha Benar Allah yang sudah berjanji akan menolong setiap orang yang mau menolong agama-Nya. Subhanallah..
Allhamdulillah, sejak kelas dua SMA hingga sekarang aku tetap memakai pakaian yang disyariatkan Allah ini. aku merasa tenang dan nyaman sekali. Aku tidak perlu pusing-pusing lagi mencari perhatian manusia. Aku tidak perlu pusing-pusing lagi memikirkan aksesoris apa yang perlu ku pakai. Aku tidak peduli lagi mode pakaian apa yang sedang in. karena saat ini aku sudah terbebas dari perbudakan mode dan fashion. Setelah aku faham makna cantik yang sesungguhnya. Setelah aku faham bahwa cantik dalam islam itu sederhana. Karena cantik itu shaliha. Dan salah satu tanda keshalihaan itu adalah dengan tertutup nya aurat kita oleh hijab syar’I (jilbab dan kerudung) yang telah disyariatkan-Nya. J Aku bersyukur terbebas dari doktrin Barat yang sekuler dan kapitalistik yang mendefinisikan cantik hanya sebatas pada fashion dan kemolekan fisik wanita saja. Itulah, penyebab wanita zaman sekarang tak ada habisnya mengejar definisi cantik fisik ala barat itu hingga mereka rela mengeluarkan uang puluhan jutaan rupiah hanya untuk mengurusi wajah dan badan yang nanti tidak akan dihisab bagaimana rupanya oleh Allah !!
Dan setelah mengkaji dan menjalani proses perenungan yang mendalam, aku faham bahwa masa-masa dimana dahulu Allah menguji komitmen ku untuk berubah itu sebentar masanya dan cepat berlalu nya. Sehingga tidaklah cacian, makian, sindiran orang yang dulu pernah ku terima saat memulai menapaki jalan ini, kini hanya menjadi sebuah kenangan yang telah berlalu digulung waktu. Ternyata sindiran dan cibiran mereka itu tidak bertahan lama. Lisan mereka akhirnya lumpuh karena melihat keistiqomahan ku memagang agama ini. Bahkan beberapa diantara mereka kini membela ku jika ada orang yang mencoba mengatai aku macam-macam. Allhamdulillah…upaya berhijab ku, yang dulu ku mulai dari nol itu kini menjadi keberhasilan.
Dan akupun juga sadar, orang-orang yang mengatai ku fanatic lantaran mengemban islam ini, mereka sesenungguhnya tidak sadar bahwasanya semua orang itu fanatik. Tidak ada orang yang tidak fanatik. Hanya saja bedanya ada yang fanatik taat dan ada yang fanatic maksiat. Tidak ada yang bisa mengatakan yang penting shalat bagus, walau tidak berhijab. Yang penting hati dan akhlak bagus walau tidak berhijab. Dan yang penting-yang penting lainnya. Karena agama ini menuntut totalitas dan tidak ada daerah abu-abu dalam agama ini. Dan karena tempat kembali pun hanya dua saja. Kalau tidak syurga..ya neraka.
Oh..Negeri akhirat nun jauh disana, kini terasa semakin mendekat. Semoga Allah mengistiqomahkan kita dalam ketaatan kepada-Nya dan kelak memasukkan kita kedalam rahmat dan syurga-Nya yang seluas langit dan bumi. Semoga Dia juga berkenan memberikan kita kesempatan untuk menatap wajah-Nya yang kekal abadi. Yah..memandang wajah Tuhan yang aturan-Nya untuk menutup aurat kita taati. Tidak kah kita ingin berjumpa dengan-Nya yang amat mencitai kita lagi Maha Tinggi ?


Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam syurga-Ku.
(QS.[89] : 27-30)

Tidak ada yang dapat mengubah diri kita, selain kita sendiri.. karena sejatinya hidayah untuk berubah atau pun berhijrah itu sudah ada, tinggal menunggu untuk dijemput oleh kita saja.
Mohon maaf apabila ada kesalahan kata.
Semoga bisa menginspirasi..

Wassalamu’alaykum.Wr.Wb.


Al-Faqir Nurhayati Binti Abdul Hakim