Rona malam ibukota dingin menusuk tubuh. Diantara riuh kendaraan berlalu-lalang, masih ada ketenangan di warung kopi sederhana ini. Bersama teman-teman menghilangkan jenuh, juga mencari kehangatan. Asap hangat mengepul di atas cangkir kopi dengan gerakan memutar sendok kuayunkan. Tapi sedih, belakangan satu per satu teman yang biasa menemani hilang entah kemana, solidaritas perlahan luntur.
“Bi, Denal, Faisal, sama Firman kemana belakangan ini? Kok nggak pernah kelihatan yah?” tanyaku ke Abi yang asyik menyeruput kopi.
“Manague tahu, memang gue ibunya. Tanya ibunya aja, Kal.” jawaban acuh Abi. Seakan tidak peduli.
“Kayaknya semenjak berdiri Kafe P’de di pertigaan, mereka nongkrong di sana terus, Kal.” Heri yang mengetahui coba memberi tahu.
“Belagu banget. Biasa nongkrong di warung kopi sekarang berani-beraninya ke kafe. Memang ada apa sih di sana?” Abi balik bertanya.
“Nah, itu yang ingin gue kasih tahu. Jadi kata anak-anak yang sudah pernah ke sana, memang di sana itu nggak cuma kafe biasa yang menawarkan kopi atau steak, tapi di sana juga disediakan tempat karaoke, DJ party, minumannya juga kelas berat, Bir! Gue jadi khawatir nanti teman-teman kita akan terjerumus ke pergaulan yang buruk.” ungkap Heri.
Aku mulai geram. Semakin risih mendengar cerita Heri yang serba tahu tentang kafe baru di pertigaan jalan. Dan rasanya kopi malam ini amat panas berkat cerita Heri.
“Buruan dihabiskan, yuk. Udah larut malam banget. Lagipula besok gue kuliah pagi.” Abi mengingatkan aku dan Heri yang keasyikan ngomongin kafe baru yang rasanya jika dibahas semalaman ini juga tidak akan habisnya. Kopi segera diseruput habis sampai tandas, dan kemudian kami bergegas pulang.

***
Masih tidak habis pikir, teman yang sederhana ala kadarnya, bisa berubah semenjak adanya virus baru di kampungku. Memang tidak ada salahnya mereka berdiri, itu hak. Lucunya, hak mereka merenggut hak aku, Heri, dan Abi untuk dapat menikmati keseruan malam bersama Denal, Faisal, dan Herman. Aku termenung. Apa perlu aku lakukan sesuatu supaya dapat menjemput paksa ketiga temanku dengan sendirinya dari kafe yang kupikir memiliki banyak dampak negatif itu? Aku kembali termenung. Termangu menggali ide di kepalaku.
“Tok… tok… tok!” Ada seseorang mengetuk pintu rumahku.
Aku penasaran. Mataku menyisir sedikit dari celah gorden yang sedikit renggang. Aku terperanjat, sial, ternyata Ibu Halim yang datang. Terpaksa aku harus membuka pintu. Menyambutnya dengan senyum palsu untuk meluluhkan hatinya.
“Mas Haikal, sekarang sudah tanggal 28, Ibu kamu mana? Jangan lupa janji untuk bayar kontrakannya yah.” ucapan kasih sayang Ibu Halim kepadaku yang selau kudengar di setiap tanggal 28.
Aku bingung ingin menjawab apa. Ibu masih dagang di pasar. Dan sepertinya aku tidak mungkin menjemput Ibu ke pasar hanya untuk memberitahu Ibu Halim menagih uang kontrakan. Sedangkan Ibu kemarin juga mengeluh sudah tidak ada uang. Pada akhirnya, dengan rela hati aku memakai tabunganku untuk membayar uang kontrakan bulan ini. Duit yang kudapat dari hasil menang lomba minggu lalu. Ya, hitung-hitung membantu Ibu.
“Mas, malah bengong. Hayo bayar, Mas.” tegas Ibu Halim.
“Iya, Bu. Tunggu sebentar yah.” Aku masuk ke dalam kamar, mengambil sisa-sisa duit yang ada demi memenuhi janji ibuku ke Ibu Halim untuk membayar kontrakan. Dengan demikian, akhirnya aku harus berpikir keras, mencari cara supaya dapat uang saku kembali untuk membayar kuliahku tanpa harus meminta ke Ibu.
***
“Kok sepi banget? Kal, kayaknya anak-anak makin jadi. Tongkrongannya sekarang pindah ke Kafe P’de, udah nggak di Burjo Bang Mihun lagi.” Kini hanya ada aku dan Abi di Burjo Bang Mihun, tempat yang dulu menjadi tongkronganku dengan keenam temanku yang lain. Namun, yang empat kini telah bermigrasi tongkrongan ke Kafe P’de, kafe baru di pertigaan jalan yang tiap malam selalu berdentum alunan msuik DJ, sangat berisik.
“Sabar, Bi. Nanti kalau duit mereka tipis juga bakal balik lagi ke sini.Bi, lu kepikiran nggak, kayaknya kalau kita cuma begini-begini aja nggak produktif banget. Duit habis, waktu terbuang percuma. Cari kerja yuk. Duit gue udah habis juga nih, udah buat bayar kontrakan. Lu barangkali ada info lowongan kerja?” keluhku ke Abi.
“Bingung, Kal. Iya benar juga apa kata lu, kita nggak produktif kalau kerjanya cuma begini-begini aja. Coba dagang di Taman Buni yuk, di sana kan lokasinya strategis di deket pusat kota dan tamannya sangat luas, nah kita bisa jualan jus di sana. Minat, Kal?” Abi menawarkan idenya.
“Taman yang dekat Kafe P’de? Susah, Kal. Pasti kita kalah saing. Eh, tapi ide lu genius juga. Kenapa kita nggak manfaatkan Taman Buni aja buat nyari penghasilan. Gue baru kepikiran, kemarin gue ada gagasan ilmiah buat memanfaatkan kearifan lokal kita ke suatu bentuk kampung wisata budaya.”
“Apa tuh, Kal? Kok gue belum paham yah.” Abi penasaran.
“Jadi begini, Bi. Jakarta punya banyak cerita rakyat yang unik, asyik, juga seru. Atau mungkin nanti kita bisa buat cerita sendiri yang pokoknya menarik, tapi ada nilai-nilai budaya sekaligus ada pesan moralnya. Kita angkat aja ke panggung teater, yang ambil peran anak muda, Bi. Ya, kita-kita ini. Coba lu pikirkan, Taman Buni luas, tapi kebanyakan lahannya nggak diberdayakan. Kita nanti bisa minta tolong ke Pak Lurah untuk mengizinkan kita memanfaatkan Taman Buni, sekaligus minta difasilitasi sarana apa aja yang nanti kita dibutuhkan. Pak Lurah waktu itu sudah bilang sendiri lho, kalau kita mau buat kegiatan di Taman Buni dia siap membantu. Nah, kita tagih tuh, janjinya.” jelasku panjang lebar ke Abi.
Great idea!Tapi siap lu mau berdayakan anak-anak?” tanya Abi.
“Siap. Yang penting kita kompak aja dan mau diajak kerja sama. Pokoknya kita tarik Denal, Firman, sama teman-teman kita yang lain buat ngebantu buat sukseskan proyek ini. Nanti pokoknya gue ada konsep, ketika weekend, ketika kita libur, kita manfaatkan waktu libur kita untukmemodifikasi Taman Bunijadi taman yang berbudaya. Kita buat suatu konsep kampung wisata, ada festival di dalamnya. Kalau hari biasa kan kita ada rutinitas yang padat, jadi Taman Buni masih seperti taman normal seperti biasa. Orang bisa menikmati suasana sore dengan gratis. Nah, untuk hari Sabtu dan Minggu, kita minta bantuan Pak Lurah, Taman Buni diselenggarakan festival dengan kita anak-anak muda sebagai motornya. Masuknya pakai harga tiket masuk. Selain nanti kita ada pertunjukkan teater budaya, nanti kita bisa ajak juga warga yang lain untuk berkontribusi membangun kampung wisata ini dengan menjual souvenir dan kuliner khas Betawi serta ada pameran karya-karya lukisan, fotografi, dan karya artistik lainnya yang berlatar belakang budaya Betawi, khas daerah kita. Semua itu kita desain semodern mungkin, maksudnya kita bungkus dengan dekorasi, promosi, dan inovasi yang menarik sesuai zaman sekarang. Dengan demikian, selain kita membangun dan melestarikan budaya kita, pasti nanti kita juga punya penghasilan. Lumayan buat nambah uang saku kita juga nantinya.”
“Wah beruntung yah gue punya teman sekreatif lu. Oke, Kal, besok kita langsung ngobrol sama anak-anak, pokoknya bakal gue hasut semua anak-anak muda di kampung kita supaya pada mau terlibat. Habis itu langsung sampaikan ke Pak Lurah, biar nanti Pak Lurah bisa sampaikan permohonan kita ke Pak Gubernur, dan gue yakin, kampung kita bakal jadi kampung wisata.” ucap Abi membara-bara. Semangat pemudanya keluar.
Akhirnya aku dan Abi menemukan suatu titik terang untuk membuat waktu kita produktif dan tanpa disadari, kami akan membuat suatu karya untuk daerah kami tercinta, menciptakan kampung wisata dan membangun budaya.
***
Kampung Budaya yang telah kurencanakan bersama Abi, membutuhkan perjalanan panjang dan penuh lika-liku. Dari mulai mengajak pemerintah supaya membantu Kampung Budaya ini berdiri, sampai kepada memberdayakan dan mengajak anak-anak muda di daerahku untuk mau ikut terlibat, serta mempromosikan semua itu butuh upaya dan komitmen keras. Namun semua itu membuahkan hasil. Sabtu dan Minggu menjadi beda di kampungku. Setiap sore menjelang senja, Taman Buni ramai dikunjungi pengunjung. Taman Buni sekarang menjadi destinasi wisata di setiap weekend.Ada yang dari penduduk lokal sampai pengunjung dari luar kota yang penasaran akan cerita rakyat serta budaya Betawi. Masyarakat banyak yang membawa anak-anaknya ke Taman Buni untuk dapat menikmati Kampung Budaya proyek dari anak-anak muda di daerahku sebagai ajang mereka mengenal sejarah dan budaya Betawi. Kebanyakan dari pengunjung ingin menyaksikan teater yang diperankan oleh anak-anak muda yang telah diberdayakan dan dilatih supaya ketika pentas tak mengecewakan. Ada juga yang hanya sekadar menikmati jajanan kuliner Betawi dan souvenir sebagai oleh-oleh. Kini Taman Buni, bukan hanya sebagai Taman biasa yang berada di lokasi strategis, namun telah berubah menjadi destinasi wisata keluarga di taman yang strategis untuk membangun budaya Betawi.
***