Pagi itu cukup berbeda dengan pagi lain yang telah lalu karena Andri terbangun dari tidur malamnya yang cukup singkat. Semalam suntuk matanya sulit terpejam, pikirannya terus menerawang memikirkan permasalahan akut yang selama ini telah terjadi di desanya.
Segala tetek bengek permasalahan yang ada semata-mata diakibatkan oleh fasilitas hidup yang minim dan jauh dari kata bersih sehingga wabah penyakit demam berdarah (DBD) pun tak mampu diredam.  Selama ini Andri terus berpikir dan meyakinkan diri untuk membantu menyelesaikan persoalan tersebut walaupun terkadang sanubarinya sering ciut setelah mengingat statusnya yang telah menyandang gelar “anak putus sekolah”. Akan tetapi, dia tetap berusaha meyakinkan diri bahwa suatu saat nanti idenya pasti akan menghasilkan sesuatu yang bisa membuat orang tuanya dan masyarakat desanya bangga dan tidak meremehkan orang yang mau berbuat walau dalam kondisi yang memperihatinkan.
            “Tik.. tik… tik”, suara rintik hujan membuat Andri berpikir, apa yang harus dilakukan atas ide yang telah ia temukan selama bersemedi bersama pikirannya malam tadi. Haruskah dia memberitahukan idenya ke Ibu dan Ayahnya? Kali ini dia cukup dilema dengan segala pilihan yang dihadapinya untuk menyelesaikan masalah atau memilih berpangku tangan menunggu seseorang yang akan datang dan menjadi “malaikat penolong” di desanya. Namun, sejenak kemudian ia mengurungkan niat karena berpikir jika orang tuanya tidak akan menerima apa yang akan ia utarakan.
“Andri sudah bangun? Keluarlah, sarapan sudah siap nak!”, ayah memanggil Andri sambil mengetuk pintu kamar. “Iya Ayah, 5 menit lagi Andri keluar”, Andri segera mengambil sisir dan memoles kepalanya di depan cermin tua yang agak kusam.

            Setelah rapi, Andri pun bergegas keluar kamar menuju ruang makan sederhana yang ada di samping dapur. Di atas gelaran tikar itu telah mengepul asap kecil dari nasi hangat yang baru selesai ditanak oleh ibunya. Hidangan sederhana yang cukup dijadikan pengganjal perut. Ia duduk disamping adik kecilnya yang bernama Ratih. Saat itu Ratih duduk dengan wajah pucat dan kondisi lemah. Ternyata, penyakit demam berdarah telah menderanya saat itu. Tiba-tiba Ratih memanggil Andri dengan suara yang lirih sehingga sayup terdengar.
“ Kak? Mau menemani Ratih ngobrol tidak? Ratih bosan karena tidak ada teman”, ungkap Ratih dengan nada memelas.
“Ratih mau main apa? Tunggu kakak selesai membersihkan meja makan ini ya? jawab Andri dengan perasaan mengiba.
Ratih menganggukkan kepalanya perlahan menandakan dia menyetujui permintaan Andri dan menunggunya dengan sabar. Pada saat bermain, Andri berkata kepada Ratih, “doakan kakak ya supaya bisa menjadi dokter bagi Ratih? Dokter yang bisa menyembuhkan Ratih biar bisa bermain lagi seperti biasanya”, Andri berkata sambil merawang mata Ratih dengan penuh perasaan persaudaraan.“Kalau kakak jadi dokter, berarti kakak bisa membuat obat untuk Ratih dong dan bisa mengusir nyamuk yang sering menggigit Ratih? Ratih lelah digigit terus, nyamuknya sudah membuat Ratih sakit seperti ini”, tukas ratih dengan polos.
Andri menitikkan air mata, tak sanggup mendengar permintaan Ratih yang sekarang hanya bisa duduk dengan lemah di atas tikar yang penuh lubang disana sini. Andri menatapnya penuh belas kasihan, apa yang harus diberikan untuk adik yang sangat ia cintai. Percakapan mereka pun terhenti karena mata Ratih telah penat dan menunjukkan kalau ia akan ingin menutupnya seolah hendak larut dalam lelapnya yang panjang. Tanpa disadari Andri, ternyata adiknya telah meninggalkannya dan terlelap untuk selamanya. Berita kematian Ratih ia peroleh ketika berada di sungai.
***
Malam harinya, semua orang berkumpul dirumah Andri, bendera kuning dikibarkan menandakan salah seorang Hamba Tuhan telah  kembali ke tempat asalnya dan meninggalkan dunia  ini. Ayah dan ibunya nampak sibuk menyambut para tamu yang datang ke rumah mereka. Raut wajahnya menampakkan senyum yang menggambarkan kepedihan dan kehilangan yang harus mereka sembunyikan dengan senyuman yang cukup sulit mereka ukir di bibir mereka. Andri melihat Ratih, telah ditutupi kain putih bersih yang baru dibeli oleh Ayah. Andri tak sanggup menatapnya dalam waktu yang lama. Ia keluar ruangan dengan air mata yang tertahan dan berusaha menjadi tegar dalam menghadapi musibah itu. Ayahnya terus berdiri di sampingnya walaupun ia abaikan. Sampai beberapa saat kemudian ia menegurnya.
            “Ayah mau apa? Kenapa tidak menyelamatkan Ratih? Kenapa malah sibuk mengurusi hal yang tidak penting?” kata Andri dengan sinis.“Maafkan Ayah nak! bukannya ayah tidak ingin melihat Ratih sembuh, tapi kamu sendiri sudah tahu bagaimana sulitnya memanggil seorang dokter ke desa kita? Ayah tak bisa berbuat apa-apa selain sabar menunggu bantuan obat-obatan dari kota. Dari dulu Ratih sudah mengidap penyakit demam berdarah, ayah tak punya uang untuk membelikannya obat”, jelas ayahnya dengan penuh kesedihan dan penyesalan.“mengapa ayah tidak menggunakan obat tradisonal? Ayah tahu sendiri kan, di desa kita ini banyak sekali tanaman yang bisa dijadikan obat. Mengapa tidak menggunakan itu? Andri terus berkata seakan melupakan keterbatasan ayahnya yang tidak pernah mengenyam bangku pendidikan. Akan tetapi, sebenarnya ia juga merasa menyesal karena tidak membantu ayahnya mencari solusi yang terlambat ia sampaikan. Nasib putus sekolah yang ia jalani seolah telah membuatnya sedikit kecewa kepada keluarga, terutama ayahnya.
            “Dengarlah Andri, ayah tidak suka dengan pengobatan tradisonal. Karena semua itu percuma, tak ada obat tradisonal yang bisa menyembuhkan wabah demam berdarah di desa kita ini. Hanya dokter yang bisa melakukan itu. Bukankah kau justeru lebih mengerti dengan dunia kesehatan. Tidak seperti ayahmu ini. Orang tua yang tidak pernah sedikitpun duduk di bangku sekolah”, timpal ayahnya dengan ketus untuk mengakhiri perdebatan yang terjadi.
“Benarkah? Apakah ayah masih ingat saat Ayah mengalami masalah buang air besar? Andri yang membuatkan ayah ramuan dari daun jambu biji, saat Ayah tak nafsu makan Andri mencarikan ayah temulawak untuk obat, saat ayah…“. Belum sempat menyelasaikan perkataannya tiba-tiba ayahnya memukul meja dengan sekuat tenaga dan membuat seisi rumah kecil itu terkejut. Ayah Andri merasa geram akibat tuduhan Andri yang telah menggapnya lalai sebagai seorang ayah.
“Kamu ingin apa? Ayah seperti ini karena ayah tidak ingin kamu dianggap sebagai dukun, kamu pasti berpikir jika pemikiran ayah ini sangat awam kan? Ayah tahu itu, tapi cobalah mengerti Andri. Kita hanya orang desa yang harus taat pada panutan dan aparatur desa”, ayah Andri langsung berlalu dan membiarkannya seorang diri. Andri pun hanya terdiam sambil melihat langkah Ayahnya yang masuk ke dalam rumah. Tiba-tiba ibunya langsung datang untuk melihat apa yang terjadi dan mencoba menenangkannya dengan memeluk dan mengelus rambut Andri secara perlahan sambil menitikkan air mata.
            “Taukah kamu Andri, alasan ayahmu melarang membantu menyelesaikan permasalahan wabah penyakit demam berdarah ini? Karena dia dulu juga sepertimu, dia pernah mencoba membuat ramuan tradisional agar penyakit rematik seseorang bisa sembuh, tapi saat ramuannya berhasil dia malah difitnah oleh seseorang bahkan dituduh telah melakukan malpraktik. Kejadian itu hampir saja membuatnya dihajar masa tapi untung ada dokter yang datang dari kota dan berusaha menenangkan para warga dengan memberitahu bahwa ramuan yang dibuat ayahmu tidak mengandung zat berbahaya hingga sampai saat ini ayah tidak pernah membuat ramuan lagi”, jelas ibunya dengan mata berlinang. Andri hanya terdiam mendengar cerita ibunya, ia mencoba bertanya dalam hati akan kebenaran cerita yang tersebut di dalam hati tanpa mengutarakannya. Bahkan ia sempat berpikir jika hal itu dikatakan ibunya sebagai salah satu siasat agar ia tidak melanjutkan niatnya untuk membuat pencegah demam berdarah ini.
***
Tak terasa waktu telah berjalan dua bulan lamanya setelah Ratih meninggalkan  rumah yang sederhana itu. Hari itu pun Andri berniat mengunjungi makam Ratih dengan membawa bunga, air mawar dan Al- Qur’an. Ia berjalan menyusuri jalan setapak yang penuh lumpur dan genangan air akibat derasnya hujan saat malam hari. Bulan Agustus ini memang sering terjadi hujan, akibatnya banyak genangan air di tempat sampah ditambah dengan menumpuknya sampah di sana sini. Itulah yang menjadi penyebab terjadinya wabah penyakit demam berdarah.
            Akhirnya Andri sampai juga di tempat peristirahatan terakhir Ratih, pusaranya masih nampak terawat walaupun suasana di sekitar agak kumuh karena semak belukar yang belum sempat dibersihkan warga. Oleh karena itu, Andri pun berusaha membersihkannya dengan tangan kosong. Saat asyik membersihkan makam adiknya, Andri melihat sebuah tanaman yang menarik perhatiannya. Kemudian ia mencoba memetik daunnya dan mulai mencium aromanya, seperti aroma jeruk nipis, aroma itu menenangkan pikiran sangat cocok sekali untuk dibuat sebagai bahan herbal anti nyamuk pikirnya dalam hatinya. Saat itu juga, Andri mendapatkan sebuah ide untuk membuat minyak oles dari daun yang ditemukannya ini, tapi apa nama daun ini?”, tanya Andri dalam hati sambil mengambil beberapa helai daun yang dengan sekilas ia niatkan untuk uji coba di rumah nantinya. Sesampai di rumah, ia pun mulai melakukan percobaan dengan mengekstrak daun yang tak lain sebenarnya bernama daun legundi.
Usai mengekstrak daun tersebut, Andri berpikir akan apa yang kurang dalam percobaannya kali ini? Ia terus berusaha mencari solusinya hingga melihat dua butir kelapa tua di samping pintu dapur rumahnya. Ia pun langsung berpikir sejenak untuk mencoba mengekstrak minyak kelapa dengan daun legundi tersebut. Ternyata pimikiran dan idenya tersebut terus ia tekuni bahkan coba ia sampaikan kepada beberapa laboran dan apoteker puskesmas yang sering datang berkunjung ke desanya walaupun tidak terlalu direspon.
            Sampai pada akhirnya, percobaan dari daun legundi dan sari minyak kelapa Andri dapat diselesaikan dengan cucuran keringat dan tekad yang kuat. Ia bahkan melakukan semua proses yang ia ketahui dan pikirkan dengan cekatan dan penuh kehati-hatian. Pertama, daun tersebut ditumbuk dan setelah ditumbuk diperas kemudian dicampur dengan minyak kelapa yang telah disiapkan sebelumnya sampai minyak tersebut tercampur dengan rata dan mengeluarkan aroma khas daun lagundi.
Suatu malam, Andri melihat ibunya sedang menggaruk tangannya akibat gigitan nyamuk dan ia pun menawarkan ibunya untuk mencoba minyak sari kelapa dan daun legundi yang telah ia buat.“Ibu digigit nyamuk ya? Sini  biar Andri oleskan minyak supaya tidak digigit lagi”, seru Andri sambil mengambil botol berisi minyak sari daun legundi.Minyak apa itu nak? Aromanya seperti daun legundi, selidik ibunya dengan penuh penasaran.
Andri tersenyum mendengar pertanyaan ibunya dan ia pun langsung menjelaskan bagaimana ia bisa menghasilkan minyak tersebut. Keesokan harinya, ia pun mencoba ke warga lain dan berusaha memberitahu ayahnya. Ia berharap ayahnya bisa menerima temuannya tersebut, namun sayang ia justeru tidak menyukainya. Tapi dengan niat yang besar Andri berusaha keras untuk memperkenalkan minyak sari legundi tersebut hingga ke kota dan dokter di kota pun sudah mulai tertarik dan menanyakan racikan serta ukuran bahan yang ia pakai. Dokter merasa tertarik setelah mengetahui daun yang digunakan adalah daun Legundi. Daun yang sangat ramah lingkungan dan mudah ditemukan.Selain itu, nyamuk benar-benar tidak suka mencium aromanya. Dokter di kota itupun berniat untuk membantu mengembangkan temuan Andri tersebut agar benar-benar dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.
            Ternyata semakin hari, warga terus berdatangan ke rumah Andri untuk membeli minyak sari legundi yang dibuatnya. Untuk memaksimalkan keadaan tersebut, Andri juga memberikan sosialisasi bagaimana cara mencegah terjadinya demam berdarah yang disebabkan oleh genangan air hujan dan sampah serta botol-botol plastik yang sering bertebaran di sekitar rumah warga. Melihat kejadian ini ayah Andri sangat terkejut, perasaannya entah harus bahagia atau marah tapi di dalam hatinya dia sangat terharu karena tidak ada warga yang menuduh anaknya sebagai dukun, seperti apa yang terjadi padanya dulu.
            “Ayah? Ini semua berkat dokter dari kota yang pernah menolong ayah dulu. Atas bantuannya, Andri dipercayai warga dan mereka pun mulai banyak yang menggunakan minyak sari legundi buatan Andri. Percayalah Ayah, ini tak akan seperti dulu lagi. Obat tradisonal tidak selamanya dianggap sebagai obat yang berbau mistik dan racikan dukun. Andri akan terus mengembangkan minyak ini dan akan berusaha menemukan obat tradisional lainya. Andri memeluk Ayahnya dengan erat, Ayahnya hanya terdiam dan mulai menyambut dekapan Andri. Ibu Andri sangat tersentuh dan mencoba menahan tangisnya.  Andri berharap dengan minyak sari legundi ini, ia bisa memberikan perubahan yang cukup besar bagi seluruh warga di desanya.  Pada akhirnya, ia terkenal dengan julukan dokter legundi. Sejak itu, tekadnya untuk menempuh pendidikan kembali muncul dan ia tetap percaya jika banyak hal yang bisa dilakukan untuk masyarakat ketika ada keinginan untuk itu.