Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Pada bulan Dzulhijjah ini, suatu pristiwa yang membuat semua umat muslim melakukan ibadah khusus pada bulan dzulhijjah ini, tentu tidak asing bagi kita yang tak lain adalah pristiwa Nabi Ibrahim as. yang menyembelih anaknya Ismal as. Sehingga untuk memperingati peristiwa tersebut maka setiap tgl 10 dzulhijjah selesai sholat idul adha dan hari tasyrik di anjurkan berkurban bagi yang mampu. Selain itu, dilakukan juga hari raya idul adha yang merupakan salah satu sholat id. Bulan dzulhijjah juga dikenal dengan bulan haji karena kegiatan haji bagi umat muslim dilakukan pada bulan dzulhijjah ini. Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai sholat idul adha, kurban, dan ibadah haji, perlu diketahui keutamaan dari bulan haji ini. Adapun keutamaannya yaitu:
  1. Bulan yang tidak memiliki kekurangan
  2. Bulan disempurnakannya agam islam
  3. Bulan yang di dalamnya ada 10 hari yang beribadah di dalamnya lebih mulia daripada jihad.
  4. Bulan yang di dalamnya terdapat hari Arafah yang apabila berpuasa pada hari tersebut, niscaya dosanya setahun sebelumnya dan sesudahnya diampuni oleh Allah SWT.
  5. Bulan yang di dalamnya terdapat hari idul adha dan hari tasyrik yang merupakan hari makan dan minum.
  6. Bulan yang tidak ada hari di dalamnya, Allah lebih banyak menyelamatkan hamba-Nya dari siksa neraka. (pada hari Arofah)
  7. Bulan yang di dalamnya terdapat haji besar
  8. Bulan yang di dalamnya terdapat hari yang paling agung
Keutamaan ini, diperkuat dengan adanya hadist shahih disetiap keutamaannya dan juga firman Allah yang disampaikan kepada nabi Muhammad SAW. Saat ia sedang berkhutbah di Arafah pada hari jum’at di bulan dzulhijjah mengenai penyempurnaan agama islam.

Selain keutamaan di atas, pada bulan Dzulhijjah juga disunnahkan untuk melakukan ibadah-ibadah sebagai berikut;

  1. Berpuasa sunna pada 9 hari awal di bulan Dzulhijjah (HR. Abu Dawud dan Nasa’i)
  2. Puasa Arifah selain yang melaksanakan haji (HR. Muslim)
  3. Melaksanakan haji bagi yang mampu (HR. Bukhari)
  4. Melaksanakan amal shahih (Sholat sunnah, shodaqoh, puasa, tilawatul Qur’an, dll) terutama pada 10 hari awal Dzulhijjah (HR. Bukhari)
  5. Berkurban bagi yang memiliki kemampuan

A. Hari Raya Idul Adha

Hari raya idul adha dilaksanakan pada tanggal 10 dzulhijjah. Adapun waktu pelaksanaannya Ketika matahari naik setiggi tombak hingga tergelincir kearah barat, namun disunnahkan untuk melakukannya di awal waktu karena dilanjutkan untuk menyembelih hewan kurban. Pelaksanaannya tidak jauh berbeda dengan pelaksanaan idul fitri. Hukum melaksanakan sholat Idul Adha yaitu wajib, baik bagi laki-laki dan perempuan yang sudah baligh. Namun, sumber lain juga mengatakan hukumnya sunnat muakkad bagi laki-laki dan perempuan, mukim atau musafir. Boleh dikerjakan sendirian dan sebaiknya dilakukan berjama'ah. Pelaksanaan sholat ‘id dilakukan di tanah lapang kecuali dalam keadaan terdesak. Pelaksanaan sholatnya diawali dengan takbir tanpa adanya azan dan iqomah dengan rakaan pertama sebanyak tujuh takbir dan rakaat kedua dengan 5 takbir. Sunnahnya Pada rakaat pertama membaca surat Al-A’la dan rakaat kedua membaca surat Al-Ghasiyah/ Qaf/ Waqtarobat. Adapun pembacaan khutbahnya yaitu seperti sholat jum’at dengan pemisahan/diselingi dengan duduk ringan, namun ada juga yang berpendapat tanpa adanya duduk ringan. Ketentuan takbir idul Adha dan idul Fitri berbeda. Idul Adha dianjurkan bertakbir semenjak dari shubuh hari Arofah (10 Dzulhijjah) hingga Ashar hari tasyrik terakhir (13 Dzulhijjah).


Adab dan sunnah-sunnah Idul Adha:

  1. Mandi
  2. Berpakaian terbaik dan berparfum
  3. Mengakhiri makan hingga setelah sholat ‘Id atau memakan sembelihannya.
  4. Berjalan kaki menuju tempat sholat dengan jalur yang berbeda saat datang atapun saat pulang.
  5. Bertakbir
  6. Mendengarkan khutbah dengan seksama
  7. Mengucapkan tahni’ah (selamat) degan tahni’ah yang ma’tsur (memiliki pijakan Riwayat), seperti Taqobballallahu minna wa minkum.
  8. Sholat Tahyatul masjid Ketika sholat di masjid jika di tanah lapang tidak perlu.
Kesalahan, bid’ah ataupun kemungkaran yang mungkin terjadi pada perayaan idul Adha:
  1. Mencukur jenggot oleh kaum lelaki
  2. Bertabarruj (bersolek) dan membuka aurat bagi kaum wanita saat berhadapan dengan yang bukan mahramnya.
  3. Berjabat tangan dengan bukan mahram serta ber-iktilath (bercampur baur)
  4. Ber-tasyabbuh (meniru orang kafir)
  5. Mendengarkan music, yang diperbolehkan hanya duff (rebana)
  6. Mengamburkan harta (tabdzir)
  7. Mengkhususkan ziarah kkubur (saat Idul Fitri ataupun Idul Adha)
  8. Meninggalkan sholat ‘Id tanpa alasan yang dibenarkan
  9. Tidak mandi dan berpakaian buruk
  10. Makan sebelum sholat idul adha
  11. Pulang melewati jalan yang sama saat datang dan pulang
  12. Pergi ke tanah lapang (Musholla) tanpa ada udzur dengan kendaraan
  13. Tidak bertakbir
  14. Adzan dan iqomah
  15. Melaksanakan sholat sunnah sebelum dan sesudah
  16. Bermain petasan

B. Kurban

Menurut Syaikh ’Abdul ’Azhim Badawi dalam al-Wajîz fî Fiqhis Sunnah (hal. 402), maknanya adalah:

“Hewan ternak yang disembelih pada hari nahar (kurban) dan hari-hari tasyrik dengan tujuan taqorrub (mendekatkan diri) kepada Allôh Ta’âlâ.”

“Hewan yang disembelih dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allôh Ta’âlâ pada hari nahar dengan syaratsyarat yang khusus. Tidaklah termasuk udhhîyah Hewan yang disembelih Tidak untuk tujuan taqorrub kepada Allôh Ta’âlâ, seperti hewan sembelihan yang disembelih untuk dijual, atau dimakan, ataupun untuk memuliakan tamu. Dan tidak termasuk udhhîyah pula hewan yang disembelih selain pada hari-hari ini (yaitu hari nahar dan tasyrîq) walaupun disembelih dengan tujuan taqorrub kepada Allôh Ta’âlâ.”

Berkurban/ menyembelih hewan kurban disunnahkan pada waktu Dhuha sesuai dengan yang dilakukan oleh Rasulullah SAW..

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنْحَرْ

“Maka sholâtlah untuk Rabb-mu dan berkurbanlah.” (QS al-Kautsar:2)
Dikatakan di dalam tafsirnya: “Sholatlah kamu pada sholat ‘îd dan berkurbanlah.”
Adapun hukum dalam melakukan kurban yaitu wajib bagi yang memiliki kemampuan.


“Barangsiapa yang memiliki kelapangan (harta) namun tidak mau berkurban, maka janganlah ia sekali-kali mendekati tempat sholât kami.” [Shahîh Ibnu Mâjah (no. 2532).]

Kriteria hewan kurban:
  1. Kurban tidak boleh kecuali sapi, kambing, dan unta sesuai dengan firman Allah QS Al-Hajj: 34.
  2. Boleh berpatungan untuk membeli seekor sapi bagi 7 orang, unta 10 orang dan kambing hanya untuk satu orang.
  3. Usia hewan kurban. Untuk kambing tidak sah apabila usianya kurang dari satu tahun, lembu apabila kurang dari dua tahun dan belum memasuki tahun ketiga, dan unta apabila usianya kurang dari empat tahun belum memasukin tahun kelimanya.
  4. Tidak cacat dengan suatu cacat yang jelas, sesuai dengan hadist Rasulullah SAW. Yang artinya “Tidak sah empat macam hewan kurban berikut ini: 1. Hewan yang snagat jelas kejulingannya, 2. Hewan yang pincang yag sangat jelas pincangannya, 3. Hewan sakit yang sangat jelas sakitnya, dan 4. Hewan tua/kurus yang tiada lagi bersumsum.”
Adapula hewan kurban yang dibenci untuk dikurbankan yaitu;
  • Hewan yang buta
  • Al-Aura’ (kejulingan) yang jelas julingnya, yaitu hewan yang kehilangan salah satu pengihatannya.
  • Lidahnya terputus seluruhnya
  • Sebagian besar idahnya terpotong
  • Al-jud’a yaitu yang trpotong hidungnya
  • Yang terpotong kedua atau salah satu teliganya
  • Pincang sehingga tidak mampu berjalan
  • Al-judzma’ (bunting) kaki atau tangannya
  • Al-jadzdza’
  • Yang ekornya terputus
  • Yang putting susuya terpotong sehingga tidak bisa menyusui
  • Al-jallalah
  • Yang bisu
  • Yang sumbing mulutnya
  • Yang tuli
  • Yang hamil, karena pencrnaannya terganggu sehingga dagingnya tidak enak
  • Yang putus tanduknya

Adapun hewan kurban yang palig afdhol yaitu sesuai dengan hadist berikut:



عَنْ َأنَسٍ قال : ضُحَى النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم بِكبْشَيْنِ َأقْرَنَيْنِ َذبَحَهُمَا بِيَدِهِ وَسَمَّى وَ كبَّرَ 


“Nabî memerintahkan untuk membawakan kambing kibasy yang bertanduk, berwarna hitam di kakinya dan perut serta keningnya hitam, lalu dibawakan kepada beliau untuk beliau sembelih.” [HR at-Tirmidzî].

Adapun etika dalam menyembelih hewan kurban sebagai berikut:

  1. Alat untuk menyembelih harus tajam
  2. Menyebut nama Allah Ketika menyembelih
  3. Menghadap kiblat
  4. Memotong tenggorokan, kerongkongan dan dua urat lehernya dalam waktu bersamaan agar segera mati dan tidak tersiksa
  5. Menenangkan hewan kurban dan tidak membuatnya takut atau tersiksa

C. Ibadah Haji


Haji berasal dari kata Qashdu (maksud, niat, menyengaja), sedangkan kata umrah berarti ziarah. Haji adalah menyengaja menuju baitullah dengan cara dan waktu yag telah ditentukan.


وَأَتِمُّوا۟ ٱلْحَجَّ وَٱلْعُمْرَةَ لِلَّهِ

Artinya: “Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah…” (QS AL-Baqarah [2]:196).

فِيهِ ءَايَٰتٌۢ بَيِّنَٰتٌ مَّقَامُ إِبْرَٰهِيمَ ۖ وَمَن دَخَلَهُۥ كَانَ ءَامِنًا ۗ وَلِلَّهِ عَلَى ٱلنَّاسِ حِجُّ ٱلْبَيْتِ مَنِ ٱسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا ۚ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَنِىٌّ عَنِ ٱلْعَٰلَمِينَ

Artinya: “Dan diantara kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan haji ke baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Barang siapa yang mengingkari (kewajiban) haji, maka ketahuilah bahwa Allah mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari seluruh alam” (QS Al-Imran [3]:97).

Ibadah haji dimulai saat zamannya nabi Ibrahim as., Ia dan anaknya Ismail yang pertama kali membangun ka’bah. Ibadah haji untuk mendekatkan diri kepada Allah, melaksanakan kewajiban yang termasuk rukun islam ke-5. Oleh karena itu, perlu diperhatikan etika/adab yang harus dijaga, imam Al-Ghazali menyebutkan beberapa etika dalam berhaji, yaitu:
  1. Berhaji dengan harta yang halal
  2. Tidak boros dalam membelanjakan hartanya dalam membeli makan dan minum
  3. Meninggalkan segala macam akhlak yang tercela
  4. Memperbanyak berjalan
  5. Bersabar Ketika menerima musibah

hal yang perlu diperhatika sebelum berangkat haji yatu dengan mengoongkan hati dari segala urusan atau meniggalkan dosa yang melekat pada diri. Meninggalkan segala penghalang dan serahkan segala urusanmu kepada penciptamu dan bersihkanlah dosa-dosa (Rakhmat, 1999).

Refrensi:
  • Al-Atsari, Abu Salma. 2007. Bekal-Bekal di Dalam Menyambut Idul Adha.
  • Istianah. 2016. Prosesi Haji dan Maknanya. Esoteric: Jurnal Akhlak dan Tasawuf. Vol. 2 (1): 30-44.
  • Rifa’I, Muhammad. 1976. Risalah Tuntunan Sholat Lengkap. Semarang: C.V Toha Putera.