Malam ini terasa sunyi sekali.Bintang dan bulan terus saja berdiam diri sembari menatapku yang tak kunjung pergi ke alam mimpi.Kenalkan namaku Mentari.Aku punya segudang impian yang kuibaratkan sebagai bintang-bintang, dan bintang terbesarku adalah The Golden Star, begitulah aku menyebutnya.Aku tak mau seorangpun mengetahui isi bintang terbesarku, apalagi teman-temanku. Jika mereka sampai tahu, aku hanya akan menjadi bahan tertawaan. Sampai saat ini, sudah 7 kali aku mencoba untuk meraih bintang, namun selalu saja gagal.
            Malam semakin larut, ku buka jendela kamarku, seketika itu angin malam memelukku dengan erat. Kulihat jarum jam yang terus berputar, lalu kutatap bintang-bintang. “Waktu terus berputar, lalu akankah aku bisa meraihmu sebelum sang ajudan Allah datang menjemputku?” tanyaku pada bintang di langit, namun bintang hanya diam saja.Kupukul-pukul lemariku, dan terus mengeluh.Ingin rasanya kuteriak, namun waktu menutup mulutku.Hatiku terus bergejolak. Aku iri pada mereka yang bisa medapatkan apa yang aku impikan.Kutundukkan kepala dalam-dalam, sembari memeluk erat kedua kakiku, puluhan menit tenggelam dalam lamunan dan hayalan. “kukkuruyuk” suara Si Jago memecah lamunanku. Tiba-tiba aku ingat akan sesuatu, ya aku ingat akan tawaran dari Bu guru untuk mengikuti Lomba Karya tulis Ilmiah, yang di adakan oleh Universitas Excellence, dengan tema pengolahan limbah yang ramah lingkungan. “Siapa tahu, dengan mengikuti lomba itu aku bisa meraihmu. Aku akan mengikutinya, ya aku akan.” ujarku pada bintang. Tiba-tiba pintu kamarku terbuka, kepala mama masuk dari sela-sela pintu “kenapa belum tidur? Besok pagi kan kakak harus sekolah. Sekarang sudah sangat larut, satu komplek sudah memadamakan lampu, cepat tidur!” pinta mama.Aku hanya mengangguk, tanpa pikir panjang aku langsung menutup jendela, menindih kasur dan menarik selimut, kemudian berdoa agar tidurku tetap terjaga oleh Malaikat Sang Ajudan Allah SWT.

            Keesokan harinya, aku berangkat ke sekolah dengan penuh kebingungan “inovasi apa ya? Ayolah ide-ide datanglah.”Kataku sambil tetap melangkah.Ku perhatikan sekitarku, namun ide belum saja mau menghampiri.
Sesampai di kelas, terlihat teman-temanku sibuk mengerjakan pekerjaan rumah, memang sudah menjadi pemandangan lazim setiap paginya yang tidak patut di ikuti.Aku langsung duduk di kursiku dan mencari refrensi di internet, kutemui artikel tentang batako peredam bising, pemanfaatan sampah sebagai papan biokomposit dan masih banyak artikel lainnya, namun, aku belum juga mendapatkan ide.Ketika aku tengah kebingungan, bel tanda masuk berbunyi dan sekaligus mengantarkan Pak Guru Anwar ke kelas ku.Seperti biasa pagi ini Pak Anwar mengisi pelajaran Kewirausahaan dan pada pertemuan kali ini, Pak Anwar menjelaskan tentang pemanfaatan sampah sebagai barang-barang yang bernilai ekonomis.Mendengar penjelasan pak anwar diakhir, seketika itu ide mengetuk otakku, lalu masuk dan mengucapkan salam, aku lalu mengangguk-angguk sambil tersenyum.”ya, aku akan coba membuat batu alam sebagai interior dan eksterior bangunan dari bahan sampah kertas yang bisa meredam suara.” ungkapku dengan suara kecil.
            Sesampai di rumah aku mulai untuk studi pustaka, ku cari artikel tentang pengolahan sampah kertas, dan bahan-bahan peredam suara.Setelah mendapatkan beberapa refrensi, barulah ku siapkan alat dan bahan untuk eksperimen.Ada ember, sampah kertas HVS, sampah kertas Koran, dan sampah kertas wadah telur.Aku sengaja menggunakan 3 jenis sampah kertas, karena aku ingin mengetahui jenis sampah kertas mana yang mempunyai kemampuan meredam suara paling baik.
            Ke esokan harinya, aku mulai bereksperimen.Mula-mula kusobek-sobek sampah kertas, lalu kurendam terpisah ketiga jenis sampah kertas tersebut.Tujuan perendamannya agar sampah kertas tadi berubah menjadi bubur kertas.Jika ketiga sampah kertas tersebut sudah menjadi bubur kertas maka semua jenis sampah kertas bersifat homogen, tidak lagi mengacu pada tektur awal yang dimiliki masing-masing sampah kertas.Seperti halnya perbedaan tekstur antara kertas HVS dan wadah telur.Kuletakkan rendaman sampah kertas di pojok halaman belakang.Setiap hari ku tengok dan ku cabik-cabik sampah kertas tersebut agar cepat dan mudah menjadi bubur kertas.Tiga lapis masker ku gunakan khusus untuk mencabik sampah kertas wadah telur, karena baunya sangat busuk.Jijik memang, namun aku lakukan semua itukarena Allah SWT, agar bintangku dipermudah-Nya berada dalam genggamanku.Ketika hari ke tiga perendaman, sampah-sampah kertas sudah menjadi bubur kertas, kemudian ku peras masing-masing bubur kertas hingga membentuk gumpalan-gumpalan.Barulah gumpalan tersebut ku cabik-cabik agar menjadi butiran-butiran kecil.Tenagaku lumayan terkuras, urat-urat tanganku terlihat,  tetesan keringat terus bercucuran hingga  membasahi bajuku.
            Hari selanjutnya, ku lanjutkan eksperimen. Kini saatnya mencampurkan masing-masing butiran sampah kertas dengan lem kayu, menurut artikel yang kubaca, semakin sedikit perbandingan dari salah satu bahan maka akan semakin baik campurannya. Karena itulah aku memutuskan untuk menggunakan perbandingan 1 lem : 2 butiran kertas, selain menghemat penggunaan lem, juga mempercepat pengeringan. Setelah mencampurkan butiran kertas dengan lem, barulah ku cetak dengan cetakan kayu yang berukuran 30 cm x 30 cm, dengan tebal 2 cm. Lalu kuberi perpaduan garis di bagian atas dengan paku, agar menambah nilai estetika dari batu alam yang akan kubuat.
            Hari ini terik sekali, aku langsung menjemur batu alam di atas seng rumah, agar pengeringannya bisa cepat dan berhubung seng merupakan benda penghantar panas. Sambil menunggu batu alam yang masih dalam proses pengeringan, aku memutuskan untuk mencari tahu cara pembuatan alat peredam suara. Seperti biasa kutanyai Om google.“aku ingin alat yang sederhana, murah, dan baik pengukurannya, Om google.” Sembari mengetikkan kalimat yang ku ucapkan tadi pada kolom searchnya. Om google memberitahu bahwa ada aplikasi pengukur  suara yang namanya sound meter. Tanpa pikir panjang, aku langsung  mengunduh aplikasi sound meter dari google playstore. Kucoba berteriak ketika aplikasi dibuka, ternyata cara kerjanya hampir sama dengan penunjuk kecepatan pada kendaraan. Dimana, semakin besar suara yang diberikan, maka jarum penunjuk akan bergerak ke angka yang lebih besar, dalam satuan desibel meter. Aplikasi ini sangat sensitif, karena sedikit saja suara yang diterima maka akan berdampak pada hasil pengukuran. Setelah mencobanya, aku terdiam dengan tatapan tetap pada handphone ku.Aku belum tau cara mengkombinasikannya dengan bahan lain. Tanpa kusadari, aku mengambil gelas kosong yang ada di dekatku, lalu kututup mulutku dengan gelas itu sambil mengeluarkan suara yang tidak jelas. Ketika aku sadar, tetap ku tutup mulutku dengan gelas itu, kemudian berteriak “Aaa, ayolah!.” Seketika itu, lagi-lagi ide mengetuk pintu otakku, lalu masuk dan mengucapkan salam. “oh iya ya.”gumamku.  sekarang aku tahu apa yang harus ku lakukan. Dengan cepat ku pasang jilbab, lalu pergi ke toko bangunan untuk membeli pipasepanjang 1 meter.Akupun langsung membuat sampel-sampel pengujian. Setiap jenis sampah kertas ku buat 3 sampel, dengan cara memasukkan campuran 1 lem : 2 butiran kertas, ke dalam pipa yang sudah dipotong-potong sedalam 2 cm. Lalu ku jemur bersamaan dengan batu alam.
            Beberapa hari telah berlalu, kini batu alam hasil eksperimen dan sampel-sampel pengujian sudah kering, alat dan bahan pengujian juga sudah lengakap, ada speker aktif, sumber suara 500 Hz yang kuunduh di google, aplikasi sound meter, dan pipa berdiameter 2 in sepanjang 50 cm. Pengujian kemampuan meredam suara dari batu alam, siap dilakukan. Aku mulai merancang alat pengujian yang sangat sederhana.Pada Salah satu ujung pipa, kuletakkan speaker aktif, hingga tidak ada celah antara ujung pipa dengan speaker, kemudian di ujung pipa lainnya ku letakkan sampel pengujian yang dibantu dengan sambungan pipa.Pipa hanya berfungsi mengisolasi suara.Di dekat sampel pengujian ku letakkan handphone dengan aplikasi sound meter yang aktif. Dimana cara kerja alatku ini adalah sumber suara konstan 500 Hz dikeluarkan melalui speaker aktif, kemudian suara tadi diisolasi oleh pipa  lalu melewati sampel pengujian, kemudian jarum penunjuk pada aplikasi sound meter akan menunjukkan seberapa besar kemampuan sampel dalam meredam suara. Sangat sederhana memang, namun bisa digunakan sebagai acuan untuk eksperimenku kali ini. Setelah semua sampel ku uji, di dapatkan hasil rata-rata pengujian kemampuan meredam suara padakertas Koran sebesar 52 desibel, sedangakan pada kertas wadah telur sebesar 49 desibel, dan kertas HVS sebesar 47 desible. Ternyata tidak ada perbedaan yang terlalu mencolok dari masing-masing jenis sampah kertas dalam meredam suara. Jadi, dapatku simpulkam bahwa sampah kertas wadah telur, kertas HVS, dan kertas Koran bisa dijadikan bahan  interior dan eksterior bangunan penggati batu alam dan bisa meredam suara, dengan rata-rata kemampuan meredam suara sebesar 49,3 desibel, yang termasuk kategori suara sunyi di perpustakaan, dan tentunya akan mengurangi sampah kertas yang semakin hari semakin menumpuk.
Keesokan harinya, aku mulai mengecat batu alam, agar menambah nilai estetikanya. Oleh karena aku belum terlalu yakin akan hasil eksperimenku kali ini, jadi aku coba membantingnya dan membakarnya, ternyata saat dibanting tidak ada retakan pada batu alam serta tidak hangus saat saat dibakar. Keyakinan ku semakin kuat. Aku mulai mebuat laporan dari eksperimen  yang telah kulakukan. Setelah laporan selesai, aku langsung  mengirimnya ke sekertariat panitia lomba. “pengumuman lolos 10 besar dua minggu lagi, dek.”kata salah satu panitia.
Benar saja, setelah 2 minggu aku mendapatkan pesan dari panitia lomba, aku membacanya dengan tegang,  “selamat karya tulis ilmiah anda lolos tahap seleksi 10 besar, untuk tahap lomba selanjutnya bisa dilihat di website sipilexcell.com.” Aku langsung berteriak sembari berkata pada bintang “tang, satu langkah lagi.”
Berhari-hari aku latihan presentasi, hingga waktunya tiba.Ketika tepat tanggal 15 April, bu guru mengantarku ke Universitas Excellen.Sepanjang jalan ku berzikir.Tepat pukul 9.00 WITA, gong tanda pembukaan acara telah dibunyikan.Aku, dan peserta lainnya digiring ke tempat presentasi lomba.Setelah peserta nomer urut 8 mempresentasikan hasil karyanya, kini giliranku.Saatnya kubertempur.Pesimis sempat menghantuiku lagi kala itu, karena presentasi dan hasil karya dari peserta-peserta sebelumnya, sangat bagus.Namun setelah membaca surah Asy-Syarh, hatiku tenang dan semangatku kembali lagi.Aku memulai presentasiku dengan membaca Basmalah serta Shalawat.Alhamdulillah presntasiku berjalan dengan lancar walau aku sedikit gugup.
Setelah solat Magrib, saat  yang ditunggu-tunggu oleh semua peserta pun tiba. Peserta yang masuk 5 besar akan menjadi perwakilan provinsi ke ajang Karya Tulis Ilmiah Nasional ke IX di Samarinda. Aku sangat optimis untuk mendapatkan 5 besar, karena hadiahnya merupakan impian terbesarku, ya The Golden Star. Bawa nama baik sekolah, ke luar daerah, pakai pesawat megah, itulah isi bintang terbesarku. Jantungku sangat berdebar-debar. Satu persatu nama peserta yang masuk lima besar dan judul karya tulis ilmiahnya disebutkan. Dari keempat nama yang telah disebutkan, tak ada namaku. “tenang ri, masih ada satu nama lagi.” kataku sambil memegang erat tangan kiriku. Panitia lanjut mengumumkan “Baik, satu peserta lagi yang berhasil lolos lima besar adalah.”Jantungku semakin berdebar. “adalah peserta nomer urut tiga atas nama Miftahul Jannah dengan judul karya Pemanfaatan Kotoran Gajah sebagai bahan baku kertas.” sambung panitia. Seketika itu, jantungku seakan berhenti berdetak.Tatapanku kosong.Aku diam tanpa kata.
Ketika aku tersadar, ternyata orang-orang mulai beranjak dari kursinya menuju pintu keluar. “sudahlah nak, jangan berkecil hati ya, semuanya sudah diatur oleh Allah SWT, dan pastinya ada hikmah dibalik kegagalan hari ini.” Kata buguru, berusaha menenangkanku.Aku hanya mengangguk, dan menuju pintu keluar bersama bu guru. Ketika aku melihat para peserta yang lolos lima besar berfoto bersama, aku hanya tersenyum menahan kekecewaan.
Sesampai di rumah, tak ada orang yang ku temui. Ternyata Mama dan Papa belum pulang dari acara hajatan di rumah Nenekku. Aku langsung berlari ke kamar. Kubuka jendela kamarku, lalu berteriak dengan keras ke arah bintang-bintang  sambil mengacak-acak rambutku. Ku keluarkan semua kekecewaanku.Seketika itu, air mataku perlahan jatuh.“Aaaaaa.Harus berapa kali aku berjuang hanya untuk mendapatkanmu?Sudah 8 kali aku mencoba. Namun apa? hanya kata gagal yang ku terima. Aku lelah, bintang.Aku lelah!” Ujarku pada bintang. Air mataku keluar semakin deras.Ku tundukkan kepalaku, kudekap kedua kakiku sambil memukul-mukul lututku. Lama kuterdiam, hingga aku tertidur. Tiba-tiba mama memukul pundakku dengan pelan, aku pun terkejut dan bangun dari tidurku, ternyata aku hanya tertidur 15 menit. Aku langsung menceritakan  kegagalanku hari ini, sambil menangis di depan mama. Mama lalu membelai rambutku, dan berkata “Kak, coba kakak lihat bintang-bintang itu, letak mereka sangat jauh bukan? tentuuntuk meraihnya banyak anak tangga yang harus kakak lewati. Butuh berkali-kali gagal, butuh rasa percaya diri yang kuat, doa yang tak henti-henti, dan butuh rasa pantang menyerah untuk mewujudkan mimpi itu. Kalau tidak gagal dulu ya tidak seru, kak.Jadi sekarang kakak nggak boleh sedih lagi.Ayo dong semangat, mana senyumnya?” akupun tersenyum dan memeluk mama dengan erat.Dengan cepat kuambil pulpen dan selembar kertas kosong, lalu kutuliskan di atasnya satu kalimatyang kuucapkan “Bintang maaf, aku gagal lagi.”Kemudian kertas itu, kubuat menjadi pesawat. Aku langsung berdiri di depan jendela yang terbuka, dan berkata pada pesawat, “pesawat, titipkan salamku pada bintang ya.”Lalu kuterbangkan pesawat kertas ke arah bintang-bintang. Air mataku perlahan jatuh lagi. Sementara mama hanya tersenyum melihatku tingkahku.