BISMILLAAHIRRAHMAANIRRAHIIM

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Thaharah terdengar asing bagi kita namun selalu kita lakukan setiap hari dikarenakan thaharah merupakan syarat wajib sebelum melakukan ibadah. Allah swt. Sangat menganjurkan hambanya untuk berthaharah atau menyucikan diri, untuk lebih jelasnya berikut ringkasan mengenai thaharah.

Pengertian Thaharah

Kata thaharah dalam al-Mu’jam al-wasith kata thaharah, yang berasal dari kata tahura & tahuran berarti suci atau bersih. thaharah yang berarti bersih (Nadlafah) suci (Nazahah) terbebas (Khulus) dari kotoran (danas).

Sedangkan menurut istilah, thaharah adalah mengerjakan sesuatu yang dengannya kita boleh mengerjakan shalat, seperti wudhu, mandi, tayamun, dan menghilangkan najis. Menurut syara' thaharah adalah suci dari hadats atau najis, dengan cara yang telah ditentukan oleh syara' atau menghilangkan najis, yang dapat dilakukan dengan mandi dan tayamum. (Suad Ibrahim shalih, 2011:83 ).

Pentignya Thaharah

Kata thaharah dalam Al-Quran terulang sebanyak 31 kali. 16 kali berkaitan dengan hadats dan najis, 14 kali berkaitan dengan bersuci dari dosa, dan hanya satu kali berkaitan dengan membersihkan harta (Su’ad Ibrahim Shalih, Fiqh Ibadah Wanita, (Jakarta: Amzah, 2011), 14).

Thaharah merupakan ibadah yang tidak boleh dikesampingkan. Karena tujuan utama disyariatkannya thaharah yaitu “mensucikan” atau “menyempurnakan nikmatnya” yang tertera dalam Q.S. Al-Maidah (5):6. Selain itu, berikut anjuran dilakukannya thaharah dan sebagai landasan pentingnya melakukan thaharah.

sebagaimana terungkap dalam Q.S. alMuddatstsir: 4-5, 







Artinya: “Dan pakaianmu bersihkanlah. Dan perbuatan dosa tinggalkanlah.”

Firman Allah SWT. dalam Q.S. alBaqarah: 222 






Artinya: Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan orang orang yang suci (bersih dari kotoran jasmani maupun rohani.

Maka dalam pelaksanaannya, ibadah shalat tidak sah kecuali sebelumnya seluruh keadaan, pakaian, badan, tempat dan sebagainya dalam keadaan bersih dan suci, baik suci dari hadas besar, maupun hadas kecil, dan najis.

Macam-macam Media Untuk Bersuci


1. Air

QS Al- Anfal ayat : 11[8:11] (Ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penenteraman daripada-Nya, dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan setan dan untuk menguatkan hatimu dan memperteguh dengannya telapak kaki(mu).

Adapun macam-macam air dapat dibedakan menjadi empat macam yaitu sebagai berikut:

1). Air Muthlaq, yaitu air suci yang menyucikan, maksudnya adalah air yang masih murni baik sifat, bau maupun rasanya, dan dapat dikatakan sebagai air yang benar-benar bebas dari kotoran dan kuman, dalam hukum fiqh air tersebut halal diminum dan dapat untuk dipakai menghilangkan najis, baik mukhafafah, mutawasithah, maupun mughaladzah. Contoh air hujan, air laut, air sungai, salju yang telah cair menjadi air, air embun, air sumur atau air mata air.

2). Air Musyammas, yaitu air yang terjemur sinar matahari, hukumnya suci menyucikan pada benda lain akan tetapi makruh menggunakannya. Makruh digunakaan karena berkemungkinan berbahaya bagi tubuh jika tempat air tersbut mudah berkarat.

3). Air Musta’mal, yakni air yang sudah dipakai, artinya air yang sudah dipakai untuk menghilangkan hadats kecil maupun hadats besar. Hukumnya tidak dapat menyucikan dari hadats atau najis, kecuali lebih dari dua kullah. ukuran dua qullah adalah 93,75 x 2,5 = 234,375 liter. 




“Jika air telah mencapai dua qullah, maka tidak ada sesuatupun yang menajiskannya ” (HR. Ibnu Majah dan Ad Darimi). 

4). Air Mutaghayar, yakni air mutlaq yang sudah berubah salah satu dari bau, rasa atau warnanya. Perubahan tersebut terkadang berubah karena bercampur dengan benda suci, dan terkadang bercampur dengan benda najis. Apabila air itu berubah karena benda najis maka menjadi air mutanajis. Hukum air tersebut adalah suci menyucikan tetapi kalau perubahan itu sudah menjadi sangat kotor maka hukumnya tidak menyucikan.

2. Tanah atau debu yang suci sebagai pengganti mandi atau wudhu apabila dalam keadaan darurat yaitu dengan cara tayamum.

3. Batu atau benda keras yang suci yang disamakan hukumnya dengan batu, kecuali benda keras yang asalnya dari kotoran binatang atau manusia. Untuk istinjak atau menyucikan kotoran atau najis.

Media yang paling utama untuk thaharah yaitu air, namun jika tidak memungkinkan bisa diganti dengan debu atau batu (bnda keras), ( Utsaimin, 2007:12).

Macam-macam Thaharah

A. Thaharah dari hadast

1. Mandi junub

mandi wajib atau janabat dapat diartikan sebagai proses penyucian diri seseorang dari hadas besar yang menempel (baik terlihat atau tidak terlihat) di badan, dengan cara menggunakan atau menyiramkan air yang suci lagi menyucikan ke seluruh tubuh.

Adapun niat mandi junub/wajib sebagai berikut:

“Nawaitul Ghusla Lifrafil Hadatsil Akbari Fardhan Lillahi Ta’aala.” 




“Aku berniat mandi besar untuk menghilangkan hadats besar fardhu karena Allah ta’aala.”

Hal yang mewajibkan mandi junub:

- Keluar mani

- Bertemu dua kelamin

- Meninggal

- Haidh

- Nifas

- Melahirkan

Fardhu mandi junub:

- Niat

- Menghilangkan na’jis

- Meratakan air

Sunah mandi junub:

- Mencuci kedua tangan

- Mencuci

- Membersihkan najis

- Menyela-nyela jari

- Menyiramkan kepala

- Membasahi seluruh badan

- Mencuci kaki

Hadist yang menjelaskan tata cara mandi junub:

Hadist pertama yaitu,

Dari ‘Aisyah, isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mandi junub, beliau memulainya dengan mencuci kedua telapak tangannya. Kemudian beliau berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat.

Lalu beliau memasukkan jari-jarinya ke dalam air, lalu menggosokkannya ke kulit kepalanya, kemudian menyiramkan air ke atas kepalanya dengan cidukan kedua telapak tangannya sebanyak tiga kali, kemudian beliau mengalirkan air ke seluruh kulitnya.” (HR. Bukhari no. 248 dan Muslim no. 316)

Hadist kedua yaitu,

Dari Ibnu ‘Abbas berkata bahwa Maimunah mengatakan, “Aku pernah menyediakan air mandi untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu beliau menuangkan air pada kedua tangannya dan mencuci keduanya dua kali-dua kali atau tiga kali.

Lalu dengan tangan kanannya beliau menuangkan air pada telapak tangan kirinya, kemudian beliau mencuci kemaluannya. Setelah itu beliau menggosokkan tangannya ke tanah.

Kemudian beliau berkumur-kumur dan memasukkan air ke dalam hidung. Lalu beliau membasuh muka dan kedua tangannya. Kemudian beliau membasuh kepalanya tiga kali dan mengguyur seluruh badannya.

Setelah itu beliau bergeser dari posisi semula lalu mencuci kedua telapak kakinya (di tempat yang berbeda).” (HR. Bukhari no. 265 dan Muslim no. 317)

2. Whudhu

Secara bahasa, kata wudhu berasal dari kata al-wadha’ah yang artinya bersih dan cerah. Jika kata ini dibaca al-wudhu artinya aktifitas wudhu, sedangkan jika di baca al-wadhu artinya air yang dipakai untuk berwudhu.

Firman Allah tentang berwudhu terdapat pada QS. Al-Maidah ayat 6 yaitu: 


Artinya:

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.”.

Niat berwudhu:

“Nawaitul whudu-a lirof’il hadatsii ashghori fardhon lillaahi ta’aalaa”


“Saya niat berwudhu untuk menghilangkan hadast kecil fardu (wajib) karena Allah ta’ala”

Rukun wudhu:

- Membasuk muka

- Membasuh tangan

- Membasuh kepala

- Membasuh kaki

Sunah dalam berwudhu:

- Membasuh tangan

- Berkumur 3x

- Istinsyaq 3x

- Menggosok gigi

- Menyilang jari 3x

- Mengusap telinga

- Mengusap kepala

3. Tayamum

Menurut bahasa, kata tayammum berarti sengaja. Sedangkan menurut istilah (syariat) tayammum berarti beribadah kepada Allah SWT. yang secara sengaja menggunakan debu yang bersih dan suci untuk mengusap wajah dan tangan dibarengi niat menghilangkan hadas bagi orang yang tidak mendapati air atau tidak bisa menggunakannya. (1 Sa’id bin Ali bin Wahaf al-Qahthani : 2006 : 157)

B. Thaharah dari na’jis

Najasah atau najis menurut bahasa ialah kotoran dan lawan suci menurut syara’, yang membatalkan shalat, seperti kotoran manusia dan kemih. Najis berarti sesuatu yang tidak suci yang dapat menghalangi seseorang dalam melakukan ibadah kepada Allah.

C. Istinja

Istinja’ adalah bersuci dengan air atau yang lainnya untuk membersihkan najis yang berupa kotoran yang ada atau menempel pada tempat keluarnya kotoran tersebut (qubul dan dubur) seperti berak dan kecing. Jadi segala sesuatu yang keluar dari qubul dan dubur adalah sesuatu yang dianggap kotor dan wajib dibersihkan atau dihilangkan, dengan menggunakan air atau yang lainnya.