Wajah ayunya diterpa semilir angin sore itu. Jilbabnya pun berkibar dipermainkan angin senja. Tatapan matanya yang tajam tertohok pada pemandangan di depannya. Sebuah landscape dengan langit berlukiskan mega jingga di tepi pantai Gili Trawangan. Dan semua itu tersalin di atas sebuah kanvas berukuran sedang yang sedang ia garap.
            Tangan lentiknya dengan lincah memainkan kuas. Goresan demi goresan warna mulai bermunculan seiring dengan kuas yang menari sedemikian rupa. Setelah tiga puluh menit berkutat dengan kegiatan melukisnya, mata tajam itu terdiam. Tangannya pun berhenti memainkan cat air yang ia jejakkan di atas kanvas. Perlahan, ia menanggalkan alat lukisnya dan berdiri menghadap landscape yang semakin memerah.
            “Subhanallah… Betapa indahnya lukisan-Mu ini, ya Allah. Walaupun aku sudah mencoba untuk menyalinnya, namun keindahan milik-Mu lebih berwarna. Subhanallah…” ujarnya perlahan. Tangannya berkali-kali mengurut dada. Mencoba menyerap semua keindahan alam itu dalam balutan tasbih yang terus bergulir dari bibir tipisnya.
            “Rhea! Bagaimana lukisanmu? Apakah sudah jadi?” tanya seseorang dari balik punggungnya. Gadis bernama Rhea itu pun berbalik menanggapi panggilan tersebut. Ia hanya tersenyum melihat seorang perempuan bermata sayu yang sekarang berdiri di hadapannya.
            “Iya. Aku hampir selesai kok. Hanya tinggal beberapa goresan saja.” Jawab Rhea, tersenyum. Gadis bermata sayu itu pun mengangguk. Rhea kemudian mengambil kuasnya dan menggoreskan titimangsa di bawah landscape buatannya.

            Setelah puas dengan karyanya, Rhea kemudian membereskan semua perlengkapan melukis yang ia gunakan. Kemudian memasukkannya ke dalam mobil yang ia tumpangi bersama si Mata Sayu.
            “Sudah semuanya?” tanya si Mata Sayu.
            “Alhamdulillah. Sudah semuanya kok, Fi.” Jawab Rhea. Alfi, gadis bermata sayu itu pun mengangguk. Kemudian setelah Rhea memasuki mobil, mereka pun melaju meningalkan landscape yang semakin menggelap.
***
            Rhea dan Alfi merupakan dua sahabat yang sama-sama berkiprah di  organisasi Kerohanian Islam (Rohis) SMAN 1 Selong. Keduanya disibukkan oleh berbagai kegiatan bernuansa islam yang diselenggarakan oleh organisasi tersebut. Apalagi sekarang mereka tengah bermusyawarah untuk menentukan tujuan acara tadabbur alam yang akan terlaksana sepuluh hari lagi.
            “Jadi menurut kalian, untuk tadabbur alam kali ini kita akan pergi kemana?” tanya Kak Hafidz selaku ketua Rohis. Semua berebutan untuk memberikan pendapat mereka. Dengan sedikit kewalahan, Kak Hafidz pun menunjuk Rhea untuk berpendapat terlebih dahulu.
            “Rhea, apa usulmu untuk musyawarah kali ini? Sertakan juga alasanmu.” Tanya Kak Hafidz pada gadis bermata tajam tersebut.
            Rhea bingung hendak memberikan pendapat apa. Setelah terdiam agak lama, ia pun membuka suaranya. “Begini, akhi, ukhti, bukannya kita semua tahu bahwa Pulau Lombok terpilih sebagai destinasi Wisata Halal Dunia oleh gubernur kita, TGKH. M. Zainul Majdi, M.A.?” Tanya Rhea yang disambut oleh anggukan dari seluruh peserta musyawarah.
            “Jadi, bagaimana jika kita tadabbur alam dengan mengunjungi tempat-tempat yang sekiranya menjadi destinasi utama dari pesona Pulau Lombok tercinta kita ini? Seperti Gili-Gili yang berada di ujung sana. Atau Desa Sade di Lombok Tengah. Saya yakin dengan keindahan serta keunikan dari masing-masing tempat tersebut akan membuat kita semakin sadar akan kekuasaan Allah yang diberikan kepada kita.” Jelas Rhea panjang lebar.
            Semua yang hadir tampak memikirkan saran Rhea. Mereka membenarkan apa yang diucapkan oleh gadis itu. Kemudian Alfi pun mengangkat tangannya. Hendak meminta izin untuk berpendapat. Dan kak Hafidz meluluskannya.
            “Saya setuju dengan pendapat Rhea. Selain tadabbur alam, kita juga akan semakin yakin bahwa Pulau Lombok memang tepat untuk dijadikan destinasi Wisata Halal Dunia apabila kita sendiri sudah meyakinkan diri kita dengan cara mengunjungi tempat-tempat tersebut.” Papar Alfi.
            Semuanya mengangguk. Membenarkan alasan yang logis itu. Kak Hafidz pun  hendak menyetujui perkataan Rhea dan Alfi saat seseorang laki-laki mengajukan telunjuknya.
            “Interupsi, Kak!” izinnya. Kak Hafidz pun mengangguk.
            “Tadi ukhti Rhea dan ukhti Alfi mengatakan bahwa pulau kita sudah terpilih sebagai destinasi Wisata Halal Dunia. Alasannya apa? Mohon dijelaskan.” Ungkap Ahmad, si lelaki itu dengan sopan.
            Kak Hafidz tersenyum dan kemudian berkata, “Ada yang ingin menjawab pertanyaannya akh Ahmad?” tanyanya pada peserta musyawarah.
            Rhea mengangkat tangannya dengan sigap. Dan kak Hafidz pun memperbolehkannya.
            “Begini akhi Ahmad. Pada tahun 2015 lalu, Lombok terpilih sebagai World’s Best Halal Honeymoon dan World’s Best Halal Tourism Destination dalam acara The World Halal Travel Summit/Exhibition di Abu Dhabi. Dalam hal ini, paling tidak ada empat alasan mengapa Lombok layak mendapatkan predikat tersebut.” Papar Rhea yang kemudian melirik Alfi.
            Mendapat lirikan tersebut, Alfi mengerti. Ia langsung melanjutkan keterangannya Rhea. “Pertama, karena warga Timur Tengah dan wisatawan dari negara emapat musim senang dengan detinasi tropis. Dan seperti yang kita tahu, bahwa warga Timur Tengah mayoritas memeluk agama islam.”
            “Lalu yang kedua, pulau Lombok dikenal sebagai Pulau Seribu Masjid. Di mana tentu ini bisa menjadi objek wisata bagi peminat islam. Dan itu memudahkan traveler Muslim yang ingin beribadah.” Alfi menghentikan keterangannya dan meminta Rhea untuk meneruskan.
            “Kemudian, perihal makanan. Sebagai pulau dengan mayoritas Muslim, tentu makanan yang ada di sini sudah tentu halal. Apalagi beberapa makanannya yang unik, seperti Ayam Taliwang dan Plecing Kangkung, tentu akan semakin menarik minat wisatawan yang datang terutama bagi para food traveler.” Rhea tersenyum ketika menyebutkan kedua makanan kesukaannya tersebut.
            “Dan yang terakhir, ialah penginapan yang Muslim friendly. Walaupun belum sepenuhnya, namun mayoritas hotel yang ada di Lombok sudah menyediakan fasilitas yang berbau islam. Seperti arah kiblat, alat shalat, dan kitab suci untuk setiap kamar. Tentu ini akan mempermudah setiap Muslim yang berkunjung untuk melakukan ibadah.” Ujar Rhea mengakhiri pendapatnya.
            Semua langsung bertepuk tangan begitu Rhea selesai berbicara. Beberapa orang bahkan mengucapkan takbir karena merasa itu semua adalah sesuatu yang luar biasa. Rhea dan Alfi hanya bisa tersenyum melihat tingkah laku saudara-saudara seorganisasi mereka itu.
            “Berdasarkan uraian singkat ukhti Rhea dan ukhti Alfi, sekarang bagaimana pendapat kalian?” tanya kak Hafidz.
            “Kita tadabbur alam-nya ke Pantai Senggigi saja Kak!” ujar seseorang dengan kopiah hitam kelam.
            “Bagaimana kalau Desa Sade?” tanya seorang ukhti berjilbab biru muda.
            “Gili Trawangan saja. Kita bisa snorkeling di sana!” ujar yang lain.
            “Pantai Pink!” seorang lelaki berkoko hijau pun mengangkat suaranya.
            “Mendaki saja! Gunung Rinjani stay menunggu kita!” teriak yang lainnya.
            “Pantai Kuta!”
            “Air terjun Benang Kelambu!”
            Mereka terus saja meneriakkan nama-nama tujuan wisata yang populer di Lombok. Karena kewalahan, akhirnya kak Hafidz memutuskan untuk merundingkannya dengan Ustadz Pembina.
Setelah berbincang agak lama via telepon, akhirnya kak Hafidz memberitahukan mereka bahwa tujuan untuk tadabbur kali ini adalah Desa Sade dan air terjun Benang Kelambu.
Semuanya mengucapkan tahmid secara serentak. Dan kak Hafidz pun memberitahu mereka apa-apa saja yang harus dibawa ketika tadabbur alam sepuluh hari mendatang.
***
Sepuluh hari kemudian, Rhea dan kawan-kawan pun telah siap dengan bawaannya masing-masing. Tiga bus yang akan mengangkut mereka pun telah terparkir di depan gerbang sekolah. Setelah semuanya datang, mereka kemudian menaiki bus dan memulai perjalanan tadabbur alam itu.
Selama di dalam perjalanan yang memakan waktu dua jam tersebut, Rhea dan Alfi tampak asyik memperbincangkan tentang daerah yang akan mereka kunjungi.
Kemudian, seorang perempuan berkacamata yang tampak lebih muda dari mereka mendekati kursi duduk mereka dan bertanya tentang manfaat dari tadabbur alam yang mereka lakukan kali ini.
“Kak, menurut kakak, apa saja manfaat dari kita men-tadabburi keindahan alam yang berada di Desa Sade dan air terjun Benang Kelambu itu?” tanya si Gadis Kacamata setelah memperkenalkan dirinya yang bernama Hani.
“Begini Hani. Kamu tahu kan kalau Desa Sade yang berada di Rambitan, kecamatan Pujut, kabupaten Lombok Tengah itu adalah desa yang masih teguh mempertahankan adat istiadat asli suku Sasak? Nah, dari situ kita dapat merenungi atau men-tadabburi bahwa setiap perubahan yang ada tidak harus semuanya kita turuti. Sama seperti warga Desa Sade yang masih memegang teguh adat istiadat asli Sasak. Mereka tetap teguh walaupun arus globalisasi sudah sangat deras di zaman ini.” jawab Rhea. Ia kemudian menarik napasnya dalam, sebelum melanjutkan perkataannya kembali.
“Hal itu secara tersirat memberitahukan kepada dunia bahwa tidak semua perubahan serta merta kita terima begitu saja. Kita harus mencontohi warga Desa Sade yang sangat selektif dalam menerima perubahan yang ada. Mereka akan menyaring perubahan-perubahan tersebut dengan hukum adat yang ada. Apabila itu tidak sesuai, mereka akan menolaknya. Bukankah tidak setiap adat isitiadat itu perlu ditinggalkan? Justru kita harus tetap mempertahankan adat yang baik. Dan itu semua telah dilakukan oleh warga Desa Sade.” Rhea pun mengakhiri penjelasannya yang panjang tersebut dengan sebuah senyuman.
Hani tampak setuju dengan semua itu. Kepalanya mengangguk-ngangguk mendengar penjelasan dari seniornya. Kemudian matanya berpaling ke arah Alfi yang sedari tadi terdiam mendengarkan musik menggunakan headset. Hani kemudian menepuk pelan tangannya Alfi.
“Kak, lalu bagaimana dengan air terjun Benang Kelambu? Apa yang dapat kita renungi dari sana?” tanyanya perlahan. Alfi terdiam memikirkan jawaban apa yang sekiranya tepat untuk menjawab pertanyaan tersebut. Lama terdiam, ia kemudian memaparkan alasannya.
“Hani, aku merasa bahwa yang dapat kita petik dari perjalan kita menuju Benang Kelambu tersebut adalah sebuah perjuangan. Yang aku tahu, medan menuju air terjun itu lumayan berat. Banyak bebatuan dan juga jalan yang berliku-liku. Terlebih kita harus berjalan kaki untuk sampai di tujuan. Apalagi bagi mereka yang membawa banyak bawaan. Tentu akan merasa terbebani. Namun, semua itu akan terbayarkan ketika kita sampai di kaki air terjun. Keindahan serta kesegaran dari Benang Kelambu akan membayar seluruh kelelahan yang kita rasa sebelumnya.” Jawab Alfi dengan yakin.
“Lalu, pelajarannya apa??” tanya Hani polos. Alfi dan Rhea tersenyum mendengar hal itu. Alfi kemudian kembali menjawab pertanyaan kedua itu.
 “Hani, bila kita ibaratkan dengan kehidupan manusia, itu adalah perumpaan manusia yang tengah berusaha untuk mencapai tujuan hidup mereka. Mereka akan bekerja keras untuk mencapai hal itu walau mereka tahu itu tidak akan mudah. Mereka harus melewati berbagai rintangan dan halangan untuk mencapai tujuannya. Dan semua itu akan terbayarkan dengan segala hasil yang mereka dapatkan sesuai dengan usaha masing-masing. Sama seperti kita saat ini. Perjalanan yang jauh dan lelah akan hilang ketika kita sampai di sana nanti.” Jelas Alfi lebih panjang dari Rhea.
Karena kebanyakan berbicara, Alfi pun merogoh tasnya dan mengambil sebotol besar air minum. Ia pun menenggaknya beberapa tegukan sebelum menaruhnya kembali.
Hani tersenyum manis mendengar penjelasan dari kedua senior itu. Tak sadar, penjelasan tersebut ternyata membuat mereka tidak merasakan waktu yang lama. Akhirnya mereka pun sampai di tempat tujuan dengan selamat.
Rhea tersenyum melihat suasana Desa Sade yang benar-benar jauh dari kata modern. Namun di situlah letak daya tariknya. Pemandangan Desa Sade yang begitu asri dan nyaman berhasil membuat mereka berdecak kagum. Apalagi ditambah dengan pepohonan yang sangat rimbun di setiap sudut jalan semakin membuat adem suasana di tengah terik matahari.
Semua itu membuat Rhea tak tahan lagi untuk melakukan hobinya yakni melukis. Dengan sigap, ia kemudian memilih lokasi yang strategis agar seluruh pemandangan yang tersaji dapat disalin di atas buku gambar besar yang ia bawa.
Tangannya pun mengambil sebuah pensil runcing. Lalu dengan tenang, ia pun  menggoreskan batangan grafit itu yang menjelma menjadi lekukan demi lekukan sehingga menghasilkan pemandangan yang tak kalah indah dengan aslinya.
Alfi tersenyum melihat tingkah sahabatnya yang sudah maestro di dalam seni melukis itu. Tak beberapa lama, lukisan itu pun jadi dengan sempurna walau hanya sekedar sketsa. Rhea kemudian membereskan alat melukisnya karena mereka akan melanjutkan perjalanan mereka menuju air terjun Benang Kelambu.
 Di dalam mobil yang melaju, Rhea pun tersenyum hangat karena telah diperkenankan untuk merenungkan kekuasaan Allah yang terhampar pada pulau tempat tinggalnya. Si Pulau Seribu Masjid, Lombok.