Bumi itu bulat. Ada gaya gravitasi di dalamnya yang menyebabkan kita bisa menapakkan kaki di tanah. Dan tentunya tidak melayang – layang di udara seperti astronaut di luar angkasa.
Manusia,seiring dengan perkembangan teknologi saat ini sering kali  sakit dan sakit. Penyebabnya adalah karena adanya virus dan bakteri. Penyakit yang disebabkan oleh virus biasanya lebih sukar disembuhkan daripada penyakit yang disebabkan oleh bakteri.
Begitulah celoteh para manusia biasa yang disebut, astronom dan dokter. Aku tidak bisa percaya mereka. Aku tidak bisa percaya siapapun. Aku tidak tahu mengapa aku menjadi seperti ini sekarang , yang aku tahu dan inginkan sekarang hanyalah kembalikan ibuku. Zat zat kimia kalian telah membunuhnya. Imfus dan jarum suntik kalian telah menyakitinya. Jika kalian ingin dipercaya, selamatkan ibuku. Baikah, aku memang pendendam.
Fanesa. Panggilanku Anes. Aku siswi SMAN 1 Pringgasela sebuah kota kecil tanpa polusi apalagi tsunami. Jelas, karena kami jauh dari pabrik dan pantai. Aku berumur 16 tahun. Sehidup semati hanya dengan ayah, ibuku meninggal 2 bulan yang lalu. Menyisakan kesedihan yang tiada akhir. Kematian ibu menjadi alasan aku tidak bisa percaya siapapun lagi, hanya Ayah dan Bayu manusia yang bisa aku percaya.
Lambaian tangan Bayu membuyarkan lamunanku. Ayah dan Bayu telah duduk santai di kursi ruang tamu. Aku tersenyum. Liburanku pasti menyenangkan jika ada dia. Bayu si penghidup suasana. Aku duduk manis di samping ayah dan menghadap Bayu. Kau harus tau satu hal, aku dan Bayu tidak pacaran. Kami berteman, kami tetangga, dan kami saudara.
“ Liburan yuk” Bayu angkat bicara. 
“ Gak! Aku mau sama ayah he he ” aku menyenggol bahu ayah. Ayah tidak ada respon hanya senyum manis yang menghiasi bibirnya.

“ Sama aku aja, jangan ayah. Udah tua tau”
“ Ih kamu! Pokoknya aku mau ayah”
“ Dua – duanya aja sekalian ”ayah yang tidak tahan akhirnya angkat bicara. Dan malah pergi begitu saja.
“ Ayah mau kemana?” aku keheranan.
“ Kan katanya mau liburan, ayo siap – siap” mendengar ucapan ayah aku dan Bayu saling memandang. Dan berikutnya kami tertawa kegirangan.
Kami memutuskan untuk liburan di kota tua, Desa Sade. Lombok Barat. Aku yang pilih tempatnya dan yang lain setuju – setuju saja. Aku, Bayu, dan ayah telah tiba di tempat wisata ini sekitar 15 menit yang lalu. Aku tiada pernah bosan mengucapkan syukur setiap kali melangkahkan kaki di tempat ini. Sungguh tempat ini sempurna. Tempat ini mengajak kita kembali hidup pada jaman anti – teknologi. Jaman dimana bumi benar – benar bersih dari polusi, jaman dimana anak – anak rajin mengaji, jaman dimana makan ubi  berlauk terasi, jaman dimana anak muda sekolah berjalan kaki, jaman dimana saling tolong – menolong tanpa memandang materi dengan kata lain ikhlas, jaman dimana pengendara tidak bermusuhan dengan polisi, jaman dimana… Ah, aku ingin kembali pada jaman itu. Sudahlah, aku tau itu tidak mungkin.
Aku dan Bayu terus berjalan – jalan, mencari tau banyak hal tentang desa ini. Kami tidak ditemani ayah. Ayah lebih memilih diam di salah satu berugak  yang ada di desa ini, mungkin beliau lelah.
Berkeliling dan berkeliling. Bertanya dan bertanya. Hingga akhirnya akupun merasa lelah. Kami memutuskan kembali dan menemui ayah.
“ Capek?” Bayu bertanya.
“ Iya Yu..” wajahku kupasang seperihatin mungkin.
“ Ya sudah”
“ Gendong Yu”
“ Gak” wajahku yang perihatin tidak mampu menembus benteng iman Bayu. Akhirnya aku terpaksa berjalan. Benar – benar terpaksa. Bayu hanya tertawa kecil. Ih! Dasar! Baiklah, aku memang selalu manja padanya.
Kemeja putih dan celana hitam. Aku berani taruhan kalau itu pasti ayah. Ku percepat langkahku agar segera bisa bertemu dengannya. Ayah sedang memegang kepalanya. Melihatku datang ayah tersenyum. Lalu kurebahkan tubuhku pada pundaknya. Manja. Aku selalu begitu padanya. Ayah terus memegang kepalanya.
Kami pulang pada pukul 17.30 Wita. Di perjalanan aku terus berbincang – bincang dengan ayah dan Bayu. Kadang kami tertawa sampai tidak terkendali, kadang bahkan diam dan sepi. Di sela – sela perbincangan yang tidak jelas itu , pandanganku tidak pernah lepas dari ayah yang sejak tadi terus memegang kepalanya. Sesekali memijitnya, lalu menarik rambutnya. Ada apa?
“ Pusing yah? “ Tanya Bayu, ternyata dia juga menyadari kejanggalan itu.
“ Iya, dari tadi megang kepala terus. Ayah kenapa? ” aku menguatkan pendapat Bayu. Ayah hanya terdiam. Lalu merebahkan kepalanya di pundak Bayu. Aku memandang ayah heran. Bayu juga.
“ Ayah mau tidur ” suara ayah melemah dan redup. Lalu matanya dipejamkan, lelap di pundak Bayu. Matanya yang tertutup menyimpan sejuta beban. Tampak sekali ia kelelahan. Aku tidak mau panjang lebar. Kupilih diam dan merebahkan kepalaku juga pada jendela mobil.
“ Jangan khawatir, ayah pasti buka mata lagi”
“ Jangan bikin aku takut Yu” Bayu diam, aku juga. Dan hanya hembusan nafas yang terdengar. Perlahan dan lelah.
Malam. Malam yang dingin sekali. Menyakitkan sekali. Malam yang kejam.
Sehabis liburan itu ayah langsung tidur. Aku tau ayah benar – benar kelelahan. Ya, hanya kelelahan dan besok ia akan kembali bugar. Pasti. aku ingin berpikir demikian tentang kejanggalan ayah. Tapi maaf, tidak bisa. Kau tau apa yang memenuhi pikiranku saat ini, apa ayah sakit? Sakit apa? Apa ayah akan sembuh? Apa sakitnya akan bertambah parah? Kapan ayah sembuh? Ayah gak papa kan? Atau ayah kanker otak? Ah, aku tidak bisa berpikir jernih.
Pukul 7 pagi Bayu telah berdiri di depan pintu rumahku. Rencananya hari ini kami akan jalan – jalan lagi. Tapi urung, karena ayah. Aku heran. Sungguh. Hingga saat ini ayah terus – terusan mengurung diri. Aku tidak tau harus bilang apa, maka yang kulakukan hanya diam.
“ Gak bisa Yu, ayah sakit ” jawabku ketika Bayu mengajakku liburan lagi. Sontak dia langsung kaget.
“ Hah? Ayah sakit? Serius? ” mendengar ucapan Bayu aku mengangguk. Aku tidak tau ayah sakit apa. Tanpa basa – basi dia menarik tanganku, mengajakku entah kemana.
“ Jangan diem aja, kamu harus obatin ayah!” entah kenapa Bayu terlihat begitu khawatir. Dia mengajakku duduk di taman rumput belakang rumah. Tanganku diremas – remasnya. Aku terdiam.
“ Tolong jangan diem Nes!”
“ Aku gak bisa percaya siapa – siapa” kepalaku tertunduk. Cairan panas mengalir.
“ Kamu masih aja egois ya!” Bayu melentangkan suaranya. Aku bingung melihat tingkahnya. Tapi aku tau Bayu sedang sangat khawatir.
“ Bawa ayah ke dokter Nes..”
“ Gak akan!” membawa ayah ke dokter adalah ide yang paling bodoh.
“ Nes!” Bayu berteriak. Hei! Ada apa dengan anak ini?!
“ Kamu kenapa sih!?” aku balas berteriak.
“ Kamu yang kenapa!”
“ Aku gak bisa percaya mereka! Mereka pembunuh! ” cairan panas itu semakin banyak, dengan segera aku menghapusnya.
“ Egois!” bentak Bayu lalu pergi meninggalkanku. Amarahku meluap – luap. Ingin sekali aku melemparnya dengan sekop yang ada di depanku. Entah kenapa, ada apa dengan aku dan Bayu. Kenapa kami seperti ini?  Tadi kami bertengkar? Hei, ada apa?
Aku dengan sisa – sisa amarahku melangkah masuk kamar. Terserah! Aku tidak peduli Bayu! Mati juga aku gak nangis! Aku janji!
Mataku berputar menerawang ruangan. Kau tau apa yang aku cari? Ayah. Ternyata ia masih terlentang di kamarnya. Tertidur pulas. Apa yang harus aku lakukan? Aku khawatir, sumpah. Aku harus mengobati ayah dengan tanganku sendiri, bukan bantuan mereka.
Dua hari setelah pertengkaran dengan Bayu. Ayah tidak pernah bangun dari tidurnya. Entah apa maksudnya ini.  Aku benar – benar tidak tau apa yang harus aku lakukan. Aku, aku benar – benar bodoh. Yang ku lakukan hanyalah menangis. Dengan diiringi air mata aku berjalan menuju rumah Bayu. Aku tidak tau apa yang membawaku kesini. Pintu rumah Bayu sudah ku ketuk. Dia membuka pintu.
“ Hei! Kamu nangis?” seperti biasa dia selalu khawatir padaku.
“ Yu ayah..” baiklah, air mataku tumpah. Bayu tidak merespon. Dia membawaku masuk ke rumahnya. Aku masih menangis.
“ Ayah gak pernah bangun, udah dua hari” mendengar kata – kataku mata Bayu melotot dan bagai sambaran petir dia menarik tanganku dan mengajakku berlari. Entah dia akan membawaku kemana.
“ Manfaatin apapun yang ada disini buat jadi obat! Cepet!” Bayu membawaku ke halaman belakang rumahnya. Aku keheranan.  Dia terus mondar – mandir kesana kemari, entah apa yang dicarinya. Aku masih diam, sedetik kemudian aku sadar, aku harus membuat obat untuk ayah.
“ Gimana kalo serabut kelapa? “ aku bertanya memandang serabut kelapa yang menumpuk tanpa guna.
“ Apapun yang penting ayah sehat” ucap Bayu. Aku tersenyum mendengarnya.
“ Nanti ditambah gula ya, biar gak pahit” sambung Bayu. Aku mengangguk. Aku dan Bayu berlarian. Kami punya misi. Sembuhkan ayah! Kami tidak percaya dokter! Kami tidak percaya imfus! Kami tidak percaya jarum suntik! Kami bisa! Dengan obat yang kami buat sendiri! Kami percaya Allah. Dan kamipun bereksperiment.
Kami sudah siap dengan dapur dan peralatannya. Kami memilih serabut kelapa yang masih muda.  Serabut kelapa itu kami bersihkan, kami ambil serat – serat di dalamnya saja. Setelah itu kami merebusnya hingga mendidih, dan langkah terakhir air rebusan air kelapa itu kami tambahkan gula.  Entah aku dapat ide darimana. Yang aku tau ayahku sedang sakit dan aku harus mengobatinya dan aku juga tau bahwa serabut kelapa ini juga hanya berguna sebagai pembuat bara, tidak lebih dan setelah itu baranya pasti dibuang. Dan berlalulah ia menjadi sampah. Aku hanya ingin membuatnya lebih bermanfaat lagi, untuk manusia. Walau hanya sedikit, tidak banyak. Aku dan Bayu tersenyum , kami bergegas ke kamar ayah.
Pintu kamar ayah terbuka sedikit,aku dan Bayu masuk. Ku pandang ayah lamat – lamat dan air matakupun menetes. Maaf, aku tidak bisa menahannya. Bayu memegang tanganku, erat sekali.
“ Jangan nangis, ayah pasti bangun” aku tersenyum mendengarnya. Ku sandarkan ayah di punggung Bayu, lalu memberinya larutan  serabut kelapa. Kubuka mulut ayah pelan – pelan dengan lantunan doa. Tuhan, tolong bangunkan ayah kami menyayanginya.
Larutan itu mengalir melewati tenggorokan ayah. Aku menatap ayah lamat – lamat, kelopak matanya bergerak dan perlahan – lahan  terbuka. Aku dan Bayu saling memandang dan senyumpun mekar diwajah kami.
“ Anakku…” panggil ayah. Asli. Mendengar itu aku hampir saja menangis, aku segera mendekap ayah, Bayu ikutan. Dan tidak ada satupun diantara kami yang dapat menahan air mata. Kami menangis bersama.
Libur semester hanya tersisa 2 hari. Itu berarti waktu untuk di rumah tinggal sebentar lagi. Ayah sudah sembuh, ayah bilang dia merasa sakit pada sebagian kepalanya. Aku menyimpulkan ayah migran. Aku hanya mencoba membantu menyembuhkan ayah dengan membuatkannya larutan serabut kelapa ditambah gula. Dan ternyata aku berhasil, ayah bangun, ayah sembuh. Aku benar – benar bersyukur. Setiap hari aku terus membuatkan ramuan itu untuk ayah, kadang juga kubuat permen berbentuk dadu, cincau, dll. Kini, aku begitu menghargai waktu yang aku lewati bersama ayah di rumah. Aku sangat menyayanginya.
“ Kamu berhasil ya Nes, serabut kelapa yang hebat” sapa Bayu saat kami hendak berangkat sekolah, liburan telah berlalu. Aku tertawa lalu menggangguk sebagai jawaban.
“ Kamu gak bisa percaya sama orang lain, tapi kamu percaya sama dirimu sendiri” Bayu tersenyum. Aku juga. Dan selanjutnya berangkatlah kami. Semoga hari lebih baik lagi dari yang sebelumnya, untuk ayah, Ibu, Bayu, dan untukku. Amin. Satu lagi, terimakasih untuk serabut kelapa penyembuh sakit kepala.