Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh


Telah kita lewati bulan Ramadhan, bulan suci yang penuh dengan keberkahan ini. Sebulan penuh kita berpuasa dan ibadah lainnya, semoga menjadi amal yang akan menyelamatkan kita kelak di hari akhir. Bulan Ramadhan menjadi tempat untuk meningkatkan keimanan dengan banyak melakukan amal-amal shaleh, mulai dari berpuasa, sholat terawih, witir, sholat wajib, sholat tahajud, dhuha, dan bahkan kita tidur (tidur dalam keadaan yang baik) pada bulan Ramdhan dianggap sebagai ibadah. Berikut dalil mengenai kewajiban pada bulan Ramadhan,


Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa. (Q.S. Al-Baqarah/2: 183)

Catatan ketika sd, smp, sma, madrasah, maupun saat kuliah, dan catatan lainnya jika disimpan dalam keadaan baik maka akan dapat dilihat dan dipelajari sampai kelak. Oleh karena itu, pada dalil diatas menggunakan kata kutiba (menulis) agar nilai-nilai ibadah kita pada bulan ramdhan ini bisa diamalakan pada 11 bulan lainnya. Amal pada bulan ramdhan jika dibiasakan membaca alquran atau melakukan qiyamul lail maka akan menjadi kebiasaan yang tetepa ada selain di bulan ramdhan. Karena dengan menjaga amalan-amalan pada bulan Ramadhan dengan baik, maka amalan tersebut akan terlihat sampai kelak.

Ada beberapa hal yang harus kita pahami dalam menjalankan ibadah kita pada selain bulan Ramadhan. Allah swt mengkhususkan keutamaan bulan ramadhan. Jika ibadah kita tidak maksimal pada bulan selain bulan Ramadhan, maka hal ini merupakan hal yang wajar akan terjadi. Karena memang suasana ibadah pada bulan Ramadhan tidak bisa disaingi. Karena nuansa ibadah yang Allah swt berikan memudahkan kita untuk melakukan ibadah, bahkan seluruh alam semesta mendukung kita dalam menjalankan ibadah pada bulan Ramadhan. Maka yang harus kita pahami yang pertama yaitu Allah swt mengkhususkan bulan Ramadhan menjadi syahrul ibadah bulan kita beribadah. Kedua, jika terjadi pengurangan kuantitas dan kualitas kita beribadah diluar bulan Ramadhan, ini merupakan sunnatullah, sebuah alur kehidupan, sebuah peristiwa yang wajar, namun sebagai catatan menurunnya nilai ibadah kita, tidak menurun secara drastis, namun  jika penurunannya secara drastis maka ini yang harus dihindari. Hal ini terjadi karena ujian beribadah jauh lebih besar pada bulan lain selain di bulan Ramadhan.

Jika berada pada bulan yang lain, janganlah mengatakan diri sebagai orang yang kufur, orang yang tidak istiqomah, atau gagal di bulan ramadhan, karena memang sesunngguhnya ibadah yang kita lakukan pada bulan Ramadhan tidak bisa kita kejar, tidak bisa kita lakukan secara maksimal di luar bulan Ramadhan. Oleh karena itu, hal yang harus kita fahami yaitu menurunnya ibadah kita setelah bulan Ramadhan adalah hal yang wajar tetapi penurunnya tidak secara drastis atau tidak menurun secara total.

Bagaimana agar ibadah kita agar senantasa bisa kita pertahankan di luar bulan Ramadhan?

Pertama, Rasulullah SAW memberikan kita petunjuk, beliau mengakatakan “Amalan yang Allah SWT. cintai adalah Al-israr (amalan yang dilakukan terus-menerus), maka kunci utama ibadah kita agar dapat dipertahankan di luar bulan Ramadhan yaitu dengan menjaga kontinyuitas ibadah kita sedikit-demi sedikit. Jika kita berpuasa pada bulan Ramadhan, maka untuk mempertahan kan kebiasaan ini, mari kita amalkan dengan melakukan puasa-puasa Sunnah yang bisa kita pilih sesuai kondisi. Seperti puasa senin-kamis, afdholnya kita perbuasa hari senin dan kamis, namun jika tidak bisa maka bisa memilih diantara keduanya. Cara ini diperbolehkan oleh Rasulullah, ada juga puasa yaumul bidh, puasa daud, puasa 6 hari di bulan syawal, puasa assyuro, puasa arafah, dll. Begitu juga dengan membaca al-quran dipertahankan kebiasaannya walaupun tidak sebanyak yang dibaca ketika bulan Ramadhan. 
Amalan-amalan yang kita lakukan walaupun sedikit namun dilakukan secara terus-menerus maka inilah amalan yang dicintai oleh Allah swt. Dan tidak boleh merasa kecil karena hanya melakukan amalan-amalan kecil yang dikerjakan, dan tidak boleh bangga dengan amalan-amalan besar yang dilakukan karena bisa jadi amalan besar itu telah dihapuskan di sisi Allah SWT.
Dan Masruq meriwayatkan bahwasanya beliau berkata kepada ‘Aisyah Ummul Mukminin Radhiyallahu ‘Anha:


“Amalan apa yang paling dicintai oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam? maka ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha menjawab,’Yang terus-menerus dilakukan.’ kemudian Masruq berkata lagi, ‘Diwaktu apa pada malam hari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bangun untuk shalat?’ maka ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha menjawab, ‘Apabila beliau mendengar ayam jantan berkokok.'” (Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim).

Kedua, mencari lingkuangn yang baik dan mendukung, agar kita berkomitmen dengan amalan yang kita lakukan. Sangat pentinng kedudukan/peran lingkuangan ataupun orang-orang yang berada di seitar kita. Rasulullah SAW. mengumpamakan orang-orang baik itu seperti berteman dengan penjual minyak wangi, walaupun tidak membeli namun ia terkena imbas dari wangi tersebut. Sedangkan orang-orang buruk seperti berteman dengan pandai besi. Inilah pentingnya kita memilih teman, sahabat, komunitas agar menjaga ketaan kita kepada Allah swt. Di era sekarang ini, banyak komunitas yang dibentuk untuk menjaga keimanan kita seperti komunitas, one day one juz, komunitas pengingat sholat tahajud, komunitas, berbagi/social, dan komunitas-komunitas yang baik lainnya. Inilah makna rasullah mengtakan orang-orang yang disampingnya sebagai sahabat, sejatinya orang-orang tersebut merupakan murid-murid beliau. Sebagaimana nabi isa, memanggil pengikut yang berada di sampingnya sebagai murid-murid beliau, namun berbeda dengan nabi Muhammad saw.
Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:






“Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhori & Muslim)

Ketiga, senantiasa untuk memperbaharui dan memperbaiki niat. Jika ibadah kita sudah terjaga, orang-orang disekitar kita adalah orang-orang yang sholeh/baik, tapi jika niat awal kita untuk beramal sholeh bukan karena Allah swt, maka ini juga akan menjadi hal yang sia-sia, hal yang mudah untuk berganti jalur/ arah. Oleh karena itu, inilah pentingnya kita meniatkannya karena Allah swt.
Dari Amirul Mukminin, Abu Hafsh ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari dan Muslim) [HR. Bukhari, no. 1 dan Muslim, no. 1907].
Quran Surat Al-Bayyinah Ayat 5





Arti: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus” (Q.S Al-Bayyinah:5).

Dalam sebuah kisah disebutkan tentang imam Annawi rahimakumullah, beliau adalah orang yang Allah berikau taufiq/iwafiqqu. Dikisahkan beliau dipaksa bermain dengan teman yang seumuran/sebaya dengannya, namun beliau menolaknya dan lebih memilih untuk membaca Al-Qur’an dan menghabiskan waktuya untuk membaca alquran, sampai beliau menangis karena tidak mau dipaksa untuk bermain. Inilah yang dikatakan oleh para ulama bahwa beliau diberikan taufiq oleh Allah SWT..


Kapan kita harus memperbarui niatkan kita?

Para ulama mengatakan sebelum kita beramal, saat kita beramal, dan setelah kita beramal. Karena bisa jadi amalan-amalan yang kita lakukan tercamppur dengan sesuatu yang bukan kaena Allah swt. Tercampur dengan riya, sum’ah dan lain sebagainya.
"Jadikanlah diri sebagai hamba Allah bukan sebagai hamba Ramadhan"

Sekian, Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Refrensi: Kajian Umum Ust. Fitrah, S.Pd.