Begitu picik lembaga yang mempersempit dunia yang mestinya lebih luas dari galaksi. Para pelajar terpenjara orientasi nilai. Para guru berada pada jeruji harga upah peluh bersuara. Sistem yang berlaku saat ini semacam klip yang menjepit aorta, membuat mati gairah berkarya. Sebatas itu saja kah alam pendidikan kini?
Awan hitam menyelimuti horizon cakrawala. Sempurna gelap, hanya sebagian bias cahaya matahari yang tersisa. Kilat menyambar, sesekali diiringi gemuruh petir. Membuat jari-jari sempurna menutup pendengaran. Ruang OSIS berukuran 3x4 meter itu lengang sekejap, 3 orang didalamnya terpaku untuk sesaat.
            Prank!!!! “Apa kamu masih keras kepala, hah? Dunia ini bukan hanya tentang kamu! Kamu enak, kamu punya otak cerdas, cepat menghafal, gesit menghitung. Sedangkan kami dan mereka? Kamu nggak tahu kesulitan kami kayak gimana!” Prank!!!! Brak!!! nada amarah itu mencuak kembali, kali ini disertai lemparan vas bunga yang kemudian pecah, lemparan beberapa barang yang kini berserakan. Amarahlaki-laki berseragam putih-abu itu membeludak. Sedang seorang gadis dihadapannya memicingkan mata, menahan perih pada kakinya yang tergerus pecahan vas. Dia tidak bersuara, hanya diam memandang tajam sosok yang menghujatnya kini. Semacam ada lecutan degup emosi tak terkendali, nafas laki-laki itu terengah, kesal dibalas kebisuan.
            Hujan turun, rintiknya semakin deras seirama luapanekspresi pemberontak. Entahlah, apakah ia murka? Atau hanya sebatas luruh, memilih jatuh sebab lelah tertahan di awan yang semakin legam pekat.

            “Kamu ngomong!!! Muslimah nyebelin!” Hardik laki-laki itu garang sembari mulai mengepalkan tangan, siap menghujam wajah gadis berjilbab syar’i dihadapannya itu.
            “Jangan sekali-kali memakai kata-kata yang menjurus pada penghinaan atas agamaku yang juga merupakan agamamu. Jangan sekali-kali amarahmu mengkufurkan kamu!” ucap gadis itu tukas dan tajam sembari menunjuk tepat didepan mata laki-laki bengis itu.
            Wajah laki-laki itu kian memerah, ekspresinya menampakkan seperti dia sedang berada di sebuah tungku yang semakin naik suhunya saja.
            “Terima atau tidak terima. Surat itu telah sampai di tangan gubernur sekarang. SMS konfirmasi bahwa surat itu sudah sampai di tangan beliau baru saja sampai. 2 menit yang lalu.” Gadis itu tersenyum senang, meninggalkan ruangan itu dengan wajah sumringah sembari mengucap salam.
“Nadia!! Aku belum selesai bicara!” teriak laki-laki itu semakin kesetanan.
Nadia tidak menghiraukan. Tetap melangkah anggun dan menyisakan seorang laki-laki emosi yang semakin geram itu beserta seorang pria dewasayang hanya terpaku menyaksikan. Pria itu tak lain adalah guru mereka sekaligus Pembina OSIS di sana, Di SMAN 3 Haida. Pak Hardiman namanya.
            “Sebaiknya kamu mempersiapkan segala sesuatunya. Petugas-petugas pemerintahan itu mungkin akan segera memeriksa sekolah ini.” Ucap Pak Hardiman sembari menepuk pundak Rifki, laki-laki yang sedari tadi dipenuhi amarah.
            “Bapak juga harus membantu kami, ide menggunakan kunci jawaban itu tidak hanya datang dari siswa. Guru juga ikut serta termasuk bapak. Kalaupun kami mencontek, para guru bukannya tidak tahu. Tapi hanya berpura-pura tidak tahu.” Nada Rifki tidak terkontrol.
            “Iya, bapak juga pasti bertanggung jawab. Kondisikan saja seolah tidak pernah terjadi apa-apa.” Jawab Pak Hardiman dengan ekspresi tenang, kemudian berlalu meninggalkan Rifki..
            Hujan semakin deras jatuhnya. Pantulan airnya yang bertumbukan dengan tanah dan bebatuan memercik ke segala arah. Tidak terkecuali teras sekolah yang hanya memiliki lebar 1 m saja. Nadia mengeryit menahan sakit. Luka bekas pecahan vas tadi terasa perih terhempas air hujan yang PH-nya asam sebab polusi yang ikut tertumpuk pada gumpalan awan hitam. Ia mengernyit, berdesah sakit.
            Hari semakin sore, hampir pukul 06:00. Nadia dengan kaki yang semakin sakit berusaha berjalan dengan meraba-raba tembok, mengerahkan seluruh sisa tenaga yang ia miliki untuk melangkah menuju motor maticnya yang berjarak 10 meter dari tempat ia berada sekarang.
            “kamu sok suci!” tukas Rifki yang tiba-tiba menghalangi langkahnya. Menendang kaki Nadia yang terluka. Nadia menjerit, berteriak sakit, menangis. “Ya Allah!!!!!! Sakit sekali.” Ungkapnya lirih.
            “Kamu kesakitan, hah? Aku sudah peringatkan jika kamu ingin selamat maka sebaiknya kamu tidak bertingkah.” Nada suaranya semakin kasar, penuh amarah, menendang sekali lagi luka kaki Nadia. Nadia kembali menjerit kesakitan. Nyeri yang ia rasa merambat ke kepala. Sakit sekali. Nadia hampir saja kehilangan kesadaran hingga ada seseorang yang menangkap tubuhnya yang tumbang. Tak lain dan tak bukan adalah Furqon. Kakak sekaligus saudara satu-satunya. Tanpa hitungan menit, Rifki berlari kencang. Kabur.
            Nadia terkulai, tidak bersuara. Hanya memandang dengan tatapan meringis dibanjiri air mata. Furqon mengusap linangan air mata adik tersayangnya itu, meneguhkannya dengan kalimat tauhid. “Laa ilaa ha illallah.” Kalimat yang menjadi faforit mereka berdua. Nadia hanya berkedip mengisyaratkan. Furqon menggopong tubuh adiknya yang lunglai dengan hati resah, ia berlari keluar mencari taksi. “Benar firasatku bahwa sesuatu telah menyakiti wanita kesayanganku.” Lirih Furqon di tepian jalan seraya bertasbih, berharap taksi segera datang. Nadia tak henti meneteskan air mata yang bersatu dengan rintik hujan yang menerpa wajah oval beningnya. Ia mendongak, memandang lamat-lamat kakak yang sedang menggendongnya itu. 
            Hujan deras beganti gerimis, Nadia merekam bayang-bayang langit. Tersenyum. Kelopak matanya perlahan redup, ia tertidur. Furqon yang menengok kiri dan kanan menelisik kehadiran taksi tidak menyadarinya. Nadia telah pergi.
            Sepuluh menit berlalu, taksi datang. Furqon segera membawa adiknya ke Rumah Sakit terdekat. Selama di taksi, Furqon merasa aneh dengan tangan adiknya yang terasa sangat dingin. Namun ia meyakinkan diri bahwa adiknya baik-baik saja. Ia hanya kedinginan sebab hujan. Furqon membungkus kedua tangan diknya dengan telapak tangannya sembari tersenyum. “Kuatlah gadis jelita, Allah memeluk lukamu. Kamu bahagia kan? Ia mencintaimu melebihi kamu.” Furqon terisak dengan perasaan gelisah yang luar biasa.
            “Kakak, kenapa mama ngeharusin Nadia dapet nilai yang bagus di ulangan? Kan Nabi minta kita untuk nuntut ilmu, bukan dapet nilai 100.” Protes Nadia sambil membolak-balik lembaran buku yang sedang dipelajarinya pada sebuah ayunan di belakang rumah. Menghentak-hentakkan kaki. Mendorong tubuhnya ke belakang untuk kemudian meluncur deras ke depan. Furqon tidak menjawab dan hanya tersenyum, masih tertunduk membaca buku sembari bersandar di batang pohon yang cabangnya tergantung ayunan yang Nadia pakai.
            “Uthlubul ‘ilma walau bissin.” Pelafalan hadits Nadia masih terbata, namun ia berusaha melancarkan hafalannya. Nadia menoleh pada kakaknya. “Perasaan Nadia cantik deh kak, lebih cantik dari kertas-kertas penuh tulisan itu. Sekali-kali noleh kek kalau ditanya.” Cetus Nadia sebal.
            Furqon tersenyum, menutup bukunya kemudian bertumpu lutut tepat didepan Nadia. Memandang bola mata adiknya mendalam. Nadia salah tingkah, berkedip-kedip. “Kamu harus rajin-rajin belajar ya. Jadi wanita yang shalihah. Jangan sampai mencuri jawaban. Jangan sampai berbagi nilai haram.” Nasihat Furqon ramah sembari tersenyum, aoranya tampak mempesona. Nadia hanya mengangguk.
            Furqon menangis mengenang kenangan, “Nadia, bangun sayang.” Bujuknya lembut. Jantungnya mulai berdetak kencang tak teratur. Rasanya ia ingin sekali lagi menatap bola mata indah adiknya untuk sesaat. Ia menangis tersedu. Mereka sudah sampai di Rumah Sakit. Furqon turun membawa jasad adiknya itu dengan lembut sembari tak henti membanjiri sungai pipinya. Berharap adiknya tidak apa-apa. Sesampai di lobi Rumah Sakit, tampak beberapa orang suster tergopoh menyediakan ranjang Rumah Sakit. Furqon kemudian membaringkan adiknya disana. Seorang suster mulai memeriksa-riksa keadaan pasien sebelum dibawa ke ruang medis. Suster itu menggeleng, “ia sudah meninggal.”. Furqon tersenyum dengan linangan air mata, “bidadari syurga telah kembal ke asalnya.” Gumamnya dengan suara yang hampir tidak terdengar. Sedang hatinya remuk lantah.
Kamis, 7 Juli 2016
Dear diary,
Hari ini Nadia seneng banget.
Ulangan hari ini bu guru pake ulangan lisan, jadi temen-tmen Nadia nggak bisa nyontek. J
            Tiga bulan semenjak kepergian Nadia. Itu artinya sudah 3 bulan ia tidak bisa menatap bola mata indah adik tercintaya itu. 3 bulan ia tidak pernah mendengar pertanyaan konyolnya. Dan 3 bulan sudah ayunan belakang rumah kosong. Furqon sangat merindukan Nadia. Furqon berbaring di kamar Nadia. Meraih buku diary pink yang selalu Nadia letakkan di samping bantal. Membacanya halaman demi halaman.



            Furqon tersenyum membayangkan wajah jengkel adiknya saat sedang bercerita masalah ulangan. Ekspresinya sangat menggemaskan kala sebal menceritakan kenakalan teman-temannya yang saling berbagi jawaban. Furqon terhanyut dengan diary Nadia.
Selasa, 10 Juni 2016
Dear diary,
Coba aja nilai itu nggak ada. Pasti deh asyik sekolahnya. Ngggak perlu sedih ngelihat temen dapet nilai banyak dengan cara curang.  L lah kita yang jujur, jeblok!
 




            “Harus ku apakan rasa rindu ini dik?” air matanya mulai membanjir. Terisak-isak mengingat gurat rasa sakit yang tergores di wajah adiknya sesaat sebelum ia meninggal. Furqon sebenarnya ingin melaporkan kejadian itu pada polisi, namun niat itu ia urungkan. Sebab Nadia paling tidak suka menghukum balik orang yang menjahatinya, Nadia membenci hal itu.
            Sebulan yang lalu setelah Nadia meninggal, salah seorang pejabat dari kantor Gubernur mendatangi SMAN 3 Haida. Berterima kasih dan merasa bangga atas keberanian salah seorang siswinya mengirim proposal untuk meniadakan UN di provinsi NTB dengan argument yang sangat kuat disertai data-data yang mendukung. Kami merealisasikan proposal yang dikirim siswi sekolah sini yang bernama Nadia Putri Kamelia. Kami bangga terhadap anak bangsa yang berani mengungkapkan pendapat dengan cara yang benar.
            Pak Hardiman menangis, begitu juga dengan Rifki. Menyesali perbuatannya kepada Nadia. Ia mengira bahwa Nadia hendak melaporkan sekolah itu atas terjadinya jual beli kunci jawaban Try Out pertama sekolah tersebut, namun ternyata Nadia hanya meminta Gubernur untuk menghapuskan UN saja.
Furqon tersenyum dalam tangis mengingat peristiwa itu.
“Percuma rasanya kurikulum dirubah sedemikian rupa jika siswanya masih saja terus membawa penyakit turun menurun yaitu mencontek, kerja sama saat ulangan, dan lain sebagainya.” Furqon selalu terngiang salah satu penggalan kalimat pada diary Nadia itu. Hal yang kemudian menjadi alasannya mengkonsentrasikan pendidikan S-2 nya pada bidang keguruan di Freie Universitat Berlin, Jerman.
            Detik berdetak. Jarum jam berirama sunyi. Bayang-bayang memanjang dan memendek dengan cepat. Furqon kini menjabat sebagai kepala sekolah di MAN 1 Praya setelah menyelesaikan study S-2 nya di Jerman. Ia bergerak cepat mewujudkan visi misinya yang terinspirasi dari diary adiknya yaitu Nadia. Ia mengajukan izin kepada pemerintah pusat untuk tidak menggunakan sistem nilai. Jikapun harus digunakan, maka nilai tersebut tidak bersifat dominan. Awalnya memang terjadi kontra diantara dewan guru sebab akan terdapat kesulitan untuk memetakan hasil belajar siswa. Namun Furqon memiliki cara khusus yaitu dengan melakukan uji lisan. Semua bentuk ulangan dan ujian dilakukan dalam bentuk lisan.
            Sesuatu yang baik memang tidak bisa didapatkan secara instan. Tidak bisa terbuti dalam sekejap mata. Perlu perjuangan dan pengorbanan untuk menunjukkan bahwa hal tersebut adalah baik. Furqon tidak letih mempublikasikan serta meminta kerjasama berbagai pihak untuk mendukung ide ini. Namun nihil, hanya sedikit sekali pihak yang mendukung.
            Furqon tidak menyerah. Ia benar-benar mendidik siswa-siswaya untuk menjadi pribadi yang berilmu dan berkompetensi, bukan siswa yang sekedar bernilai raport. Perjuangannya itu tidak sia-sia, prestasi dalam berbagai ajang kompetisi nasional berhasil diraih siswanya. Hal ini kemudian membuat banyak kalangan tertarik dengan sistem yang diterapkan di sekolah yang dipimpinnya.
Sebuah stasiun TV mengundang Furqon ke acara talk show. Ia diwawancarai secara detail mengenai sistem pendidikan yang dijalani sekolah yang dipimpinnya kini. Furqon tersenyum menjelaskan sistem yang diterapkannya. “Jadi disini kami mengajarkan siswa kami untuk mengejar ilmu, bukan mengejar nilai. Kami memutuskan untuk menghapuskan sistem penilaian. Kami menamainya Deleting Value. Kami membimbing mereka secara intensif tanpa berpikir ranah angka yang tertulis pada raport. Jikapun harus mengajukan nilai sebagai syarat untuk masuk perguruan tinggi, kami tetap mengadakannya namun dalam bentuk lisan. Apapun ujian itu kami mengadakannya dalam bentuk lisan. Hal ini menghapuskan penyakit contek mencontek yang sejak dahulu hingga sekarang telah membudaya. Setidaknya mereka tidak dihantui angka-angka merah dibawah KKM. Sistem deleting Value ini membantu mereka memiliki kepercayaan diri yang baik terhadap kemampuan mereka sendiri sehingga mereka tidak perlu melakukan tindakan mencontek ataupun bekerjasama.”
Riuh tepuk tangan menyambut jawaban Furqon. Banyak pihak akhirnya menyadari bahwa selama ini bangsa Indonesia diperbudak oleh nilai raport sehingga siswanya cenderung menghalalkan segala cara untuk mendapatkan nilai tinggi.
Stay focused on whatever you want to do and don’t doubt your self.