Penat terasa mengampiri seluruh tubuhku, terlebih saat memandang keluar jendela mobil dan melihat kendaraan yang berjejer terlihat tanpa jarak seakan menghiasi jalanan, tidak ketinggalan suara klakson kendaraan pun turut hadir menjadi lagu pengiring malam ini. Macet, begitulah rutinitas di Ibu kota yang seakan tidak mau menghilang dan tetap mewarnai jalan-jalan Ibu kota. Segera aku mengeluarkan benda petak yang berada di dalam tasku dan mulai memutar lagu dan mendengarkannya menggunakan ear phone. Setidaknya bisa sedikit menghiburku dari rasa jenuh yang menyesakkan.
Aku membuka galeri yang terdapat di hand phoneku, dan melihat foto-foto yang berada di dalamnya. Aku tersenyum melihat foto yang telah ku ambil ketika liburan beberapa waktu lalu di Bali, hal itu mampu membuatku seakan kembali ke waktu itu, saat-saat menyenangkan di Bali. Aku menarik nafas panjang, rasanya ingin pergi liburan lagi. Itulah aku, aku memang senang pergi ke daerah-daerah lain untuk menikmati wisata yang dimilikinya, terlebih ada saja tambahan pengetahuan saat mengunjungi tempat-tempat itu, dan aku semakin menyadari akan keindahan alam dan budaya yang dimiliki oleh Indonesia sangat menakjubkan. Aku cinta dan bangga dengan Indonesia. Terima kasih Tuhan engkau telah menitipkan bumi pertiwi yang luar biasa nan elok ini kepada kami.
“Ma… minggu depan aku mau pergi liburan.” Ucapku kepada wanita setengah baya itu, aku harap ia akan mengizinkanku untuk pergi.
“Memangnya kamu mau pergi kemana?”
“Raja ampat Ma…soalnya aku belum pernah pergi kesana. Tempatnya sangat indah. Boleh kan Ma?”
“Asal yang kamu lakukan itu positif Mama pasti setuju, tapi kamu coba tanya Papamu.”
    Akupun segera keluar dan mendapati pria yang ku panggil Papa itu tengah duduk membaca koran sambil menikmati kopi hangatnya. Akupun segera mengahampirinya dan duduk di sampingnya.
“Pa….”
“Iya… ada apa.” Jawabnya dan perhatiannya pun masih terfokus pada lembaran tulisan itu.
“Pa…. aku mau liburan ke Raja ampat minggu depan.
 “Apa kamu tidak bosan liburan seperti itu terus? Bukannya dua bulan lalu kamu pergi ke Bali?” Tanyanya dengan nada yang lembut.

“Namanya juga suka Pa, kalau saja Papa masih muda pasti papa mengerti. Apa lagi zaman sekarang banyak sekali orang yang sering pergi wisata kesana kesini.”
Terlihat Papa menghela nafas, kemudian melipat koran itu, dan melihat ke arahku.
“Bagaimana kalau ke Lombok?”
“Lombok?”
“Iya, bukankah kamu udah lama tidak kesana lagi?”
“Iya sih, terakhir waktu aku kelas satu SD.”
“Tante Sarah ingin ketemu kamu lagi, kamu tidak pernah mengunjungi dia.”
    Aku hanya diam dan tidak membalas apa yang baru saja Papa katakan padaku, aku masih memikirkan kalimat yang diucapkan oleh Papa.
“Di sana banyak Gili yang tidak kalah indahnya dari Raja ampat, nanti kamu bisa di temani oleh Annisa anaknya Tante Sarah.” Sambungnya.
    Tiba-tiba Mama menghampiri kami dengan membawa piring yang berisikan pisang goreng, dan Mama pun berkata,
“Iya, tidak ada salahnya bukan kalau kamu liburannya ke sana saja.”
    Akupun bergegas menuju kamar karena sudah tidak ada lagi yang bisa aku katakan untuk meyakinkan Papa agar mengijinkanku pergi, terlebih Mama yang turut mendukung saran dari Papa membuat impianku untuk pergi ke Raja Ampat sudah mustahil lagi.   
Aku melihat jam tanganku sambil memperhatikan layar yang berada di depanku melihat jadwal keberangkatanku, bandara terlihat padat dengan orang-orang yang hendak pergi ataupun baru saja datang, terlebih ini adalah bandara tempat keluar masuk Jakarta sebagai ibu kota Indonesia, jadi wajar saja.
    Setelah perjalanan yang cukup panjang, akhirnya aku sampai di Lombok, pulau yang penuh akan pesona alam dan budayanya. Aku sedikit merapikan rambutku yang terlihat berantakan karena tadi aku sempat tertidur saat diperjalanan. Terlihat dua orang wanita melambaikan tangan ke arahku, sambil memanggil namaku. Salah satunya adalah wanita setengah baya sedangkan yang satunya lagi masih muda bahkan lebih muda dariku. Segera aku menghampiri mereka berdua.
“Bagaimana perjalanannya? Capek tidak?” Tanya wanita setengah baya itu. Aku tidak membalasnya hanya tersenyum kearahnya yang menjadi sinyal bahwa aku lumayan capek.
Kami melanjutkan perjalanan menuju rumah Tante Sarah. Rumahnya bukan berada di pusat kota melainkan di pedesaan, itulah salah satu hal yang membuatku rindu ingin ke rumahnya sejak pertama kali pergi kesana saat aku masih berada di Sekolah Dasar. Walaupun kejadian itu sudah lama, namun aku masih ingat akan keasrian dan keindahan yang membuat hati dan pikiran menjadi tenang karenanya dan hal itu tidak bisa aku dapatkan saat di Jakarta.
Sudah beberapa hari aku berada di rumah Tante Sarah, dan beberapa hari ini aku sudah menjelajahi berbagai tempat wisata di Lombok mataku benar-benar terpesona akan keindahan yang dimilikinya mulai dari pantai, bukit, maupun air terjun sungguh luar biasa. Tidak hanya wisata alamnya wisata kulinernya juga luar biasa, aku sebagai pecinta kuliner pun semakin mencintai daerah ini, disini aku tidak perlu was-was akan makanan yang belum tentu kehalalnnya begitupun saat beribadah, saat aku pergi keluar aku tidak perlu susah untuk mencari masjid karena banyaknya masjid disini bahkan masjid satu terletak tidak jauh dari masjid lainnya, jadi tidak salah jika Lombok disebut dengan pulau seribu masjid, dan tidak salah jika Lombok menjadi rekomendasi tempat wisata halal. Aku benar-benar tidak menyesal memutusakan untuk pergi ke Lombok.
    Entah mengapa beberapa hari ini aku merasakan ada yang berbeda dengan diriku. Aku menjadi rajin beribadah. Mungkin karena rumah Tante Sarah yang tidak terlalu jauh dengan sebuah pondok pesantren di sini, jadi suasana islaminya itu terasa sekali, dan itu secara tidak langsung turut mempengaruhi diriku. Aku yang biasanya malas dan jarang sekali untuk mengaji menjadi sering mengaji, mungkin karena Annisa yang sering mengaji, terlebih dengan lantunan suaranya yang merdu membuat hatiku tergerak untuk ikut mengaji. Aku semakin sadar akan keyakianan yang sudah aku anut itu sejak lahir, dan aku bersyukur aku terlahir sebagai seorang muslim.
    Tidak terasa tinggal dua hari lagi, dan aku harus kembali ke Jakarta. Sunggguh berat untuk aku lakukan, aku terlanjur cinta dengan tempat ini dan semua kenyaman yang aku dapatkan disini, terlebih masalah religi. Hari ini Tante Sarah mengajakku untuk menghadiri pengajian yang diadakan di pondok pesantren, namun karena sesuatu dan lain hal Tante Sarah pergi duluan, sedangkan Annisa ada keperluannya yang mendesak, jadi dia akan menungguku di pondok pesantren. Aku memasuki area pondok pesantren terlihat banyak orang yang turut mengadiri acara itu. Entah mengapa aku merasa gugup, apakah karena ini adalah pertama kalinya aku menghadiri pengajian? Aku mengambil hand phone dan segera menelpon Annisa agar mengetahui keberadaannya. Namun entah mengapa aku merasa ada hal ganjil yang terjadi, mengapa mereka menatapku dengan ekspresi seperti itu? Aku menjadi salah tingkah, apakah ada kotoran di wajahku. Dengan segera aku bercermin di handphone, namun tidak ada kotoran sama sekali, tidak ada yang aneh dengan wajahku. Aku pun tertunduk karena malu, ada sesuatu yang aneh denganku namun aku tidak bisa mengetahui apa itu agar aku segera memperbaikinya. Aku pun mencari tempat untuk duduk, tepatnya tempat dimana aku tidak bisa dilihat oleh orang-orang itu. Aku harap Annisa segera datang agar aku bisa langsung menanyakan apakah ada sesuatu yang aneh dengan diriku sehingga mereka menatapku seperti itu. Tiba-tiba seseorang memanggil namaku.
“Kak Meira..”
“Annisa… “
    Ada raut aneh yang tergambar di wajahnya ketika melihatku, hal ini semakin meyakinkanku bahwa memang ada hal yang aneh dengan diriku.
“Annisa…ada yang aneh? mengapa mereka menatap aku seperti gitu? Kamu juga.” Dia tidak membalas hanya tersenyum kemudian menarik tanganku mengajakku pergi ke suatu tempat.
    Aku menatap gadis yang ada di cermin itu, dia terlihat anggun. Apakah itu benar diriku? Aku merasa aneh dengan penampilan seperti ini. Berpakaian muslimah seperti ini? Sungguh bukan kebiasaanku. Kemudian aku pun tersenyum melihat ke arah cermin karena penampilanku ini. Entah mengapa aku merasa nyaman dan aman.
    Aku benar-benar malu akan kejadian tadi, mengapa aku tidak berpikir begitu? Hanya menutup kepala seadanya menggunakan kain panjang sementara rambutku kelihatan semua, memakai celana jeans pula, lalu mau menghadiri pengajian? Pantas saja mereka menatapku seperti itu. Tapi aku benar-benar tidak tahu kejadiannya akan seperti ini, aku hanya membawa celana jeans saja dari Jakarta, terlebih jilbab? Aku benar-benar tidak pernah berpikir ke arah sana. Aku pikir dengan memakai celana dan baju panjang serta menutup kepala seadanya sudah cukup untuk menghadiri pengajian, ternyata tidak, terlebih di sini yang nuansa islamnya kental sekali, dan untuk masalah memakai jilbab? Dari anak kecil pun sudah banyak yang mengenakannya.
    Tema ceramah yang di sampaikan adalah kewajiban menutup aurat, dan selama itu pun aku menangis. Mengapa aku baru menyadarinya sekarang? Kewajiban yang seharusnya aku lakukan sebagai seorang muslimah, aku tidak melaksanakannya padahal itu merupakan perintah dari Allah SWT. Aku merasa menyesal,
    Aku menunggu di depan rumah karena gerbang terkunci. Mama dan Papa tidak ada di rumah. Aku menelpon Mama untuk segera pulang karena aku sudah berada di rumah, tidak lama kemudian seseorang menghampiriku.
“Permisi Mbak mau mencari siapa ya?”
    Aku melepas ear phone yang ada di telingaku, untung saja aku memutarnya tidak terlalu keras sehingga aku bisa sedikit mendengar suara itu, lalu aku mematikan lantunan ayat suci al-qur’an yang sedang terputar, aku pun membalikkan badan dan melihat ke arah orang yang berbicara denganku. Ternyata dia adalah Mama, aku menaikkan alis sambil tersenyum kepadanya, mengapa Mama mengatakan hal seperti itu kepada anaknya sendiri. Berbeda dengan denganku, ekspresi Mama lebih dari pada itu, dia terlihat kaget dan terdiam untuk beberapa detik, dia tidak mengenaliku karena penampilan baruku ini. Kemudian Mama mendekat ke arahku lalu memeluk diriku. Walaupun dia tidak mengatakannya, tetapi aku tahu kalau dia sangat senang dengan penampilan baruku ini, kini kewajibanku sebagai seorang muslimah sudah aku tunaikan, dan semoga aku tetap istiqomah.
Bukan sekedar wisata biasa, namun sebuah perjalanan wisata yang istimewa, karena tidak hanya wisata alam dan kuliner tetapi juga wisata yang menghantarkan dan menuntunku pada hidayah sang pencipta, perjalanan wisata yang mendatangkan perubahan yang begitu besar dalam hidupku, membangunkanku dari ketidaktahuanku akan kewajiban yang seharusnya aku tunaikan. Terimakasih Tuhan engkau telah menyelipkan hidayah di sela perjalanan wisata halalku.