Kehidupanku mulai berubah semenjak bisnis ini berjalan.Barang mewah sudah menjadi suatu hal yang lumrah untukku.Hinaan dan cacian orang menjadi motivasiku dalam membangun bisnis ini.Meskipun banyak orang yang berpendapat bisnis ini kotor, aku tidak perduli.Karena selama bisnis ini dapat merubah hidupku, aku akan tetap menjalaninya.

Semua ini berawal dari keputusanku untuk merantau ke perkotaan.Di desaku Perantauan sudah menjadi sebuah tradisi yang dilakukan oleh setiap anak laki-laki tertua dalam keluarga.Warga kami percaya bahwa melalui perantauan dapat merubah jalan hidup seseorang menjadi lebih baik.Meskipun demikian, keluargaku tidak pernah sependapat dengan kepercayaan tersebut.Semenjak kepergian ayah, ibu menjadi over protectiv dalam menjaga kami.Aku dan adik perempuanku selalu mencoba untuk mengerti perasaan ibu kepada kami.Awalnya aku ragu untuk menjelaskan keputusanku tersebut kepada ibu.Namun melihat kondisi ekonomi keluarga kami yang semakin memburuk membuatku khawatir.Terutama jika suatu saat nanti adikku harus berhenti sekolah karena kekurangan biaya.
Malam itu ibu terlihat murung setelah mendengar keputusanku untuk merantau.Tak sepatah katapun keluar dari mulutnya. Terbangun dari tempat duduknya ia kemudian masuk kedalam kamar.Semenjak saat itu ibu menjadi diam kepadaku.Saat makan, atau saat di perkebunan ibu tidak pernah menyinggung tentang keputusanku tersebut.Bahkan ibu yang biasanya selalu ingin meminum teh buatanku kini tak penah lagi memintaku untuk membuatkannya.Tiga hari telah berlalu dan ibu masih tidak mau bicara.Melihat kondisi ibu tersebut aku menjadi khawatir.Lalu kuputuskan untuk mengurungkan niatku untuk merantau.

Hari menjelang sore dan seperti biasa ibu pun pulang kerumah setelah dari perkebunan.Sementara itu, masakan untuk kami makan malam telah selesai di siapkan adikku.Dalam suasana makan malam, aku mencoba minta maaf kepada ibu dan menjelaskan tentang keputusanku untuk mengurungkan diri dari merantau. "Bu,,, aku minta maaf". Kemudian ibu mengangkat gelas tehnya sembari berkata, "Kapan kau jadi berangkatnya ?". Seketika aku menjadi bingung mendengar perkataan ibu."Ibu tak bisa melarangmu untuk pergi"."Hanya saja, kamu harus ingat, jangan lupakan keluarga dan terutama agama ketika kamu telah hidup disana".Tanpa sepatah katapun aku langsung memeluk ibu.Perasaan sedih dan bahagia bercampur menjadi satu.Kata-kata ibu seolah menumbuhkan semangatku lagi untuk merantau. Namun disisi lain perasaan sedih karena harus berpisah membuatku bimbang untuk memulai perantauan. Sekali lagi, ibu mencoba menguatkan tekatku.Dan air matapun tak bisa terbendung.Kain peninggalan ayah yang selalu ibu kenakan menjadi basah karena air mataku.Malam itupun menjadi malam terakhirku makan bersama ibu dan adikku.
Suasana mengharukan terus mewarnai perjalananku ke stasiun.Terasa begitu berat meninggalkan Ibu dan adikku.Kata-kata perpisahan menjadi topik pembahasan kami sebelum aku naik kekereta.Pelukan dan tangisan menjadi akhir dari perpisahan kami.Kereta pun secara berlahan mulai berjalan cepat, lambaian tangan dari ibu dan adikku terus mengiringi laju kereta.Hingga tak terasa keretapun telah berjalan jauh meninggalkan ibu, adikku dan kampung halamanku.
Tidak terasa sudah tiga hari aku di kota. Tinggal bersama seorang kerabat di kampung membuatku teringat kembali dengan kampung halaman.Namun melihat kehidupannya yang sekarang membuatku terkejut.Rudi yang dulunya selalu di tertawakan oleh teman-temannya lantaran sering pipis di celana, kini tinggal beratapkan istana, di layani layaknya raja dan di dampingi oleh seorang bidadari.Sekilas hal itu membuatku sedikit iri. Padahal ia baru tiga tahun di perkotaan.
Siang itu Rudi mengajakku makan di sebuah restoran mewah.Dalam benakku sangatlah tidak mungkin bagiku untuk makan di restoran yang begitu mewah."Maaf Rudi saya tidak punya cukup uang untuk makan disini".Mendengar ucapanku Rudi berjalan kedalam restoran sambil menarik tanganku."Aku tidak akan memintamu membayar, karena ini restoranku".Perkataan Rudi membuatku sedikit malu, dan cukup mengagetkan juga karena Rudi mempunyai restoran semewah ini.Satu demi satu makan di bawa ke meja kami.Aroma dari makan mulai membiusku.Perutkupun mulai merespon aroma sedap tersebut.Rasanya tak sabar menunggu Rudi untuk mempersilahkanku makan.
Selepas makan Rudi mengajakku ke sebuah pabri pembuatan jam kayu miliknya. Rencananya aku akan di pekerjakan di sana. Namun karena aku bukanlah seorang mekanik atau ahli mesin, aku harus menjalani proses tranning selama sebulan. Suasana di pabrik cukup bersahabat. Oleh karena itu tak butuh waktu lama untukku mengerti cara bekerja di sini. Salah seorang mekanik mengajarkanku dengan baik.Di sela-sela kesibukan bekerja, para pekerja bercanda gurau layaknya keluarga.Kehangatan ini terkadang membuatku teringat dengan ibu dan adikku.
Tiga bulan telah berlalu.Surat yang kukirimkan ke Ibu dan adikku sebulan yang lalu hari ini terbalaskan. Perasaan rinduku seolah mulai berkurang ketika ku baca tiap kata dalam surat itu. Dalam kesedihanku, tiba-tiba seseorang menepuk pundak ku. "Apa yang kau baca ?". Lantas aku memalingkan wajahku ke arah suara tersebut."Ini surat balasan ibu dan adekku dari kampung".Aku cukup terkejut ketika menyadari Rudi yang menepuk pundakku. "Kau tak perlu sedih, selama kau bekerja dengan giat di sini, orang tuamu akan baik-baik saja di sana".  Nasehat Rudi mebuatku merasa lebik baik.Demi untuk menghiburku, Rudi mengajakku makan siang di sebuah rumah makan dekat pabrik. Rumah makan itu tidak terlalu besar, namun cukup banyak orang yang makan di sana. Setelah beberapa menit kami menunggu, makanapun di antarkan ke meja kami.Melihat makanan itu aku sedikit terkejut. Dalam benakku apa yang harus aku makan dari hidangan ini. "Rudi, apa ini ?, kenapa kita di suguhkan tulang sapi ?, gigiku tidak terlalu kuat untuk mengunyah tulang ini", kataku dengan kebingungan. "Kau tak perlu makan tulangnya, tapi sumsum tulangnyalah yang kau makan".Penjelasan Rudi menjawab kebingunganku.Dan setelah ku cicipi, makana itu sangat enak.
Dalam suasana makan tidak sengaja aku melihat tumpukan tulang sapi di samping rumah makan tersebut.Tumpukan tulang yang telah menggunung itu cukup mengganggu selera makanku. "Hei Rudi, coba kau tengok tumpukan sampah tulang itu, bukankah itu tidak baik". Rudi yang tengah asyik makan, tiba-tiba berhenti setelah mendengar perkataanku."Kau tak perlu perdulikan hal itu, tulang-tulang itu nantinya akan dikubur atau di buang ke sungai". "Rudi,, bukankah hal itu akan mengotori lingkungan ?". Sebuah senyum tipis tersirat dari bibir Rudi ketika mendengar perkataanku."Kau tak perlu perdulikan hal itu, beginilah kehidupan diperkotaan."Penjelasan Rudi sedikit membuatku bingung.Aku yang di biasakan hidup bersih semenjak kecil tentu tidak terbiasa melihat hal tersebut. Membiarkan sampah tulang hanya akan mengotori lingkungan. "Hei Rudi, tahukah kamu, tulang tidaklah mudah untuk di leburkan oleh tanah, karena komponen kerasnya mengalahkan kemampuan decomposer untuk menguraikan tulang". "Jika sampah tulang itu di kubur, kemungkinan akan digali lagi oleh anjing"."Dan itu akan mengotori lingkungan"."Terlebih lagi jika sampah tulang itu di buang ke sungai, hal itu akan membuat sungai tercemar"."Kegilaan masyarakat diperkotaan menurutku sudah berlebihan".Sebuah tatapan tajam tersirat dari mata Rudi setelah mendendengar ucapanku.Nampaknya ucapanku membuat Rudi kesal.Melihat reaksi Rudi tersebut membuatku bingung dan sedikit merasa bersalah.Kemudian Rudi mengajakku keluar dari restoran. "Hei Rudi, bukankah kita tidak boleh keluar dari sini sebelum kita membayar makanannya?"."Kau tak perlu membayar, ini rumah makan milikku". Dari perkataan Rudi, aku menyadari suatu hal dimana alasan Rudi marah sebelumnya  ialah karena ia merasa tersinggung setelah mendengar perkataanku terkait sampah tulang dari rumah makan miliknya.
Malam harinya aku terus kepikiran dengan kejadian siang tadi.Aku sedikit merasa bersalah setelah mengatakan semua itu kepada Rudi, mengingat kebaikan Rudi terhadapku.Namun bukan berarti kebaikan Rudi dapat membuatku membenarkan kesalahannya terkait sampah tulang dari rumah makannya.Meskipun Rudi nampaknya tidak terlalu perduli dengan permasalan tersebut, sebagai seorang sahabat kuputuskan untuk mencari solusi terkait permasalahan tersebut.
Seminggu telah berlalu dan tak satupun ide kutemukan untuk mengatasi sampah tulang itu.Rasanya aku ingin menyerah saja dari permasalahan ini.Perasaan lelah karena terus bekerja membuatku sulit berfikir jernih.Raut wajahku mulai tidak menentu.Pekerjaanku menjadi kacau karena memikirkan solusi dari permasahan tersebut. Sesekali rasanya inginku banting setiap benda yang ada di meja kerjaku. Hingga Tanpa sengaja tanganku menyenggol sebuah jam tangan kayu yang telah selesai aku buat. Beberapa saat aku menatap jam tersebut. Hingga akhirnya ku temukan ide untuk permasalahan sampah tulang itu.
Keesokan harinya ku rundingkan ideku bersama Rudi.Secara berlahan ku terangkan ideku padanya."Maaf kawan, bukan aku tak mau tahu dengan idemu itu, hanya saja menurutku itu terdengar gila"."Mana ada orang yang akan tertarik menggunakan Jam Tangan Dari Bahan Tulang"."Aku sendiri merasa jijik untuk membuatnya, apalagi harus menggunakannya".Perkataan Rudi terdengar sedikit kasar di telingaku. Namun aku tak menyangga hal tersebut, karena menurutku ide ini memang gila, tapi bukan berarti ide ini akan gagal.
Selepas bertemu Rudi, aku mampir ke rumah makan miliknya untuk membeli makanan disana.Satu porsi sumsum tulang sapi ku bawa pulang dan kuputuskan untuk memulai eksperimenku dari tulang sapi yang kubeli.Beberapa kali aku gagal membuatnya.Hal ini wajar saja, tulang tidak seperti kayu yang muda di bentuk.Tekstur tulang yang keras membuatku harud ekstra hati-hati dalam memotongnya.Potongan demi potongan telah kupotong rapi.Sedikit sentuhan amplas dan pengasapan memberi corak warna arsitektur pada jam. Kecintaanku terhadap budaya di Indonesia membuatku ingin menuangkan setiap konsep budaya di jam yang tengah aku buat. Satu demi satu potongan kurakit secara hati-hati. Awalnya aku tidak begitu yakin jam ini akanjadi baik. Setelah selesai kubuat aku cukup takjup pada hasilnya. Aku yakin setelah Rudi melihat jam yang kubuat, pemikiranya akan berubah.
Keesokan harinya aku bertemu Rudi di pabrik.Seperti biasa, Rudi selalu datang ke pabrik setiap pagi harinya.Kebiasaan Rudi untuk mengecek kondisi dipabrik tidak pernah berubah semenjak aku mulai bekerja di pabrik. "Rudi, coba kau tengok jam tulang yang kubuat ini, bagaimana pendapatmu?". Beberapa kali Rudi membolak-balikkan jam itu. Nampaknya Rudi sangat memperhatikan secara rinci jam itu. Dia juga mencoba untuk memakai jam itu. "Hei, tulang apa yang kau gunakan untuk membuat jam ini?". Terlihat sepertinya Rudi mulai tertarik dengan jam yang ku buat. "Jam itu kubuat dari tulang paha sapi yang ku peroleh dari rumah makan milikmu". Mendengar jawabanku Rudi tersenyum."Hei kawan, mulai hari ini kau jadi patner kerjaku, bukan lagi sebagai tenaga kerjaku." "Jam yang kau buat sangat indah, hampir mengalahkan jam buatan perusahaanku.""Maafkan aku sebelumnya yang telah meragukan tekatmu untuk membuat jam tulang ini".
Semenjak saat itu aku mulai bekerja sebagai sebagai patner kerja Rudi.Setiap harinya kami mengumpulkan limbah tulang sapi dari berbagai rumah makan dan pasar.Memang cukup sulit untuk mengumpulkan tulang-tulang itu. Namun karena keistimewaannya jam itu mendapat tanggapan yang cukup baik di pasaran. Oleh karena itu kami optimis bahwa jam tulang sapi buatan kami akan laku banyak di pasaran hingga manca negara.
Tiga bulan telah berjalan semenjak aku dan Rudi mulai menjadi patner kerja.Kesibukanku terus bertambah setiap harinya semenjak saat itu. Di sela-sela kesibukan, kusempatkan untuk menulis surat untuk ibu dan adekku yang tengah berada di kampung. Seperti biasa aku tidak pernah melewatkan untuk mengirim surat kepada mereka. Meskipun kehidupanku terasa sedik berbeda saat ini.Semua itu tidak menyurutkan kasih sayangku kepada Ibu dan adikku.Nasehat ibu sebelum aku datang keperkotaan selalu kupegang dengan baik. Dan aku sangat yakin bahwa kesuksesanku saat ini semata-mata karena doa ibu dan adikku.
Perubahan yang kurasa saat ini tidak hanya pada kehidupan ku saja.Semenjak kami memulai bisnis kotor ini, setidaknya bisnis ini telah sedikit merubah kondisi di perkotaan. Setiap jam yang kami buat telah mampu mengurangi sedikit sampah di perkotaan. Setiap tulang yang kami pungut telah menjaga kebersihan lingkungan diperkotaan.Dan setiap kerja keras kami dalam membangun bisnis kotor ini mengajarkan kami bahwa kesuksesan bisa datang darimana saja, selama kita mempunyai niat baik maka selama itu pula kebaikan akan selalu bersama kita meskipun kesuksesan itu datang melalui sesuatu yang hal yang kotor sekalipun.