Naaaaaab......
Nabiyaaaaa.. tungguuuu..!!
Tepat di depan pohon mahoni sosok gadis yang tengah berjalan berhenti dan segera menoleh ke belakang. Ia mengenakan gamis berbahan wolfis dengan warna biru muda. Jilbab polos dengan warna senada menutupi hingga pergelangan tangan. Dua buah buku bertengger rapi di tangan kanannya. Sedangkan tangan kiri memegang tali tas yang diselempangkan di pundak kiri. Ia terlihat kebingungan menatap sosok gadis yang tengah berlari ke arahnya. Siapa ia”pikirnya dalam hati
Beberapa saat kemudian, sosok gadis itu berdiri tepat dihadapannya dengan napas yang memburu. kelelahan. Gadis dengan tinggi yang tak jauh berbeda darinya. Ia pun mengenakan gamis, hanya saja warna gamis itu berbeda. Gadis di depannya ini mengenakan gamis hijau dengan jilbab putih polos. Ia membungkuk sambil terbatuk-batuk ketika tiba di depan pohon mahoni itu.
“aduh Nab, saya lelah berlari mengejarmu” ia berkata seraya bangkit. Ia berusaha memperbaiki napasnya yang terengah-engah.
“siapa?”
“Nab, its me”
Aku terbelalak menatap sosok gadis  di hadapanku. Ini bukan mimpikan ? refleks aku mencubit tanganku. Sakit.
“masyaAllah Git, ini beneran anti?” Tanyaku masih tak percaya. Ku genggam tangannya untuk memastikan ia nyata.

Sosok gadis dihadapanku mengangguk tersenyum. Aku hampir menangis. Ia nampak anggun dalam balutan pakaian itu. Dulu ia paling tidak suka mengenakan baju gamis dan berjilbab. Namun, masyaAllah, lihatlah ia kini. Ia temanku sejak TK. Kami tumbuh bersama menjadi sepasang sahabat hingga SMA. Namun, saat menempuh bangku kuliah, kami harus terpisah karena lulus dalam jurusan yang berlainan. Meskipun begitu, kami masih sempat tinggal satu kost selama setahun dan di tahun kedua kami terpaksa berpisah.
“Nab, aku mau ikut kajian hari ini” ia berkata seraya mengapit lenganku seraya berjalan.
“Tentu Git, ayok segera”kataku sambil mempererat gandengan tangannya.
Tidak ada ayunan langkah yang sebahagia sore itu. Impian yang sudah sejak lama kudengungkan dalam doa. Selamat datang sahabatku. Selamat datang di jalan dakwah ini.
“Mari memanfaatkan teknologi yang semakin maju untuk menggencarkan dakwah ini. InsyaAllah, pekan depan pameran mobil terbang akan segera dirilis dan Alhamdulillah salah satu foundernya adalah kader dakwah ini. Beliau adalah profesor Azhar. Ana harap antum wa antuna   hadir nanti, toyib. Wassalamualaikum wr wb” ustadz memberikan kalimat penutup di kajian sore itu.
“Ya ampun Nab, gak nyangka saya bakalan ketemu prof Azhar. Dia itu lo yang saya maksud, my first love pada pandangan pertama saat pertama kali masuk Universitas Mataram ini” Gita seperti biasa akan langsung bercerita padaku
“Masak ukhty?, semoga anti berjodoh dengan beliau. Ana sih tidak tau yang seperti apa orangnya. Namun, apa tidak terlalu tua ukh? Beliau kan seorang profesor”
“Duh Nab, jangan menilai umur  karena sebuah gelar saja dong. Prof Azhar itu hanya 3 tahun diatas kita Nab. Dialah yang telah berhasil mencuri seluruh hatiku Nab, dialah yang selalu ku ceritakan selama ini.” Gita bercerita antusias. Hampir seluruh perjalanan pulang dari masjid dihiasi cerita profesor Azhar. 
Malam ini kuputuskan untuk menginap di kost sahabatku, Gita. Malam ini sepenuhnya aku menjadi pendengar setianya. Ia bercerita dengan topik yang tak jauh dari profesor Azhar hingga alasannya berjilbab terkuak yang sungguh membuat hatiku teriris-iris. Rasanya persis di sambar petir di terik matahari. Tak terduga. Ia nampak menyadari perubahan mimik wajahku yang coba ku sembunyikan.
“Maaf Nab, niatku memang belum sepenuhnya karena Allah” ia berkata lirih seraya menunduk.
“Git, ana tak peduli niat awal anti berjilbab, namun seiring waktu ana harapkan anti terus memperbaiki niat karena Allah, bukan karena kepulangan prof Azhar” ku genggam tangannya. Ia mengangkat wajahnya dan mnenatapku, refleks tanpa komando kami berpelukan.
“Makasih Nab, kau memang selalu mengerti keadaanku”
Jam tengah menunjukkan pukul 21.00, Gita telah tertidur lelap. Ku buka tas dan ku ambil laptop kesayanganku. Entah mengapa  rasa kantuk tak kunjung menghampiriku. Ku buka laptop sambil menyandar di tembok kamar.
“kring.. kring” nada pemberitahuan email masuk terdengar.
Entah mengapa rasanya seperti mendengar suara hantu ketiaka laptop itu berbunyi. Darah ku terasa menyebar keras disekujur tubuhku. Tanganku terasa melemas, jantungku memompa lebih kencang. Kutarik napas perlahan untuk menstabilkan kondisi tubuhku. Mungkinkah “ pikirku
Pertentangan batin berkecemauk hebat untuk memutuskan antara membuka email itu atau tidak. Hati dan pikiranku berkecamuk mengeluarkan argumentasinya masing-masing. 1 jam berlalu aku masih sibuk berkutat dengan kebimbangan.
“Arsy? Mungkinkah ia?” pikirku.
“tidak mungkin, 8 tahun ia menghilang tak bersua.” Aku bergumam seraya menggelengkan kepala dengan reflesk
Buka saja ah “ perintahku pada diri sendiri.
“bukankah email itu hanya Arsy yang tau “ hatiku tiba-tiba menjerit mengingatkan.
Kuurungkan kursor laptop yang akan membuka email . kusandarkan kepala di tembok.  Ku tutup laptop itu, lalu beranjak tidur disamping Gita.
Pukul 22.00 bumi telah sepi. Manusia telah lelap di bawah selimut yang dilengkapi pemanas yang menjaga suhu tubuh tetap normal. Suhu bumi terasa amat dingin di malam hari. Beberapa serangga malam pun sudah lama tak bersua. Mulai pukul 22.00 bumi menjelma menjadi planet tak berpenghuni. Tak ada satupun yang akan ditemukan berlalu lalang di luar rumah.
Suhu bumi mulai tidak beraturan sejak maraknya penggunaan teknologi yang membuang limbah Cloro Flour Carbon (CFC) baik dari kendaraan bermotor maupun kulkas dll. Pada malam hari bumi akan terasa sangat dingin dan akan terasa panas menjelang siang hari. Penduduk bumi hanya memandang semesta penuh tanya. Green house effect  tak dapat dikendalikan, Di beberapa tempat lapisan ozon telah berlubang. Sepertinya  bumi telah  menampakkan amarahnya.
Fenomena alam mulai terjadi dimana-mana. Beberapa hewan mengalami kepunahan karena tak mampu beradaptasi dengan keadaan bumi. Es yang ada di Kutub utara dan selatan mulai mencair,  daratan mulai menyempit. Benua Australia pun telah berubah menjadi lautan. Teknologi mobil terbang yang berbahan bakar udara yang disuling sedemikian rupa akan menjadi pengganti mobil berbahan bakar fosil.
Jam telah menunjukkan pukul 06.00, Gita telah bersiap-siap. Ia akan datang ke launching dan pameran mobil terbang, tentunya untuk melihat prof Azhar dan hari ini aku kalah untuk menolak permintaanya. Aku tak ingin ikut.
 “Git, sepertinya Arsy mengirimkan pesan di email. Anti tau kan email itu hanya dia yang tau” kuceritakan kejadian tadi malam itu.
Aku dan Gita memang selalu terbuka. Meskipun Gita tidak pernah melihat Arsy, sama seperti aku yang tak tau rupa prof Azhar namun kami seperti mengenal kedua sosok tersebut. Arsy, lelaki yang hampir menjadi penyempurna agamaku.
“Kenapa tidak dibuka Nab? Gita bertanya sangat antusias.
“Entahlah Git, ana takut” ku jawab apa adanya.
“Mungkin saja ia akan menikahimu Nab, atau kau takut kalau ia sudah memiliki yang lain? Gita menyelidik.
“Ana takut keduanya.” Bisikku lirih sambil menatap keramain pusat kota. Kami tiba pusat kota, tempat pameran berlangsung.
“Nab lihat, itu profesor Azhar” Gita berbisik seraya menunjuk seseorang.
Lelaki itu menggunakan pakaian lab berwarna putih, hanya saja ia sudah masuk ke dalam mobil sebelum aku dapat melihat wajahnya. Mobil itu nampak biasa saja seperti mobil pada umumnya. Namun, tiba-tiba bentuknya berubah. Masing-masing roda terlipat menjadi datar ke arah dalam setelah sebuah besi keluar tepat di bagian bawah mobil itu. Beberapa saat kemudian masing-masing roda berputar dengan arah yang berlawanan. Mobil itu benar-benar terbang. Sontak saja tanpa komando seluruh hadirin bertepuk tangan.
Beberapa saat kamudian mobil itu didaratkan. Lelaki berpakain lab itu keluar diiringi tepuk tangan yang meriah. Semua terlihat bahagia, di sampingku Gita tersenyum takjub. Tak pernah ku lihat ia sebahagia ini.
Ku alihkan padangan melihat prof Azhar. Hiruk pikuk tepuk tangan terasa hilang. Aku kehilangan keseimbangan tubuhku. Terasa melayang. Benarkah itu prof Azhar?. Aku hanya tertegun menatap kosong sosok laki-laki berpakaian lab itu.
“Nab, itu profesor Azhar” Gita kembali berbisik dan merangkul pundakku.
Aku tersadar dan berusaha tersenyum padanya. Ia nampak menyadari perubahan wajahku.
“Kenapa Nab?
“Entahlah Git, ana tiba-tiba memikirkan Arsy” keluhku.
Gita tersenyum.
“Kupastikan ia akan menikah denganmu”  bisiknya kemudian.
Profesor Azhar hanya menyampaikan beberapa hal saja kemudian pergi. Gita sedikit kecewa tidk bisa berbicara dengannya. Kami pulang menuju kost Gita. Aku meninggalkan laptop di kamarnya. Sepanjang perjalanan aku hanya terdiam, entah apa yang sedang diceritakan Gita disampingku. Tak sepatah katapun dapat tertangkap pikiranku.
“Mungkinkah profesor Azhar adalah Arsy, lalu mengapa namanya berbeda.” Pikirku.
“Git, siapa nama lengkap profesor Azhar? Tanyaku tiba-tiba memotong cerita Gita yang tengah asyik berceloteh.
Sontak saja Gita terkejut. namun seketika pula ia langsung menjawab.
“Muhammad Arsy Azharky” jawabnya.
Aku mengangguk. Nampaknya ia tidak menyadari ada nama Arsy disana.
“Git, seandainya Arsy meminta ana untuk menikah dengannya. Mau kah anti menggantikan ana?
Ia hanya menatap bingung. Sebelum ia menjawab tiba-tiba ia berteriak.
“Nab, awaaaas...”
Sebuah mobil terbang melaju kencang dan menyeret tubuhku. Hanya suara tangisan Gita yang terakhir ku dengar dan sosok lelaki yang menggunakan baju laboratorium berwarna utih setelah itu semua gelap dan sepi.
Sudah satu setahun berlalu sejak kejadian itu. Gita  meninggalkan niatnya berjilbab yang hanya untuk profesor Azhar. Ia bertekad untuk memenuhi permintaan terakhir sahabatnya. Ia membuka laptop yang dulu ditinggalkan oleh sahabatnya.
“kring.. kring” beberapa pesan email masuk berbarengan.
Ia menangis tersedu-sedu setelah membaca semua pesan email yang masuk. Tangannya gemetar menekan tombol keyboard laptop itu. Ia ceritakan semua kejadian yang terjadi. Di akhir tulisannya jelas terbaca
Ana siap menerima lamaran antum, sesuai permintaan terakhir sahabat Ana
Gita
Ia menarik napas panjang menatap tombol kirim yang siap diklik. Ia  menghembuskan napas panjang seraya menekan tombol kirim. Setengah jam berlalu ia masih berdiam diri di hadapan laptop hingga terdengar bunyi pesan masuk.
Kring kring.....
Hari yang ditentukan tiba. Arsy akan membawa keluarganya ke rumah Gita.  Kedua belah pihak telah menyiapkan segalanya.
Gita menarik napas panjang di depan cermin. Kamar dengan luas 5 x 7 meter itu terasa sempit baginya. ia tersenyum menatap cermin.  
“Kita tidak berjodoh profesor Azhar” ia berkata pada dirinya sendiri seraya berdiri meninggalkan kamar. Ibunya sudah menunggu di depan pintu.
“Itu nak Arsy”
Arsy berdiri melihat kedatangan Gita.
“Profesor Azhar” Gita bergumam pada dirinya sendiri.  Ia diam tertegun.
“Nabiyaaaaaaa..” hatinya menjerit keras
“Assalamualikum ukhty,” suara gadis berbisik di telinganya. Gadis itu berdiri persis di samping kanannya. Ia menuntun Gita menuju kursi.
Nabiya? Kenapa? “ Gita berbisik menahan tangis.
Nabiya hanya mengangguk menenangkan perasaan Gita yang entah bagaimana saat itu. Mereka semua telah duduk di ruang tamu itu, baru kemudian Nabiya memulai pembicaraan.
“Saat kecelakaan itu, Prof Azhar yang melarikan ana ke Rumah Sakit di Amerika. Sulit menjelaskan canggihnya peralatan medis yang digunakan untuk menyelamatkan nyawa ana”
“Git, kenalkan. Lelaki di samping ana adalah Ini suami ana. Namanya Arsy. Ia kakaknya profesor Azhar”
Lengkapnya Muhammad Arsy Izharky, ia saudara kembar calon suami anti Git” lanjutnya tersenyum.

Glossarium
Anti = kamu, kau, anda
Ana = saya, aku
Antum wa antuna = kamu (laki-laki) dan  kamu ( perempuan) , kalian
Toyib = selesai, (mengakhiri suatu kalimat)
ukhty, ukh = saudari prempuan
Green house effect  = efek rumah kaca