“Biologi 93? Matematika 82?! Fahira belajar atau tidak?” lagi-lagi kata meremehkan tanda tidak puas itu terselip dalam kalimat Ayah Fahira. Kata-kata itu sukses menghujam hati anak sulungnya. Kebahagiaan, rasa senang, puas dan percaya diri yang sedari tadi disimpannya leyap seketika.
“Sudahlah Yah, masih banyak yang mengharapkan posisi Ira. Juara 1 bukanlah sudah lebih dari cukup? Lagi pula sebagian besar nilainya 100 kan.” Balas Ibunya membela.
“Coba tiru Putri. Matematikanya selalu sempurna, nilainya pasti tertinggi dan sebentar lagi dia akan dikirim ke Jepang.” Ayahnya melempar sertifikat dan raport itu ke meja, segera beranjak dan pergi. Tak ada hentinya Ayah Fahira dalam membandingkan anaknya dengan anak saudaranya, keponakannya sendiri. Fahira memang sangat menyayangi saudari sepupunya ini, jika keduanya memang tidak dekat, mungkin rasa sakit yang selalu muncul karena ‘perbandingan’ ayahnya ini akan membuat Fahira membenci Putri, namun syukur, Fahira bukanlah pendendam.
Seharusnya sikap ayahnya ini tidak lagi membuatnya terkejut, apalagi bersedih, namun tetap saja perlakuan ini selalu membuat mukanya panas. Masih teringat jelas dalam benak Fahira, hari dimana seharusnya Ia menjadi orang yang paling bahagia, satu tahun yang lalu, ketika dengan jelas namanya disebut sebagai peraih juara satu seprovinsi, tentunya bukan hanya penghargaan kecil yang Ia dapatkan, semua bertepuk tangan dan memberi pujian. Namun, semua seakan sirna tatkala ayahnya sendiri tak mengucapkan selamat, bahkan tak satu senuman pun ditampakkannya pada Fahira. Tatkala orang lain memuij anaknya, Ia malah berkata bahwa hal itu tak seberapa, yang disebut ayahnya malah Putri yang kala itu mendapat penghargaan tinggi atas prakarya yang Ia buat.

“Akh….! Apa aku harus selalu menjadi bintang agar dapat membanggakan Ayah? Apa Ayah akan selalu menetapkan cita-citaku setinggi langit sehingga aku akan selalu merasa tertekan? Apa Ayah akan tetap menyukaiku dengan tidak mengharpkan perolehan nilai? Jika aku berusaha sebaik mungkin dikelas, apa nilai rangking itu penting? Apa Ayah menyayangiku tanpa pamrih? Atau apakah aku harus sedimikian cemerlang agar dapat mendapat cinta Ayah?” ingin sekali Ia melontarkan kallimat-kalimat yang selalu mengganjal benaknya itu. Namun, sampai saat ini  hatinya menolak untuk berkata.

Malam telah sampai pada ujungnya, namun matahari belum juga menampakkan sinarnya. Setelah melaksanakan shalat subuh, dengan segera Fahira keluar dan meraih sepedanya, mulai mengayuh dengan santai sampai beberapa saat kemudian Ia dapati Lisa, teman karibnya, tengah menunggu di pinggir jalan., sebelumnya mereka memang telah membuat jaji untuk olahraga bersama. Mereka pun mengayuh beriringan.
“Ra! Berita tentang calon gubernur itu mulai memanas. Hm…kayaknya di puncak nanti bakal teradi demo. Huh…aku setuju sekali agar Ahok tidak lagi berkata semena-mena atas kitab kita, kalau bisa aku ingin ikut demo jihad itu!” ujar Lisa antusias.
“Jihad? Huh…aku sama sekali tidak setuju atas demo itu”
“Why? Dia kan telah menghina agama kita”
“Memang tapi kamu pikir, siapa yang lebih dulu melecehkan Al_Qur’an? Bukankan orang Islam sendiri? Coba pikir! Ahok kan non Islam, dari mana Ia tahu tentang surat Al-Maidah ayat 51 jika tidak mendengar dari para kawan dari tim suksesnya yang Islam? Lagi pula ada ulama-ulama yang terang-terangan membela Ahok! Itu ulama loh, padahal Ahok dan kawannya yang lain sudah elas-jelas salah. Kalau tidak salah dalam Al-Qur’an itu sudah di nyatakan sekitar tujuh kali, kalimat yang menentang kita untuk memilih pemimpin kafir, tapi lihat masih banyak orang Islam yang menunjukkan di media-media sosial ‘Pilih Ahok! Piih Ahok!’ beratur kali diulang seakan mereka berkata ‘Pilih pemimpin kafir’ jadi siapa yang lebih dulu melecehkan Al-Qur’an? dan sekarang giliran melihat orang melecehkan Islam, mereka malah emosi dan hendak demo atas nama jihad? Aku tidak setuju, coba pikir dampak negatif dari demo, aku sama sekali tidak ikhlas kalau nanti ada muslim yang terluka, demo hanya akan mengakibatkan kerusuhan dan ketidaktentraman. Nanti kalau ada yang mati bagaimana? Okey, mungkin nanti muslim berlaku damai, tapi bagaimana dengan para provokator? Non muslim? Atau pihak yang membawa kerusuhan lainnya? Aku tidak yakin mereka akan diam saja.”
Lisa terdiam, Ia setuju, “Tapi…apalagi yang dapat kita lakukan untuk membela Al-Qur’an atas perlakuan tersebut?’
“Dalam Islam telah diajarkan, cara terbaik untuk menasehati pemimpin adalah berbicara 4 mata langsung, bukan buat rusuh dan mempermalukan begini. Apa kamu senang dinasehati dengan cara dipermalukan? Tentu tidak kan, lagi pula politik Islam juga sebenarnya tidak mengindahkan cara demokrasi, para khalifah terdahulu diangkat secara langsung dan mufakat. Coba lihat dampak dari pemilihan-pemilihan ini, banyak suara yang dimanipulasi, ketidakadilan banyak teradi, banyak orang tak berpendidikan yang hanya melihat dengan sebelah mata. Lihat, dalam negara mayoritas Islam inipun telah dipimpin oleh orang kafir.”
“Huh, kamu benar. Dikarenakan isu-isu politik, focus pemerintah akan berkurang menjelang pemilu masa berikutnya dan massa juga dapat mempengaruhi masyarakat.”
“Sudahlah, kalau dibahas buat sakit hati.”
Keduanya terdiam sejenak larut dalam pikiran masing-masing.
Setelah mengayuh cukup jauh, akhirnya fajar pun menyingsing. Tepat di depan jembatan besar yang menyambung jalan raya, Fahira mengayuh pelan dengan kecepatan kecil yang berangsur-angsur berhenti. Lisa pun ikut menghentikan laju sepedanya.
“Kenapa, lelah?”
“Tidak” jawab Fahira menggeleng pelan dengan tak sedikitpun mengalihkan pandangan dari sungai besar didepannya.
Hal itu membuat Lisa tertarik sehingga iut meluruskan pandangan mengikuti arah pandang Fahira. Tentu saja yang didapatinya adalah sungai besar yang sangat penuh. Penuh bukan karena air, melainkan limbah, sampah, kotoran, dan lainnya.
“Kenapa?” tanya Lisa lagi, merasa sudah familiar dengan pemandangan tersebut.
“Kasihan pemulung-pemulung itu” ujar Fahira pelan “Coba perhatikan alam di sekitar kita! Alam yang merupakan sumber kehidupan, alam yang merupakan sumber falsafah hidup, membangun religiositas, dan bahkan pola hidup lainnya, sekarang berangsur-angsur mulai lenyap. Berbagai peristiwa tragis akibat kerusakan lingkungan sudah terlanjur terjadi, slogan-slogan tentang alam pun hanyalah slogan semata. Realitasnya, atas nama kesejahteraan dan pembangunan, penggusuran lahan, pembabatan dan pembakaran hutan menjadi halal. Hukum pun semakin tak berdaya menghadapi para penjajal lingkungan yang menyengsarakan rakyat. Bahkan, mereka justru dianggap sebagai pahlawan karena dapat mendonkrak tinggi devisa negara dalam tujuan mengejar perkembangan ekonomi dan persaingan bangsa.”
“Hm…seharusnya pemerintah bertindak!”
“Bukan! Bukan hanya pemerintah” ujar Fahira pelan “Kita jangan mencari pihak yang bisa disalahkan, bukankah lingkungan itu tanggung jawab seluruh manusia? baik itu kalangan tas maupun bawah.”
“Okey, tapi…apa yang dapat kita lakukan? Kita hanya pelajar biasa!”
“Justru kitalah yang diperlukan, kita generasi muda penerus bangsa, di tangan kitalah kehidupan suatu bangsa, lingkungan kita bergantung pada diri kita sendiri” ujar Fahira serius “Ayo turun!”
“Untuk apa?” protes Lisa
“Melakukan sedikit perubahan, kau lomba yang diumumkan di sekolah minggu lalu?”
“Yah, inovasi pelestarian lingkungan nasional?”
Fahira mengangguk “Aku akan mengikutinya, setidaknya bisa buat prakarya untuk mengurangi limbah kan. Aku berniat meminta bantuan pada pemulung-pemulung itu, tentunya dengan imbalan. Lis! pernah dengar alat penyeteril limbah?”
“Hm…entahlah”
“Sejak setahun yang lalu aku sering mencari informasi tentang hal itu. Belum ada, tapi setelah kupelajari, telah kudapatkan! Alat sederhana yang dpat digunakan secara praktis untuk menanggulangi pencemaran akibat limbah dan yang lainnya.”
“Bagaimana bisa?!” Lisa terkejut
“Bisa, itulah alat yang ingin kutampakkan dalam lomba itu. Sekarang bantu aku ya, ada beberapa pohon yang ingin kutanam di pinggir sungai ini!”

Hari demi hari berlalu dengan cepatnya, entah sudah berapa kali Ayah Fahira menyatakan bahwa dirinya akan mengikuti demo besar tersebut. Namun, jelas dalam hati Fahira sangat menentang hal tersebut, hingga pada akhirnya Ia tak dapat lagi menahannya.
“Ayah, aku mohon jangan, firasatku sungguh menolaknya” ujar Fahira dengan harapan penuh. Sedari tadi, Ia terus mengeluarkan alas an-alasan dalm pikirannya sebagaimana yang telah Ia katakana pada Lisa sebelumnya. Namun, ayahnya seakan tak mengindahkan tuntutan tersebut.
“Jangan selalu hidup dengan firasat-firasat yang belum tentu terjadi. Belajar saja! Jangan pikirkan hal ini, menangkan saja lomba besar itu, Putri juga akan ikut, Ira tak kan kalah lagi dengannya kan?” ujar ayahnya seakan meremehkan. Fahira terdiam, lagi-lagi ayahnya mengangkat emosinya dengan membeda-bedakan dirinya dengan Putri sepupunya.
“Ayah…” panggil Fahira pelan “Aku tahu, aku paham, aku tidak sepintar, secerdas ataupun sehebat dia, ataupun yang lainnya. Ira tidak sebanding dengan mereka, kami punya jalan masing-masing, kelebhan tersendiri, oleh karena itu jangan bandingkan aku. Ayah menyebut-nyebutnya dihadapanku seakan begitubangga memiliki mereka, lalu bagaimana dengan Ira?! Sebagaimanakah bagianku di hati ayah? Mengertilah, kami berbeda, tak sama, tak serupa, jadi tolong jangan memaksa seakan menekankan bahwa aku tak mampu!”
Ayahnya membisu, sedikit kaget akan pernyataan anaknya. “Siapa bilang Ira tidak bisa, kamu bisa! Ayah ingin kau  lebih dari yang lainnya, dan…”
“Kenapa? Mengapa Ayah menuntutku menjadi nomor satu, mengharuskanku menadi yang terbaik, dan bahkan membandingkanku. Tak bolehkah kau katakan bahwa aku berbeda? Tak bisakah Ayah menerimaku apa adanya? Tak pantaskah aku kataka bahwa aku tak mampu? Apakah aku harus sedemikian cemerlang hingga dapat meraih cinta Ayah? Apa Ayah menyayangi tanpa pamrih?” Fahira menahan kalimatnya yang melunur seakan tanpa irama, air mata yang dibendungnya sedari tadi akhirnya roboh.
Ayahnya seakan bungkam, Ia bukanlah seorang yang pandai berkata-kata walau hanya kalimat yang tersimpan dalam benaknya, yang jelas saat ini, Ia tak sanggup melihat anaknya menangis hingga Iapun segera bangkit dan berpaling.
“Kenapa?” lanjut Fahira tatkala melihat ayahnya beranjak “Ayah…seandainya aku tidak pernah mendapatkan hadiah dalam hidup ini, masihkah Ayah bangga bahwa aku milikmu? atau mungkin aku aib bagi Ayah? Atau apakah Ayah tak akan pernah merasa cukup atas apa yang ada pada diriku?”
Tanpa berpaling ayahnya menjawab “Jika Ira menang lomba itu, Ayah tak akan ikut demo, ini janji ayah”
Deg!

2 November 2016, hari ini adalah hari pengumuman dimana akan diberitahukannya pemenang lomba tingkat nasional dalam tema Inovasi Pelestarian Lingkungan. Setelah kemarin Fahira bersusah payah menyelesaikan proyeknya yang sangat Ia harapkan dapat menjadi penghalang keikutsertaan ayahnya dalam demo besar tersebut, akhirnya Fahira kesiangan. Seharusnya saat ini Ia sudah berada di pusat kota, namun sekarang Ia malah terjebak macet panjang kendaraan umum yang Ia tumpangi terpaksa terdiam di pinggir jalan karena keramaian yang disebabkan oleh sebuah kecelakaan.
“Kasihan, mungkin tak kan tertolong lagi…”
“Parah, pendaharannya luar biasa, kaca mobilnya hancur semua”
Kasak-kusuk para penumppang mulai semakin ribut membicarakan korban kecelakaan tersebut, satu per satu penumpang mulai turun hendak melihat korban karena penasaran. Hati Fahira semakin tak tenang, dengan terpaksa Ia meminta Lisa menjemputnya karena sepertinya kemacetan di depan Mall ini akan lama. Entah perasaan apa yang meyelimuti hatinya saat ini, Ia tidak suka melihat darah, jadi Ia putuskan untuk menyimpan rasa penasaran tersebut.

Pukul 09.30 tepat, Fahira sampai pada lokasi, Alhamdulillah tepat waktu, hatinya seakan meloncat keluar karena kegembiraan yang Ia rasa saat Ia dengar namanya disebut sebagai juara satu dan yang Ia lihat bersanding denganya adalah Putri yang mendapat juara tiga. Oh…Ia berharap ayahnya segera datang dan menyaksikan hal luar biasa ini. Alat yang Ia ciptakan teryata berhasiil menarik perhatian lebih, seharusnya saat ini ayahnya sudah datang. Ia berjanji akan kembali dari luar kota pagi ini dengan maksud melihat hasil ahira, tapi mungkin aahnya masih dijalan, Fahira berusaha menghibur kekecewaannya.
Berbagai penghargaan telah Ia terima, hal yang terselip dalam benaknya saat ini adalah rasa senang karena Ia dapat mengerungkan niat ayahnya untuk ikut berdemo. Ia ingin segera menyerahkan piala yang ada pada tangannya saat ini dan mengatakan bahwa dirinya berhasil mengalahkan Putri, sepupu terbaiknya yang selalu dibangga-banggakan ayahnya. Waktu berlalu, Fahira semakin gelisah ayahnya sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kedatangan hingga sekitar jam 11.30 atau mungkin hampir pukul 12.00. Putri yang sedari tadi mengilang dari hadapan Fahira kembali lagi meminta fahira untuk segera mengikutinya karena ibunda Putri datang untuk menjemput mereka, padahal acara belum seutuhnya selesai.
“Ayah dimana? Ia berani akan datang” ujar Fahira kecewa, tepat saat pintu mobil terbuka untuknya “Bagaimana jika Ia sampai setelah kita pergi?”
Ibu Putri, bibi Fahira terseuym simpul, senyum yang seakan menyimpulkan sesuatu “Ayah fahira sudah di rumah” ujarnya halus.
“Hm? seharusnya Ayah kesinni dulu” protesnya sembari memasuki mobil, rasa kecewa menyeruak dalam dirinya.
“Sebenarnya Ayah Fahira sudah menuju kemari, tapi…ada halangan”
Dalam perjalanan, Ibu Putri selalu menanyakan Fahira tentang lomba seakan berusaha melenyapkan pertanyaan Fahira yang selalu mengarah pada ayahnya.
“Ayah sudah berjanji, kalau aku menang Ia tak akan ikut demo”
Mendengar itu, bibinya terdiam sejenak “Pasti Ia tak akan ikut demo, Fahira…ini ada sesuatu yang ditulis Ayah Fahira pagi tadi.”
Gadis itupun meraih amplop tersebut, ada sedikit noda merah diatas tanda tangan ayahnya itu, setalah membukanya Ia tersadar.
            Fahira sayang…entah kamu mendapat juara atau tidak, Ayah tidak akan mengikuti demo tersebut karena bagi Ayah, apapun hasilnya kamu tetap yang teraik, kamu tetap juara, kamu tetap pemenang bagi Ayah. Ayah akan tetap bangga pada Fahira, hanyya saja sikap Ayah padamu hanya untuk melatih Ira, jangan sombong, dan hauslah akan ilmu. Jika Ayah berkata cukup, Ayah khawatir kamu akan merasa besar, puas dan berhenti mengejar. Ayah ingin melihatmu berkembang dan terus menjadi lebih baik dari sebelumnya. Ayah selalu bersyukur diberi anugerah sepertimu.
Surat singkat itu sukses mengguncang hatinya, bagaimanapun sebenarnya Fahira  memang telah paham mengapa ayahnya bersikap demikian. Namun, mengapa sekarang ayahnya menjadi sangat jujur dan terbuka? Ia menghapus air matana “Bibi, Ayah dirumah kan? Ira ingin segera memberikan piala ini!”
Puti tak bersuara sedikitpun. Ia hanya terdiam menatap langit luar dari balik jendela, perasaan yang Ia rasa membuatnya tak sanggup menatap Fahira, apalagi untuk berkata. Bebarapa saat lagi mereka akan samai pada rumah Fahira, namun dari waktu ke waktu perasaan gadis itu mulai tak menentu. Tepat di depan rumahnya, orang banyak menyeruak ramai, jantungnya beregp kencang. Setiap mata mengarah ke mobil yang ditempatinya seakan mengasihani dirinya. Ramai orang-orang menyebut namanya, Ia pun keluar dari mobil, Putri segera menghampirinya, memluk erat tubuhnya. Ia bertanya-tanya, ada apa? tapi sepertinya keadaan telah menjawabnya.
Fahira tak sadar saat napasnya yang terengah-engah berubah menjadi deraian air mata. Ia menangis tersedu-sedu, mobil ambulance berada di halaman rumahnya, pintu depan rumahnya terbuka lebar, jelas didepan matanya terlihat sesuatu yang ditutupi kain putih, hatinya seakan berhenti berdenyut tatkala mendapati ibunya memeluk adiknya yang menangis, sedang ibunya sendiri tengah terlihat lelah menahan tangis.
Inikah ayahnya? Orang yang selalu terlihat tegar dihadapannya kini tergeletak tak berdaya, orang yang selalu terlihat kuat kini lemah tak bernyawa. Ia terjatuh, kakinya melemas, piala besar yang digenggamnya terlepas hingga menggelinding dan terjatuh tanpa arah. Ia menangis dan terisak, orang-orang mendekat menopangnya.
“Ayah…”
Didengarnya orang-orang berkata “pukul 09.00 pagi tadi karena kecelakaan besar di depan mall”
Seandainya Ia turun dan melihat, seandainya Ia sempat menengok, mugkin Ia dapat mendengar kalam terakhir dari ayahnya, tapi bukankah penyesalan selalu datang diakhir?