BISMILLAAHIRRAHMAANIRRAHIIM


Assalamu,alaikum warahmatullahi wabarakatuh


Kali ini membahas tentang akhlak, yang mana akhlak itu sudah melekat pada diri kita masing-masing. Jika perilaku kita buruk maka termasuk akhlak mazmumah, jika perilaku kita baik/benar maka termasuk akhlak mahmudah/karimah. Akhlak itu sendiri berasal dari Bahasa arab jama’ dari bentuk mufradatnya “Khuluqun” yang berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku, dan tabiat. Sedangkan menurut istilah adalah pengetahuan yang menjelaskan tentang baik dan buruk (benar dan salah), mengatur pergaulan manusia, dan menentukan tujuan akhhir dari usaha dan pekerjaannya.


Akhlak yang melekat pada diri kita dapat mencerminkan keyakinan dan ketaatan kita pada Allah Swt., baik berupa perilaku yang jelas nampak atau sikap batin. Karena akhlak yang islami bersumber dari Allah Swt. dan Rasulullah Saw.. Hal ini sesuai dengan tugas Rasulullah yang diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia. Oleh karena itu, semakin baik akhlak yang melekat pada diri masing-masing maka semakin taat kita pada ajaran dan Sunnah Rasullah Saw. Karena akhlak beliau sudah terjamin di dalam Al-qur’an, seperti firman Allah Swt dalam Surah Al-Qalam {68}: 4.




Artinya : “ Dan sesungguhnya engkau ( Muhammad ) benar-benar berbudi pekerti yang agung”.


Karena ayat tersebut, maka kita sangat dianjurkan untuk menjadikan Rasulullah sebagai pedoman berperilaku kita hidup di dunia. Seperti firman Allah dalam Surah Al-Ahzab {33}: 21,





Artinya: Sungguh telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan kedatangan hari kiamat dan yang banyak mengingat Allah. (Al-Ahzab (33):21).


Tampak dari ayat tersebuut terdapat dua sasaran, yaitu: akhlak kepada Allah Swt dan akhlak kepada sesama manusia. Atas dasar itu, maka benar akar akhlak adalah akidah dan pohonya adalah syariah. Akhlak itu sudah menjadi buahnya. Buah itu akan rusak jika pohonnya rusak, dan pohonnya akan rusak jika akarya rusak. Oleh karena itu akar, pohon, dan buah harus dipelihara dengan baik.



KEUTAMAAN BERAKHLAK BAIK SESUAI SABDA RASULULLAH SAW



Ada kalanya beliau menyebut besarnya pahala akhlak mulia dan beratnya pahala akhlak dalam timbangan. Pada kesempatan yang lain, beliau memperingatkan manusia dari akhlak yang buruk dan tercela. Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ashz meriwayatkan bahwa Rasululullah saw pernah bersabda:




“ Sesungguhnya yang terbaik di antara kalian adalah yang paling baik akhlaknya ” (HR. al-Bukhari, 10/378 dan Muslim no. 2321).


Oleh karena itu, Rasulullah Saw menganjurkan kita untuk bergaul dengan orang-orang yang senantiasa berperilaku baik dan benar dalam menjalan kesehariannya. Seperti hadist berikut;




“ Bertakwalah kamu kepada Allah di mana pun kamu berada. Iringilah kesalahanmu dengan kebaikan, niscaya ia dapat menghapusnya. Dan pergaulilah semua manusia dengan akhlak (budi pekerti) yang baik.” (HR. at-Tirmidzi no. 1987, beliau mengatakan, “Hadits ini hasan.”


Selain tu, keutamaan untuk berakhlak baik juga tercermin dalam hadist berikut,


“Sesungguhnya seorang mukmin dengan akhlaknya yang baik akan mencapai derajat orang yang selalu shalat dan berpuasa.” (HR. Abu Dawud no. 4798, disahihkan oleh al-Albani)


Ummu ad-Darda’ meriwayatkan dari suaminya, Abu ad-Darda’, Rasulullah saw pernah bersabda: “Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam al-mizan (timbangan) dari pada akhlak yang baik.” (H.R. Abu Dawud disahihkan oleh al-Albani )


Akhlak yang baik sebab orang mendapatkan derajat yang tinggi di surga Allah Swt, sedangkan yang senantiasa berakhlak buruk maka ia terhalang akan kenikmatan Jannah, seperti hadist berikut;


Dari Abu Umamah , dia berkata, Rasulullah Saw bersabda:




“Aku memberikan jaminan dengan sebuah rumah di tepi jannah bagi orang yang meninggalkan perdebatan meskipun ia berhak. Aku juga memberikan jaminan dengan sebuah rumah di tengah jannah bagi yang meninggalkan kedustaan walaupun dalam senda gurau. Aku juga menjanjikan sebuah rumah di jannah tertinggi bagi yang membaguskan akhlaknya.” (HR. Abu Dawud).


Dari al-Haritsah bin Wahb, ia berkata, Rasulullah bersabda:



“Tidak akan masukjannah orang yang kasar dan kaku.” (HR. at-Tirmidzi).




Referensi:


Habibah, Syarifah. 2015. Akhlak dan Etika Dalam Islam. Jurnal Pesona Dasar. 1. (4) :73-87.